Tentang Seorang Lelaki Kecil yang Bunuh Diri di Gantung Lemari

Tentang Lelaki Kecil yang Bunuh Diri
di Gantungan Lemari


Karya Muhammad Rois Rinaldi



I
Anak-anak menangis. Pada seragam putih
biru mengambang awan hitam
tapi tidak turun hujan. Guru
berjaga di pintu-pintu kelas
dengan rahang terbuka dan mata
pendidikan yang makin rabun.
Mereka gemetar dan merasa sangat terlambat,
bahkan untuk berkata kepada siapa saja.
Di taman sekolah
biasanya seorang lelaki kecil duduk di sana
—di bangku barisan paling ujung—
menulis cita-cita dengan telunjuknya
di tanah lembab. Tetapi kini
lelaki kecil itu tidak ada.

II
Angin kabung dengan sinis terus berkisah
tentang lelaki kecil yang kehilangan cinta.
Makin hari lelaki kecil itu makin mengerti,
tidak guna menanti sebuah pelukan
dari seorang perempuan yang ia panggil ibu.
Di dalam ingatannya,
ibu menjelma patung lilin di dalam etalase
kaca megah. Sang dewi yang didamba-damba itu
telah kehilangan hasrat kepada
apa yang pernah lahir dari rahimnya.
Ayahnya, yang dahulu selalu
menyelimuti dan mengecup keningnya
sebelum kesadarannya hanyut
dalam malam larut tidak bisa ditunggu lagi.
Ia kini mengembara dari satu cinta
ke cinta yang lain.

III
Petang itu, lelaki kecil masuk kamar.
Dari tangannya satu gulung tambang
—yang ia beli dari warung sebelah—
diikat pada dua tungkai lemari.
Sejenak ia tersenyum, sejenak ia terisak.
Menatap tambang itu, ia seperti menatap
malaikat maut menggelengkan kepala.
Tetapi dunia sudah tidak bisa didiami.
Ia, sudah kehabisan alasan untuk hidup
karena menanggung derita batin
berarti menerima siksa kematian
berkali-kali.

Ia memejam mata.
Sepasang kaki mungilnya ditekuk.
Udara perlahan meninggalkan paru-paru
juga jantungnya. Dunia jahat
makin liat. Makin pengap. Makin gelap.
Siksa maut tiba: siksanya terenggut
dari kehidupan dengan sia.
Sebelum segala terlepas, ia menjerit:
“Tuhan, aku pulang!”
Wajah bunda yang sibuk bercinta
melintas-lintas pada batas napas.
Nyanyian ayah bergerak begitu lambat
di dekat batinnya. Lemari dua pintu
berderak-derak dalam sunyi kematian.
Sekian detik. Sekian menit. Sekian jam.
Sunyi itu terus berpusing
lalu berpusar di pemakaman.

IV
Seorang perempuan tua berbaring
di kamar cucunya yang mati bunuh diri.
Dipandanginya langit-langit kamar, putih.
Ia seperti mendengar lagi rengek
lelaki kecil yang mendamba dongengan ayah
dan hangat pelukan ibu.
Ia yang disakiti prahara cinta orang dewasa,
telah terbebas dari dera kehidupan.
Nyawanya yang pernah lahir
mungkin setipis selaput perawan
pada malam pertama. Biarlah hilang.

Perempuan tua membayangkan
hari pesta pernikahan Santi
—gadis hitam manis, anak semata wayangnya—
lalu tahun-tahun pertama
yang teramat romantis berubah begitu saja
pada tahun kedua, lantaran mereka
saling mempertanyakan kesetiaan,
rasa cinta, dan kebosanan.
Terbayang hari-hari perceraian
yang dibakar amarah dan kesumat itu.
Semua yang haru biru telah berlalu.
Santi kini di kota lain, ikut suami barunya.
Ia tidak tahu di mana bekas suami Santi
—si Hardi, lelaki gagah bermata tajam itu—
begitu lama ia tidak berkabar.
Hak asuh anak diberikan kepada Santi.
Ia mengerti rumah tangga anaknya
yang baru enggan diganggu bayang masa lalu,
tapi ia tidak mengerti, mengapa
lelaki kecil yang lugu harus jadi korban.

Meleleh mata perempuan tua itu!
Dirabanya bayang cucu tersayang
yang lekas hilang di antara gerak kelambu
Bibirnya yang ungu genderiya terus bergetar.
Sejenak ia tertegun lalu berpikir,
mungkin ada baiknya cucunya mati.
Ada baiknya ia terlontar dari kehidupan
yang membuatnya menderita.
Karena keisengan di bumi
hanya sekelumit kisah yang mengecewakan
dan kehidupan semata ilusi sedih
yang gampang ditebak akhinya.


VI
Di dalam kubur,
lelaki kecil lelap lebih dari tidur.
Bibirnya menyungging, menyinggung
beribu pesta perkawinan.
Berpasang-pasang manusia yang bercinta,
beranak pinak, lalu bosan itu.
Mereka yang mudah berpisah
dan berpindah cinta tidak peduli
kepada kekecewaan anak-anak.
Tidak peduli kepada pedihnya
hidup manusia-manusia lugu
yang dimiskinkan dari kasih sayang.
Dan tidak peduli seberapa banyak lagi
anak-anak yang memilih mati
bunuh diri di gantungan lemari.

Kramat, 2015