Puisi Muhammad Rois Rinaldi, di Patani

Di Patani
Karya Muhammad Rois Rinaldi

Entah bagaimana musim tanam di sini
Pesawahan sepi. Di setiap persimpangan
mobil tank mendongak ke langit
—burung-burung gagap terbang di atasnya—
terlalu banyak tentara.
Pos penjagaan di setiap perbatasan
distrik tampak sibuk menggeledah
siapa saja yang melintas.
Sebelum matahari meninggi
sebelas lelaki ditahan.
Dua lelaki di antaranya tampak marah.
Mereka ingin melawan.
Tetapi di negerinya,
perlawanan selalu berakhir sia-sia.
Dua lelaki yang terpaksa menundukkan
kepala itu, menyimpan
sebuah dunia yang mengecewakan.

Mendekati waktu petang. Aku melintasi pasar.
Tidak ada tanda. Tidak ada isyarat.
Tetapi dalam seketika
semua orang mematung.
Tidak ada lampu merah, hanya lagu
yang diputar dari pengeras
suara yang entah di mana.
Dalam detik-detik yang diam itu
aku menemukan gumam
terpendam dalam dendam yang lelah.
Aku menemukan ratusan tubuh
rikuh yang bosan kepada kepatuhan
-kepatuhan yang dipaksakan.
(O jagat manusia!
Ancaman berletupan di kepala).
Seperti angin, ada suara tapi tidak
tampak dari mana suara itu.
Seperti angin, ada gelunjak kemarahan,
tapi yang terasa hanya gelombang
panas di muka.

Pasar kembali sibuk.
Aku makin jauh dari jalan-jalan besar.
Jalanan tirus berbisik kepadaku
tentang kemah-kemah
pengungsian orang-orang yang kalah.
Sudah beratus tahun lalu
kekalahan itu dinarasikan sejarah
dalam seribu satu mimpi buruk.
Mereka yang pernah berjaya, kini
terkungkung dan terdesak.
Sejak hari penaklukkan,
tidak ada lagi kabar gembira.
Kesedihan serupa kerak pada
wajan tua yang teronggok di gudang.
Tetapi orang-orang belum putus asa.
Di perkampungan
rumah-rumah panggung dihuni
orang-orang bermata tulus.
Tanah putih yang tebal
—yang berterbangan permukaannya—
menjaga setiap bisik.

Di perkampuang waktu siang,
tidak tampak seorang pun pemuda.
Pagi-pagi sekali mereka pergi
ke pasar, ke kebun, dan ke laut.
Orang-orang tua duduk di beranda
di antara tawa kecil anak-anak kecil
yang berebut bola plastik.
Tawa mereka, tanpa beban.
Di sini aku merasakan
aroma tubuh petarung
yang tiarap menanti tangan musim
menabuh genderang perlawanan.
Aku tidak tahu di mana
para petarung sembunyi.
Barangkali di pasir atau di langit
atau di degup jantung anak-anak
yang bermain bola plastik.

Ba’da Isya’,
hawa dingin terasa lebih tenang,
ketimbang dingin kemarin malam.
Di dekat masjid agung,
pasar rakyat dipadati rakyat.
Suara tawar menawar adalah dzikir
yang kudengar dengan kusyuk’:
gorden 20 Baht.
Celana panjang bekas 8 Baht.
Sepatu bekas 25 Baht.
Gantungan dan bros berwarna emas
bermotif bunga kamboja 15 Baht.
Di bawah lampu-lampu
yang tidak seberapa terang
di bawah bias bulan tsabit itu
sejenak aku melihat
setiap diri menemukan kemerdekaan.
Tetapi mobil tank mendesak
kerumunan manusia.
Para tentara bersiaga di semua sudut.

O, betapa angkuh wajah-wajah itu.
Pasar malam yang hanya berisi tenda
makanan, pakaian, dan mainan
dijaga seperti gudang senjata.
Kulihat tujuh tentara berdiri jalan utama.
Di tangan mereka, ada laras panjang.
Wajah mereka mendongak,
kaku dan dingin.
Mereka memperhatikan pasar
seperti memperhatikan sarang perompak.
Mereka memang tidak bicara apa-apa
tapi mata mereka berkata:
di sini satu dua bom kapan saja
bisa meledak

Di belahan dunia
turis-turis mendatangi negeri-negeri
tanpa ancaman.
Tetapi di sini, orang-orang
di negerinya sendiri terancam saban waktu.
Suara terlalu berisiko.
Semua bicara dengan nada tipis.
Di sini darurat militer,
siapa saja seketika bisa mati
oleh satu tembakan di pusat dada,
begitu sekilas gumam
yang melipir di antara keriuhan yang
tiba-tiba jadi aneh.
Aku juga mendengar kisah pengepungan
waktu subuh di Witthaya,
serangan tidak terduga di Yala
tragedi berdarah di Masjid Kerisek
dan kematian yang mendekap
anak-anak di Narathiwat.
Itu adalah sekelumit ketakutan
yang kutangkap. Semua
yang atas nama Undang-undang
adalah sah.
Semua mangsa di tangan tentara
adalah hak.
Tidak mengangetkan.
Dunia ini telah lama
mempertontonkan pembantaian
atas nama kedaulatan.

Pagi yang biasa saja.
Orang-orang berangkat ke sekolah.
Kedai-kedai penuh.
Jalanan macet.
Hidup bergerak, juga kehidupan.
Tetapi di antara peluit di mulut masinis
dan sirine ambulan
aku mendengar pekik orang-orang
yang mendamba kemuliaan trah
dan kesucian sejarah.
Mereka yang diam-diam menolak negara
yang sah, bukan bertahan dalam kekosongan.
Beribu lelaki, belasan tahun terdesak
jauh ke hutan-hutan
lantaran mereka diintai oleh tembakan
demi tembakan yang kadang tepat
sasaran, kadang meleset.

Tidak ada pertanyaan lagi di sini.
Masing-masing memiliki jawaban.
Semua tahu siapa di posisi apa dan
siapa berdiri di pihak yang mana.
Tetapi di dalam kungkung warna bendera
semuanya tampak tidak seberapa jelas
karena ketidakjelasan adalah tedeng aling-aling
untuk mengelabui mata kekuasaan
yang gemar mencuci peluru dengan darah.
Mereka tidak tahu sampai kapan
akan terus begitu, sedangkan
tragedi tembak menembak
penculikan para pemuda
pembakaran sekolah
dan kematian demi kematian
terus terjadi.

Jam satu siang, sebelum kutinggalkan Patani
Seorang gadis meletakkan cangkir
kopiku di meja nomor 17.
Gadis belasan tahun itu tidak menatapku,
tidak juga menatap siapapun.
Ia mondar-mandir dari meja kasir
ke meja para pemesan kopi.
Tubuhnya yang tinggi, dibalut gaun hitam.
Tidak tahu seberapa panjang rambutnya,
jilbabnya menjuntai hingga dada.
Ia tampak tergesa melintasi lorong-lorong
meja. Aku hanya pendatang
tapi aku seperti begitu dekat
dengan kegugupan gadis itu.
Begitu akrab dengan setiap kebisuannya.
Ia yang lahir dan dididik oleh kekacauan
tidak punya kata untuk berkisah
bagaimana rasanya melihat mayat
adik, kakak, ibu, dan ayah
terserak di halaman masjid.

Gadis itu dan semua yang lahir di sini
tidak bisa mendera-derakan suara:
“Janganlah biarkan kami terjebak
dalam peperangan tidak seimbang ini!”
Gadis itu dan semua orang yang ada di sini
setiap waktu dikalahkan
oleh senjata yang direstui Sang Raja.
Gadis itu dan semua orang yang ada di sini
harus merelakan madarasah
dan kitab-kitab terbakar
tanpa bisa bertanya, mengapa.

Patani,
pada hari menjelang petang, kutinggalkan.
Suhu tubuhku tiba-tiba naik.
Aku gigil. Kepalaku diteror oleh kata-kata
yang tertera pada gerbang terminal Hat Yai
pada embun kaca jendela bus
pada wajah petugas imigrasi
pada angkuhnya plang-plang perbatasan.
Dunia. Dunia dan batas-batasnya
adalah kehendak yang melampaui
cita-cita manusia.
Dunia. Di dunia terlalu banyak senjata.
Terlalu banyak kematian
yang dipestakan di dalam
napsu kedaulatan yang berlebihan.

Thailand, 2016

Puisi ini sudah diterbitkan di dalam buku Nada-nada Minor Cetakan Pertama, Gaksa Enterprise 2017.