image1 image2 image3

HELLO I'M Muhammad Rois Rinaldi|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I LOVE TO DO CREATIVE THINGS|

Puisi Muhammad Rois Rinaldi #Seorang Buta dan Orang-orang Gila




Gila!
Pada musim penghujan
pemuda-pemuda berwajah pucat
perempuan-perempuan tua yang gemetar
mencari-cari galengan.
Mereka mencari musim rendeng,
musim winih dan musim ngoyos.
Sedang sekumpulan lelaki paruh baya
datang terhuyung-huyung
dari pesisir laut.
Mereka memanggul drum-drum besar.
Kulit mereka mengelupas.
Wajah mereka hitam dan gelap.
Mereka datang untuk mencari garam.
Di gudang-gudang, garam musnah.
Mereka mencari laut di pesawahan
yang telah berubah
jadi lempengan aspal dan baja.

Pemuda-pemuda berwajah pucat
perempuan-perempuan tua yang gemetar
dan sekumpulan lelaki paruh baya
bertemu, saling tatap,  lalu menangis.
Tetapi mereka tidak tahu,
untuk apa menangis.
Mereka tidak merasakan apa-apa.
Kadang-kadang mereka tersadar pula
dan merasakan rasa sakit yang berlebih
lalu saling menertawakan.

Perempuan-perempuan tua saling jambak.
Pemuda-pemuda yang pucat
adu tinju di muka.
Sekumpulan lelaki paruh baya
menabuh drum.
Drum drum pup. Drum pup. Drum drum pup.
Drum pup. Drum drum pup. Drum pup.
Drum drum pup. Drum pup. Drum drum pup.
Drum pup.
Seorang buta—yang mencongkel matanya
pada musim lalu—mengangkat tongkat.
Sebagaimana Musa yang mendengar bisikan Tuhan
di antara tubuh-tubuh bau luka
ia berkata:

“Pergilah ke pasar-pasar
untuk jadi tukang angkut barang atau preman.
Belilah apa-apa yang kalian butuhkan
dengan uang atau dengan darah kalian!
Di sini tidak ada lagi musim tanam.
Tidak ada garam!”

Seorang buta yang gagah telah lama
ditinggalkan istri pergi ke pelukan lelaki lain
karena kemiskinan
tidak bisa menawar cinta.
Matanya yang terpejam menyimpan cahaya.
Ia melihat  orang-orang gila
makin tidak karuan
mencari petakan sawah di antara pagar baja,
tangki kimia dan asap hitam.
Ketika matahari meninggi
pemuda-pemuda yang pucat membenturkan
kepalanya di pagar-pagar
dan para perempuan tua
mencabuti rambutnya sendiri.
Ada seorang dari mereka mencungkili
kuku-kukunya; ada yang memukuli perut;
dan ada yang meronta-ronta
memaki-maki langit.
Seorang buta teriak: “Bacalah kenyataan.
Jangan percaya kepada halusinasi Iblis!”

Orang-orang gila seketika berdesakan
melingkari seorang buta.
Perempuan-perempuan tua yang gemetar,
mereka bertanya:
“Di mana sawah kami? Kami ingin menanam
seperti yang kami lakukan dulu
dan seperti yang dilakukan
oleh moyang-moyang kami.”
Pemuda-pemuda berwajah pucat tertawa.
Sekumpulan lelaki paruh baya
menabuh drum.
Drum pup.
Drum drum pup. Drum pup.
Drum drum pup.
Drum pup. Drum drum pup. Drum pup.
Drum drum pup. Drum pup.
Drum drum pup.

Seorang buta merasakan tubuh orang-orang gila
makin dekat, makin merapat.
Seorang buta gemetar.
Tongkatnya terjatuh.
Ia sudah terkepung.
Drum pup. Drum pup.
Drum pup. Drum pup. Drum pup.
Drum pup. Drum pup. Drum pup. Drum pup.
Drum pup.
Drum pup. Drum pup.

Mulut orang-orang gila yang menganga
mengeluarkan suara-suara aneh.
Seperti aum. Seperti raung.
Seperti desis.
Seperti meong. Seperti lolong. 
Seperti cericit.
Langkah orang-orang gila juga
tangan-tangan mereka yang bernapsu
tidak dapat dihentikan.

Bukankah kalian  sering didatangi burung hantu?
Burung itu biang keladinya.
Bisikan Iblis tidak akan sampai kepada kalian
jika burung itu tidak datang.
Bunuh burung itu! Bunuh burung itu!
Atau tanyakan kepadanya
bagaimana cara menemukan singgasana Iblis.
Bunuh Iblis laknat itu
Jika kalian ingin terbebas dari kegilaan.”

Orang-orang gila, satu persatu
meninggalkan seorang buta dengan lemas.
Jiwa mereka merana.
Kenyataan adalah siksa
dan harapan adalah musuh.
Suara Iblis dan kabar tentang surga
bagi musim tanam dan musim panen
bagi musim jemur air laut
dan musim panen
makin jauh dari penglihatan.
Tetapi sebelum sempat seorang buta
menghela napas
orang-orang gila berbalik arah.

Angin mengencang.  
Seorang buta, gemetar sekujur badan.
Dunia yang mengancam
dikira telah berlalu
tapi orang-orang gila telahlah kembali
melingkarinya.

Orang-orang gila makin menjadi-jadi
makin liar seliar-liarnya.
Mereka menepuk-nepuk dada
sekuat tenaga
dan menghentak-hentakkan kaki di tanah
seperti kaum barbar
sebelum upacara persembahan.
Seorang buta di mata mereka
adalah sesembahan bagi Iblis
demi kegilaan yang kekal.

Drum pup.
Drum pup. Drum pup. Drum pup.
Drum pup. Drum pup.
Drum pup.
Drum.
Drum.
Pup.
Pup.
Drum
Pup.

Seorang buta panik. Ia memekik.  
Oh Musa,
mengapa kau bawa pergi tongkatmu
sedangkan kau tinggalkan kaummu di sini.
Samiri! Samiri telah menaruh pasir
di patung lembu dan Iblis
menegakkan kepala berhala-berhala.
Nuh! Nuh! Di mana perahumu?
Di mana air bah itu?
Aku ingin memulai pelayaran
meninggalkan orang-orang gila ini!”

Bau tubuh terbakar matahari.
Bau tubuh tercabik.
Bau koreng. Bau darah.
Bau nanah. Bau marah.
Orang-orang gila terus bergerak.
Seorang buta tidak bisa bergerak.
Kepalanya dihantam
dengan batu.
Terulang kembali tragedi
Qabil dan Habil.
Pertumpahan bani Adam
itu.

Seorang buta tersungkur.  
Para perempuan tua menelentangkan
tubuh seorang buta.
Mereka meraba dada bidangangnya
dan mencabuti bulu-bulunya yang lebat.
Seorang buta telungkup.
Dunia gelap.
Batinnya terguncang dan teraniaya.
Tidak ada suara kepak gagak.
Mestinya tidak ada kematian.
Tetapi seorang buta merasa
begitu dekat dengan maut.
Bakiaknya dirampas.
Orang-orang gila berebut
mencabik-cabik punggungnya.
Seorang buta menggenggam tanah
tenaga tidak ada.
Benda-benda dunia
tidak lagi dapat dijadikan pegangan
sedang langit tidak mengabarkan
apa-apa.

Dari jauh terdengar teriakan anak-anak:
“Jangan bunuh seorang buta itu.
Hanya dia yang dapat melihat kenyataan!
Kami tidak mau jadi orang-orang gila!
Seorang buta! Seorang buta!
Selamat kami!”

Orang-orang muda
yang pucat dan berdarah-darah
Perempuan-perempuan tua
botak dan korengan
dan sekumpulan lelaki paruh baya
yang melepuh kulitnya makin bernapsu.
Mereka melepaskan
kedua tangan seorang buta dari tubuhnya.
“Lihatlah anak-anak malang itu.
Kalian boleh memangsaku, tapi jangan
kalian tega memangsa
nasib anak cucu kalian sendiri.”

Orang-orang gila murka.
Tubuh seorang buta diseret.
Anak-anak yang mulanya menangis
menyaksikan kesakitan
yang ditanggung seorang buta
jadi tertawa terbahak-bahak.
Mereka bertepuk tangan
dan bernyanyi.
Tubuh seorang buta
makin jauh
makin koyak-moyak!

Di tepi tebing  orang-orang gila
menumpuk batu
mengumpulkan kayu.
Langit  yang merah marun
sekejap jadi gelap.
Orang-orang gila memisahkan kaki
dan kepala seorang buta.
Seorang buta sudah tidak bernyawa
tapi amuk orang-orang gila
masih bergelora.
Anak-anak menyalakan api.
Orang-orang muda berlumur darah
melempar tubuh, tangan, dan kaki
seorang buta ke api.
Perempuan-perempuan tua
botak penuh nanah,
meniup semprong,
menjaga nyala api.

Tidak ada yang tidak tertawa.
Tidak ada yang tidak mengitari api
menari mengikuti tabuhan drum.
Drum pup. Drum pup.
Drum pup. Drum pup. Drum pup.
Drum drum pup. Drum pup. Drum drum pup.
Drum pup. Drum pup. Drum pup. Drum pup.
Drum pup.

Malam yang indah bagi orang-orang gila.
Udara berkabut diaromai kulit dan daging
terbakar.
Jauh di atas api,
seekor burung hantu mengepak,
menangkap setiap detik kejadian.
Iblis di dalam tempurung
kepala orang-orang gila
merayakan kemenangan
karena suara kebenaran
habis hangus tanpa sisa.

Pagi hari cerah.
Anak-anak berkejaran
berebut bola.
Kepala seorang buta  
menggelinding
dipermainkan
anak-anak yang merindukan
waktu tertawa.

Drum pup.
Drum pup. Drum pup. Drum pup.
Drum pup. Drum pup.
Drum pup.
Drum.
Drum.
Pup.
Pup.
Drum
Pup.
Drum.
Pup.
Pup.
Drum.
Pup!

Cilegon, 2018

Puisi ini sudah dimuat di buku Nada-nada Minor cetakan ke-2, Gaksa Enterprise, Banten, 2018.

Share this: