image1 image2 image3

HELLO I'M Muhammad Rois Rinaldi|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I LOVE TO DO CREATIVE THINGS|

Memahami “Koran Mingguan” Sajak Protes Muhammad Rois Rinaldi






Oleh Dr. Esti Ismawati, M.Pd




SAJAK KORAN MINGGUAN

I/
Ada balita busung lapar  dikubur pagi ini!
“Sebab tidak diberi makanan
empat sehat lima sempurnaAsi pun tidak cukup.
Tubuhnya kurang gizi, jelas mati!”
pungkas petugas
puskesmas yang culas.

Padahal tahu, Ibu dari Banten Selatan
dadanya kurus kering
sehari-hari badog nasi aking
wajar datar seperti papan selancar
tidak ada susu
diperas-peras pun tidak ada susu!

Sebelum mati, bayi itu tidak dirawat,
tergeletak berjam-jam di UGD
dokter tidak dapat memeriksa
Jamkesmas tidak lakulama cairnya
sekarang pasien dirawat,
bulan depan dan bulan depannya lagi baru cair
puskesmas butuh biaya operasional
mesti pilah-pilih
siapa yang dirawat siapa yang dilewat
soal hidup mati,  serahkan saja pada Tuhan.

Ibu kurus kering itu gagu  ditanya wartawan
jiwanya ngambangLangit atau bumi
baginya sama menekanManusia berhenti
sekadar ingin tahu lalu pura-pura bersimpati 
diam-diam ‘ngumpati.

(Dalam begitu, jangan bertanya,
mengapa orang-orang
ringan saja melihat  mayat bayi
diboyong ojekbayarnya pakek kasihan
sedang mobil-mobil plat merah
‘nganggur di parkiran mallnunggu istri
arisan. Jangan ditanya mengapa
duka sendiri-sendiri sedang
manusia sepadan hidup di bumi)

Wartawan terumendesak dengan pertanyaan,
betapa sedih betapa duka.
Ibu itu jadi membayangkan
dua anaknya yang tidak makan Sekolah Dasar
di gubuk bersidepan dengan maut
dengan lapar di lambung
usus perut mereka yang buncit
meneguk dukanya ditelantarkan
dari waktu ke waktu
dengan mata yang calang
anak-anak itu menatap masa depan:
harapan tanpa kepastian.

Merataplah perempuan paruh baya itu:

Leusteuing anak kula
pang alit maot
aya dua anak deui
nangguan maot
kula gé sakedeng deui
maot
leusteuing kabehan maot.

Ia tidak bisa bahasa Indonesia,
tidak tahu Indonesia!

II/
Siswa Sekolah Menengah diusir
sebab bangku dan buku kudu dibeli
pakai uang bukan
nasib malang yang dikisahkan—sudah tidak laku.
Apalagi kemelaratan juga tangisan-tangisan
mana punya harga!?

Kepala Sekolah yang baik hati
tidak perlu ambil pusing.
Soal pendidikan bukan soal kebijakan
tidak sama sekali soal kebajikan.

 “Kami tidak bisa mempertahankan
siswa yang tidak kontributif!
Sekolah bukan yayasan sosial
semua harus dibayar,  pakai uang!
Ingat, pakai uang!” katanya sambil menghitung
jumlah tunggakan dan beberapa nama
yang ditandai, untuk diusir esok hari.

Sebelumnya, sang siswa merengek:
“Bulan depan Ujian Nasional, Pak!”
“Ya, saya tahu. Kamu tidak perlu repot ikut ujian!”
“Tidak ada kebijakan untuk saya?”
Kepala sekolah menunjukkan catatannya.
“Tiga tahun kamu selalu menunggak,
apa saya kurang bijak!?”

Kepala Sekolah membanting buku tebal
di meja. Siswa itu terisak.
Kertas berisi surat keputusan dilempar
ke wajah siswa malang itu.


“Satu bulan lagi, Pak...,”  siswa itu lesu
merundukkan kepala.

Tahu sia-sia.
Sebuah bogem mendarat di wajah Kepala Sekolah.

Wartawan terus bertanya dan mencatat.
Ia juga kudu hati-hati, tidak boleh salah  pilih
bumbu beritaHarus sedap sedap memabukkan
kalau tidak kepingin sepi amplop
(tanpa amplop, anak bini mau makan koran?)
soal dusta dalam beritatidak dosa
yang dosa itu‘nyolong sandal di masjid!

“Bapak melaporkan anak itu ke polisi?”
“Ya!”
“Tidak kasihan?”
“Kasihan, tetapi hukum harus ditegakkan!”
“Benar sekali, keadilan harus ditegakkan!”
kata wartawan.
Kepala Sekolah tertawa.

Alahai...

III/
Dua Pegawai Negeri Sipil ditangkap
Satpol-PP di mall
merah padam wajah dua perempuan itu
terbayang budget bedak, gincu, parfum
gelang, kalung, dan tas-tas bermerek.

Kehidupan dan penghidupan sehari-hari
hura-hura dan pesta fora
gaji bulan tiga belas lenyap
juga rutinitas salon, belum lagi arisan
dengan ibu-ibu pejabat.

Aduhai… puan-puan yang terhornat
kepalanya mulai ditumbuhi ketakutan
hari-hari akan jadi berat
udara yang dihirup jadi serbuk besi
yang karat. Para tetangga akan meneror
dengan gosip saban hari.

Rupanya mereka masih punya malu,
tutup wajah saat diseret  antara ratusan pengunjung mall
—orang-orang membunyikan  klakson
panjang-panjangAngkutan kota dan sepeda motor
ledekan-ledekan para calo, ibu-ibu kelontongan
dan ledakan balon dari tangan anak-anak TK.

Suara-suara itu tidak dapat dibungkam!

Jalanan memanjang
sampai jauh dan berliku.

Mereka kemudian dipecat, sementara
hutang 150 juta untuk menyogok
panitia sana  dinas sini  dinas situ  makelar anu
sana sini situ anu belum lunas
terbayang mobil harus dijual juga rumah.

Mereka akan dimusuhi anak-anak mereka
karena bikin jatuh miskin!

“O Tuhan, berat nian cobaanMu!?”
mereka tertawan,  langit bumi tertawa

O lala, cobaan Tuhan?


IV
Ada Walikota
demen masuk tipi, radio dan koran
sumbangan kerudung sajadah
untuk ibu-ibu pengajian
sumbangan pembangunan masjid
dan tetek bengek dikoar-koarkan,
sedang dana membangun
hotel-hotel megah tidak ada yang tahu
sedang dana pemilu
yang bau bangkai dipaksa sembunyi.

Ia kini sibuk
menggadang-gadang program:
dari Rakyat untuk Rakyat
segala gipang, segapa gembleng,
segala emping, segala awug-awug
dikumpulkan di lapangan terbuka.

“Pesta dimulai!” seru ajudan Walikota
setelah terompet pertama ditiup
(teromptet bukan tanda pesta, Tuan,
tapi tanda kiamat telah tiba!)
orang-orang datang dengan senang
dikasih makan dikasih mainan
di lapangan terbuka itu berjamaah mereka
mengucap puji-pujian, syukur katanya
sebab rakyat hidup makmur,
rakyat makmur!

Tampak juga para seniman duduk manis
menunggu piala penghargaan dari Walikota
seniman-seniman mabuk piala!

Lalu baliho dibuka, sebuah tulisan
dibaca bersama-sama:

“TERIMA KASIH WALIKOTA
YANG AMANAH DAN PRO RAKYAT!”

Tulisan itu besar sekali,
sebesar kebohongan orang-orang
yang berdoa berjamaah itu
yang memuji Tuhan  karena amplop tipis,
bingkisan kecil, dan  piala-piala palsu
dari penghargaan dan harapan-harapan palsu

Sebentar mereka merasa senang
pulang nanti diserang meriang.

Walikota berpidato
kalimat-kalimat aneh bermunceratan
bau-bau naganya
seperti menyimpan kebohongan
tetapi orang-orang selalu gemuruh
tepuk tangan.
Ada yang bersuluk-suluk macam ma’ung
ada yang bersiul
seperti  orang baru pulang dari rimba.

Lapangan terbuka itu benar-benar penuh  
orang gundul yang mencari tukang cukur!

V/
Ada halaman sastra memuat karya
para penyair, penyair?

Ya ya ya oblada obladi
Si Murni tukang cicil panci
rakyat susah
senang makan uang riba
penguasa mengunyah segala.

Obladi oblada
tiga biji Kakao bikin
Nenek Minah nyaris dijeruji
kampang memang
tua bangka dimejahijaukan juga.

Oblada obladi  
duka Nyai Marsinah
biar saja jadi kenangan berdarah-darah
Orba telah tiada Orba telah sirna
penyair tinggal duduk manis menatap kata.

Ya ya ya, ya sudahlah
puisi-puisi memang selalu mesra
bumi goyang bumi banjir
tidak ambil pusing.

Sebab hujan deras tidak reda-reda
amat puitis
sebab angin kencang adalah kata
yang menerbangkan bunga-bunga
ke nirwana
nirwana!
                        Tempat dewa-dewa
mabuk bersama.

Ya ya ya puisi adalah kesedihan diri
yang terkungkung
dalam tempurung dendam masa lalu.
Dalam denah asmara yang maha nestapa.

Seperti kata Pat Kai:
“Beginilah cinta, deritanya tiada akhir!”

Ha ha ha.

Tidak tua tidak muda demen embun
tidak tua tidak muda demen melamun.
nagari kacau balau?

Tertawa sajalah

Sini taman melati  sana taman mawar
123 indah semua.

Ha ha ha

Aku juga sedang duduk di taman
baca koran mingguan
seorang pedagang rempah-rempah
lewatKuberikan koran mingguan padanya
untuk bungkus cabai atau lengkuas.

XXX/
Keesokan hari
ibu-ibu di kampung memasukkan
koran mingguan ke tunggku.

Semua akhirnya jadi abu?

Ya elaah
 hu ha!

Kramat, 2011

Sebagaimana diketahui, sastra (dalam hal ini puisi) hadir bukan hanya bertujuan untuk menghibur dan mendidik (dulce et utile) namun juga bisa dimaknai sebagai upaya pelurusan atas penyimpangan yang terjadi, sebuah protes atau pesan yang menyuarakan ketidaknyamanan, ketidakharmonisan, ketidakadilan, dan sejenisnya, yang dirasakan oleh warga suatu bangsa. Keberadaan sastra yang demikian ini akan menjadi penyeimbang dalam kehidupan, dan kehadirannya amat diperlukan hingga kapanpun. Di tangan sastrawan yang kritis dan peka terhadap zaman yang dilakoni, sastra mempunyai peran penting. Tegasnya, sastra mampu dijadikan wahana untuk mengkritisi atau meluruskan apa yang seharusnya dilakukan negara kepada rakyatnya melalui suara protes. Muhammad Rois Rinaldi, sastrawan muda yang penuh kepekaan kritis menangkap berbagai ketidakadilan yang terjadi di masyarakat itu lalu menuangkannya ke dalam sebuah puisi yang diberi judul “Koran Mingguan”. Puisi ini menarik perhatiaan saya di tengah maraknya demo-demo yang terjadi berkait dengan dinaikkannya harga BBM, sebagaimana yang dilakukan oleh mahasiswa di Makasar, Semarang, Bandung, dst.

Marilah kita nikmati puisi Rois bagian pertama :

I/
Ada balita busung lapar  dikubur pagi ini!
“Sebab tidak diberi makanan
empat sehat lima sempurnaAsi pun tidak cukup.
Tubuhnya kurang gizi, jelas mati!”
pungkas petugas
puskesmas yang culas.

Sebuah prolog yang membuat kita miris di tengah sebutan negri kita yang gemah ripah lohjinawi. Ibarat ayam mati di lumbung padi. Tetapi persoalannya adalah, mengapa hal ini bisa terjadi, dan membuat Rois mencoretkan penanya untuk merekam kejadian ini dalam bentuk puisi (ingat, tak ada sastra yang tercipta dalam situasi kosong, kata Teeuw. Setiap cipta sastra adalah representasi dari kondisi sosial budaya masyarakat dimana sastra itu tercipta). Jadi mengapa ada balita busung lapar (yang) dikubur pagi ini. Baris berikutnya Rois mempertegas prolognya dengan diksi lugas berikut ini :

Padahal tahu, Ibu dari Banten Selatan
dadanya kurus kering
sehari-hari badog nasi aking
wajar datar seperti papan selancar
tidak ada susu
diperas-peras pun tidak ada susu!

Nah, tahulah kita bahwa kenapa si bayi bisa terkena busung lapar. Tak lain karena ibunya memakan nasi aking (Rois mengungkapkannya dengan sarkastis : badog nasi aking). Ya sudah tentulah, ASInya lenyap, meski diperas-peras tak ada yang bisa diproses untuk menjadi ASI, tidak ada susu menetes dari puting ibu, karena nasi aking adalah nasi sisa yang dijemur kering lalu diolah kembali setelah direndam dan dikukus. Sudah pasti tak ada vitamin di sini, dan itulah yang dikonsumsi ibu si bayi. Larik berikutnya Rois memaparkan bahwa :

Sebelum mati, bayi itu tidak dirawat,
tergeletak berjam-jam di UGD
dokter tidak dapat memeriksa
Jamkesmas tidak lakulama cairnya
sekarang pasien dirawat,
bulan depan dan bulan depannya lagi baru cair
puskesmas butuh biaya operasional
mesti pilah-pilih
siapa yang dirawat siapa yang dilewat
soal hidup mati,  serahkan saja pada Tuhan.

Duh, betapa pilu melihat realitas sosial yang dipotret oleh Rois. Berjam-jam bayi itu tergeletak di UGD tanpa penanganan cepat. Jamkesmas tidak laku karena proses pencairan dananya lambat sedangkan rumah sakit membutuhkan dana operasional. Mengapa sistem yang kita ciptakan sendiri ujung-ujungnya malah membikin rakyat sengsara? Sama-sama mengeluarkan dana pada akhirnya, mengapa sistemnya tidak dibikin yang pro rakyat dan dapat menyejahterakan mereka. Kembali kita dibuat bingung oleh kebijakan negri kita. Rois pun melanjutkan deskripsinya tentang ibu dan anak yang malang tadi:

Ibu kurus kering itu gagu  ditanya wartawan
jiwanya ngambangLangit atau bumi
baginya sama menekanManusia berhenti
sekadar ingin tahu lalu pura-pura bersimpati 
diam-diam ‘ngumpati.

Kehadiran wartawan di sini tidak menyelesaikan masalah, tetapi justru menambah masalah bagi si ibu karena si wartawan sibuk menginterogasi si ibu yang lagi bingung. Nah, kita lihat di sini, protes Rois itu bukan hanya kepada negara (yang seharusnya hadir dalam setiap kemalangan rakyatnya), bukan hanya kepada aparat pemerintah (dalam hal ini PNS), melainkan juga kepada wartawan sontoloyo yang tidak memiliki kecerdasan wartawan, tumpul feeling kewartawanannya, wartawan semprul.
Protes Rois selanjutnya tertuju kepada komunitas atau anggota masyarakat yang sudah tidak memiliki lagi kepekaan sosial, atau sekelompok orang yang terlalu asyik dengan kehidupan egonya, dengan kemapanannya, terutama kepada isteri-isteri pejabat yang suka bermobil plat merah dalam menjalani aktivitas pribadinya (mestinya mobil dinas ya harus digunakan untuk keperluan kedinasan), sebagaimana yang diteriakkan Rois di bawah ini:

(Dalam begitu, jangan bertanya,
mengapa orang-orang
ringan saja melihat  mayat bayi
diboyong ojekbayarnya pakek kasihan
sedang mobil-mobil plat merah
‘nganggur di parkiran mallnunggu istri
arisan. Jangan ditanya mengapa
duka sendiri-sendiri sedang
manusia sepadan hidup di bumi)


Sebuah kritik yang sangat tajam, yang seharusnya mampu mengingatkan keterlenaan mereka yang sedang menduduki empuknya kursi jabatan. Pejabat yang seharusnya menjadi pelayan masyarakat, di negeri ini dijungkirbalikkan perannya, mereka mesti dilayani, minta diistimewakan, dan jika kurang mendapat penghormatan atas apa yang ia maui, tak segan-segan mereka memenjarakan si kecil, si miskin, si papa... Rois menyatakan dengan tajam : ia (rakyat kecil itu) tidak tahu Indonesia, seraya menuliskan puisinya dalam bahasa ibu, bahasa Sunda:

Wartawan terumendesak dengan pertanyaan,
betapa sedih betapa duka.
Ibu itu jadi membayangkan
dua anaknya yang tidak makan Sekolah Dasar
di gubuk bersidepan dengan maut
dengan lapar di lambung
usus perut mereka yang buncit
meneguk dukanya ditelantarkan
dari waktu ke waktu
dengan mata yang calang
anak-anak itu menatap masa depan:
harapan tanpa kepastian.

Merataplah perempuan paruh baya itu:

Leusteuing anak kula
pang alit maot
aya dua anak deui
nangguan maot
kula gé sakedeng deui
maot
leusteuing kabehan maot.

Ia tidak bisa bahasa Indonesia,
tidak tahu Indonesia!

Duh.. dimana negara saat rakyatnya terdesak seperti ini? Suara yang sangat keras lagi-lagi diteriakkan oleh Rois di sektor lain, yakni mengenai nasib pendidikan bagi si kecil. Ia mengatakan bahwa sekolah (sekarang ini) tidak lagi berpihak kepada si miskin, si malang, si melarat. Kepala Sekolah yang seharusnya menjadi pengayom bagi siswa kalangan bawah justru berapologi dengan mengatakan bahwa sekolah bukan yayasan sosial. Duh, kemana si miskin harus bersekolah? siapa yang sedia melindungi kepentingannya? Secara tajam terpapar di bawah ini:

II/
Siswa Sekolah Menengah diusir
sebab bangku dan buku kudu dibeli
pakai uang bukan
nasib malang yang dikisahkan—sudah tidak laku.
Apalagi kemelaratan juga tangisan-tangisan
mana punya harga!?
                              
Kepala Sekolah yang baik hati
tidak perlu ambil pusing.
Soal pendidikan bukan soal kebijakan
tidak sama sekali soal kebajikan.

 “Kami tidak bisa mempertahankan
siswa yang tidak kontributif!
Sekolah bukan yayasan sosial
semua harus dibayar,  pakai uang!
Ingat, pakai uang!” katanya sambil menghitung
jumlah tunggakan dan beberapa nama
yang ditandai, untuk diusir esok hari.

Seperti tidak ada tempat lagi bagi siswa miskin di negeri ini. Kepala sekolah yang seharusnya melindungi kepentingan siswa, dalam puisi ini malah tampak garang seperti seorang tengkulak atau rentenir yang menagih pinjamannya. Sama sekali tak tampak wajah lembut dunia pendidikan yang secara teoretis seharusnya memegang teguh prinsip-prinsip Ki Hajar Dewantara, Ing ngarsa asung tulada, ing madya mangun karsa, tutwuri handayani.

Sebelumnya, sang siswa merengek:
“Bulan depan Ujian Nasional, Pak!”
“Ya, saya tahu. Kamu tidak perlu repot ikut ujian!”
“Tidak ada kebijakan untuk saya?”
Kepala sekolah menunjukkan catatannya.
“Tiga tahun kamu selalu menunggak,
apa saya kurang bijak!?”

Kepala Sekolah membanting buku tebal
di meja. Siswa itu terisak.
Kertas berisi surat keputusan dilempar
ke wajah siswa malang itu.

Cermin buram pendidikan di negeri kita tampak jelas dalam puisi ini. Kekerasan fisik dan psikis menjadi bagian penting dalam pembelajaran. Keteladanan dan kesantunan hanyalah dongeng menjelang tidur yang diucapkan kaum pendidik, dan tidak direalisasikan dalam tugas mereka sehari-hari. Hasil seperti apa yang akan kita tuai bersama sebagai bangsa dengan model pendidikan yang seperti ini.

“Satu bulan lagi, Pak...,”  siswa itu lesu
merundukkan kepala.

Tahu sia-sia.
Sebuah bogem mendarat di wajah Kepala Sekolah.

Kembali kritik keras ditujukan kepada wartawan amplop, wartawan yang melacurkan berita, wartawan sontoloyo (punya ID Card tidak, ya ?), yang tidak mampu mengungkap fakta di balik berita, yang hanya berpikir asal hari ini dapat amplop, yang tidak cerdas menyikapi kahanan yang sudah demikian mencekam:

Wartawan terus bertanya dan mencatat.
Ia juga kudu hati-hati, tidak boleh salah  pilih
bumbu beritaHarus sedap sedap memabukkan
kalau tidak kepingin sepi amplop
(tanpa amplop, anak bini mau makan koran?)
soal dusta dalam beritatidak dosa
yang dosa itu‘nyolong sandal di masjid!

“Bapak melaporkan anak itu ke polisi?”
“Ya!”
“Tidak kasihan?”
“Kasihan, tetapi hukum harus ditegakkan!”
“Benar sekali, keadilan harus ditegakkan!”
kata wartawan.
Kepala Sekolah tertawa.

Alahai...

Pada bagian III puisi Rois kritik keras itu ditujukan kepada PNS perempuan yang suka keluyuran di mall pada jam-jam dinas. Dan ini memang menjadi fenomena yang merebak di berbagai kota hingga di daerah. Seolah tidak merasa bersalah, perempuan PNS ini keluar masuk mall, pasar, restoran pada jam-jam dinas, sebagaimana terekam dalam baris-baris puisi berikut ini :

III/
Dua Pegawai Negeri Sipil ditangkap
Satpol-PP di mall
merah padam wajah dua perempuan itu
terbayang budget bedak, gincu, parfum
gelang, kalung, dan tas-tas bermerek.

Kehidupan dan penghidupan sehari-hari
hura-hura dan pesta fora
gaji bulan tiga belas lenyap
juga rutinitas salon, belum lagi arisan
dengan ibu-ibu pejabat.

Aduhai… puan-puan yang terhornat
kepalanya mulai ditumbuhi ketakutan
hari-hari akan jadi berat
udara yang dihirup jadi serbuk besi
yang karat. Para tetangga akan meneror
dengan gosip saban hari.

Tajam, menguliti jiwa seluruh insan durjana. Dari wartawan hingga PNS. Dari guru hingga satpol PP. Dari rumah sakit sampai rumah makan. Dari kantor sampai pasar. Di semua lini ditemukan ketidakadilan, kesewenang-wenangan, kezaliman. Dan selalu saja, objek penderitanya adalah rakyat kecil, si miskin, si lemah. Entah itu murid, entah itu pasien, entah itu petani, buruh, pekerja migran. Semua mendapatkan iklim dan suasana yang tidak ramah.

Rupanya mereka masih punya malu,
tutup wajah saat diseret  antara ratusan pengunjung mall
—orang-orang membunyikan  klakson
panjang-panjangAngkutan kota dan sepeda motor
ledekan-ledekan para calo, ibu-ibu kelontongan
dan ledakan balon dari tangan anak-anak TK.

Suara-suara itu tidak dapat dibungkam!

Jalanan memanjang
sampai jauh dan berliku.

Mereka kemudian dipecat, sementara
hutang 150 juta untuk menyogok
panitia sana  dinas sini  dinas situ  makelar anu
sana sini situ anu belum lunas
terbayang mobil harus dijual juga rumah.

Mereka akan dimusuhi anak-anak mereka
karena bikin jatuh miskin!

“O Tuhan, berat nian cobaanMu!?”
mereka tertawan,  langit bumi tertawa

O lala, cobaan Tuhan?

Masih panjang duka yang dipaparkan Rois dalam puisi yang bertajuk ‘Koran Mingguan’ yang ditulis tahun 2011 ini. Jika dibandingkan dengan kondisi tahun sekarang, menjelang 2015, berarti kita sebagai bangsa tidak mendapatkan nilai raport yang lulus. Kita hanya berjalan di tempat dan tempat itu bukan tempat yang kita impikan. Tempat itu ibarat neraka bagi yang sudah sekian lama berada di dalamnya. Adakah kita tidak terusik? Kehadiran penyair seperti Muhammad Rois Rinaldi masih terus kita perlukan untuk menjadi makhluk yang senantiasa membangunkan keterlenaan kita. Kita memerlukan banyak Rois untuk menjaga kehidupan kita ini. Kita menanti munculnya Rois-Rois lain.

Klaten, 21 November 2014.
Esti Ismawati
Dosen Pengajaran Sastra Program Pasca Sarjana Unwidha Klaten.


Share this: