image1 image2 image3

HELLO I'M Muhammad Rois Rinaldi|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I LOVE TO DO CREATIVE THINGS|

Ini Tentang Plagiarisme, Bukan Kebencian Kepada Afi




Oleh Muhammad Rois Rinaldi

Sumber gambar: http://www.pinsdaddy.com/calm-down-cartoon


Memang kita ini, masyarakat Indonesia pada umumnya, harus kembali belajar memahami pokok persoalan, agar segala sesuatu tidak dicampuradukkan sehingga menimbulkan kesalahan persepsi. Kesalahan persepsi yang dipelihara lambat laun akan membuat pikiran bengkok. Pikiran yang bengkok sulit sekali melihat benang merah dalam persoalan. Karena di dalam pikiran yang bengkok seakan-akan begitu banyak benang yang semrawut tanpa ujung tanpa pangkal.
Akibat kelanjutannya, orang-orang mengedepankan prasangka buruk kepada siapa saja yang hendak menyampaikan kebenaran, sekalipun kebenaran itu sebenarnya kebenaran umum. Keadaan semacam ini sering sekali didapati di dalam riuh gemuruh persoalan negeri ini. Keadaan yang sama saya temukan kembali ketika membaca pandangan-pandangan masyarakat siber mengenai dugaan plagiarisme yang dilakukan oleh Afi.
Jika masyarakat mau sedikit tenang dan mengesampingkan prasangka, ihwal plagiarisme, ya plagiarisme. Tidak ada kait mengait dengan kecenderung terhadap ideologi apa atau paham yang mana dalam pengertian sikap berbangsa dan bernegara ataupun agama. Meski mungkin saja ada yang dengan sengaja ingin menjatuhkan Afi secara personal, tapi bukan berarti semua melakukan yang sama.
Banyak sastrawan, pegiat, dan penikmat literasi yang mulanya tidak terlalu memikirkan ihwal pro-kontra tulisan “Belas Kasih dalam Agama Kita”. Karena setiap seorang berhak menyampaikan pandangannya, tanpa perlu digugat, meski sangat boleh didiskusikan. Tetapi lain hal ketika muncul dugaan plagiarisme yang dilakukan oleh Afi, bahkan faknya ia memang memplagiat dari tulisan Mita Handayani sebagaimana yang diakui Mita dalam berita ini: http://aceh.tribunnews.com/2017/06/01/akun-mita-handayani-beri-pengakuan-mengejutkan-kepada-afi-nihaya-faradisa?page=2.
Jadi jelas, titik fokus yang dibicarakan adalah plagiarisme. Setiap tindakan plagiarisme harus dipaparkan secara jelas dan tegas agar tidak membuat orang lain melakukan hal yang sama. Mengapa? Jika tidak ditegaskan, maka akan lahir orang-orang yang gemar mencuri tulisan orang lain dan diakui sebagai tulisannya sendiri. Ini kejahatan intelektual! Jika kejahatan intelektual ini dibiarkan, terlebih didukung oleh media, dosen-dosen universitas negeri, bahkan presiden, akan lahir generasi cacat mental. Karena itu sama artinya dengan mendidik masyarakat Indonesia untuk jadi generasi instan yang dibesarkan oleh ketidakjujuran. 
Dapat dibayangkan betapa sengkarutnya jika siapa saja boleh mengambil tulisan siapa saja kemudian diaku sebagai karyanya sendiri. Betapa menyedihkannya bangsa ini jika rakyatnya terbiasa mengatakan bahwa pekerjaan A ini saya yang menyelesaikan, padahal itu hasil kerja karya orang lain. Betapa rancunya jika kelak pejabat-pejabat di negeri ini, yang kadung dididik oleh kesalahan, lebih gemar mengklaim keberhasilan orang lain sebagai keberhasilannya. Sakit mental itu.
Kekhawatiran itulah yang sesungguhnya sedang dibicarakan. Tidak bicara tentang Afi secara personal, hanya bicara mengenai apa yang dilakukan. Tentu bisa membedakan antara pelaku dan perbuatan,  kan?  Tetapi respon yang muncul cukup menyedihkan. Banyak orang yang menganggap persoalan plagiarisme yang sedang diluruskan ini dianggap sebagai skema pembunuhan karakter Afi. Tidak sedikit pula yang menulis opini panjang lebar untuk melakukan pembelaan terhadap Afi secara personal, bukan berbicara pada pokok persoalan, plagiarisme. Satu di antaranya tulisan yang dipublikasikan oleh akun fanspage Katakita:https://web.facebook.com/pageKataKita/photos/a.804033499688037.1073741828.803774136380640/1377111089046939/?type=3&theater.
Sebuah tulisan bertajuk “KEADILAN UNTUK AFI NIHAYAH” ini mau tidak mau menggiring opini pembaca pada tempat yang tidak semestinya. Seakan-akan yang sedang terjadi adalah kriminalisasi terhadap remaja berusia 18 tahun. Penggiringan dimulai sejak paragraph pertama:
Beberapa teman mengirimkan pesan pribadi kepada saya, menanyakan tuduhan plagiarisme yang dialamatkan kepada Afi Nihayah. Saya tidak kenal dekat dengan Afi, tetapi seperti Anda dapat lihat dari catatan-catatan saya, saya beruntung bisa berkomunikasi secara personal dengan Afi beberapa hari terakhir ini. Tulisan saya kemarin tentang "Gender dan Jilbab", misalnya, saya tulis dengan diskusi langsung dengan Afi, meminta persetujuan, mendengar keberatan, mengganti kalimat, agar apa yang saya sampaikan kepada publik “tidak membahayakan Afi”.
Paragraph pembuka semacam itu secara tersirat hendak mengatakan bahwa Afi adalah orang yang berada dalam keadaan yang sangat berbahaya? Banyak yang ingin membunuhnya hingga tidak meninggalkan jejak? Sehingga semua orang harus turun tangan untuk membelanya, membela keadilan dalam perspektif sesuka hati? Dalam menyikapi tulisan ini, saya nyaris tidak punya jawaban selain jawaban yang kurang enak dibaca oleh orang-orang yang kagetan. Meski begitu,  saya sepakat dengan pandangan Nuruddin Asyhadi di statusnya:

Jika Indonesia ingin maju, hal pertama yang harus dibereskan adalah sindrom pascatrauma. Bangsa ini harus dibebaskan dari mental terjajah yang menghasilkan drama dominant-dominated, hasrat balas dendam/pencarian keadilan yang tak tepat, yg membuat mereka tak mampu berpikir dengan baik, delusif, disasosiatif. Tanpa penanganan sindrom pascatrauma ini, SDM Indonesia akan tetap rendah, bermental medioker, manipulatif, dan korup.

Tidak mungkin bisa bersikap adil jika sudah tidak adil dari pandangan pertama. Itu terlalu culas untuk diterima dengan lapang dada. 
Pada paragraph yang lain, tulisan di Katakita tanpa nama jelas siapa penulisnya itu menerangkan bahwa jika mau adil kita harus menempatkan masalah plagiarisme ini dalam konteks yang lebih luas. Konteks yang lebih luas dalam maksud tulisan tersebut adalah membandingkan tindakan plagiarisme ala Afi dengan “imam besar” yang tidak mau diadili untuk mengakui kesalahannya. Ia juga membandingkan perbuatan Afi sumpah ketua partai yang siap digantung. Mungkin maksudnya Anas Ubaningrum yang siap digantung di Monas jika ia terbukti korup.
Membandingkan kejahatan dengan kejahatan? Untuk mengatakan bahwa kejahatan "yang ini" tidak seberapa dan tidak perlu dianggap jahat? Kalau yang diinginkan adalah pemakluman, bisa. Kita bisa sepakat untuk maklum bahwa Afi masih remaja. Kesahalannya bisa dimaklumi sebagai kenakalan remaja. Tinggal kita sama-sama mengarahkannya pada jalur yang benar. Tetapi kalau perbandingan kejahatan dengan kejahatan hanya untuk membuat orang berpikir bahwa ini tidak jahat karena ada yang lebih jahat,  jelas ini logika yang sesat. Bagaimana jadinya jika kelak ada orang bilang begini pada satu kasus: “Ini, kan, baru membunuh satu orang. Bandingkan dong dengan pelaku pembunuhan massal, itu jauh lebih jahat! Jadi,  jangan semena-mena menuduh pembunuh ini sebagai orang jahat!”
Olala! Dapat dibayangkan seperti apa jadinya negeri ini?
Lagipula sebelum berbicara dalam konteks yang lebih luas, lazimnya adalah  terlebih dahulu melihat dari konteks yang sempit, yang fokus. Tidak ada penggiringan opini yang melebar ke wilayah pembunuhan karakter, politis, atau apapun yang pada akhirnya membiaskan pokok persoalan. Meski kita sama-sama tahu, ada skema politik atau kepentingan di dalam persoalan ini, termasuk praktik pengangkatan oleh media massa. Tetapi ketepikanlah soal-soal itu. Demi apa? Demi menyelamatkan bangsa ini dari kesalahan besar. Kesalahan pandangan bahwa bukan plagiat jika tulisan yang diplagiat bukan skripsi, tesis, atau jurnal ilmiah sebagaimana yang disampaikan oleh Frida Santika dalam tulisannya yang bertajuk “Afi Plagiat: Menulis Karya Ilmiah atau What Do You Think di Facebook?”.
Dalam tulisan tersebut,  Frida Santika tidak saja membuat klasifikasi plagiarisme yang salah, ia juga membuat penggiringan opini,  seolah-olah hanya Afi yang diserang soal plagiarisme. Perhatikan penggalan paragraph dari tulisannya ini:

Saya berselancar di dunia maya, banyak pendapat orang-orang yang mengkritik Afi sebagai plagiat datangnya dari orang-orang dewasa yang jauh berpendidikan, mengatakan bahwa Afi melakukan hal yang sangat fatal. Kita sendiri ketika seumuran Afi tidak mengerti apa arti plagiat yang sesungguhnya. Meskipun kita belajar di Bahasa Indonesia, tingkat pemahaman gadis belia ini tidaklah sama dengan orang-orang dewasa yang telah menempuh pendidikan di jenjang perguruan tinggi atau orang-orang yang mendalami dunia jurnalistik. Mengenai tulisan Agama Kasih yang telah ditulis oleh orang sebelumnya itu ada empat orang, sumber asli ada satu akun tentu ketiga akun berikutnya adalah copy-paste dan ketiga akun yang copy-paste tidak mencantumkan sumbernya berarti mereka juga adalah sang plagiat, lalu mendadak hanya Afi yang plagiat. Dalam wawancara di media, Afi membantah itu plagiat dan mengklaim itu hasil pemikirannya.

Sudah paham? Di satu sisi ia mengatakan bahwa selain Afi ada juga pelaku plagiat. Betul itu. jika ada bukti bahwa mereka membagikan tulisan orang lain tanpa memberikan keterangan penulisnya, terlebih seperti yang dilakukan Afi, menulis namanya secara jelas di bawah judul, yang secara jelas menyatakan ia adalah penulis asli, itu plagiat. Tidak rumit. Tetapi menjadi rumit ketika ia mempertanyakan, mengapa hanya Afi? Karena hanya Afi yang diketahui dan hanya Afi yang secara massif dibesar-besarkan oleh media massa. Efeknya akan sangat besar jika plagiarisme ini diabaikan, generasi selanjutnya bebas “nyolong” tulisan siapa saja. Dan perhatikan juga bagaimana ia menuliskan bahwa Afi bersikukuh di media massa mengatakan bahwa ia tidak memplagiat, itu tulisannya sendiri. Apakah yang sesungguhnya hendak dibela? Kesahalannya atau orangnya?
Pembelaan terhadap kesalahan tentu muskil untuk diterima oleh akal sehat. Berbeda jika hendak membela orangnya untuk tidak dibully dan didorong untuk meminta maaf secara terbuka lalu semua orang harus memaafkan, itu baik. Sangat baik. Sayangnya ia kadung kalah oleh perasaan ewuh pekiwuh yang dikait-kaitkan dengan person dan berbagai hal di luar persolan yang dipaksa masuk dalam ruang pikirannya. Sehingga ia,  entah dari. Mana referensinya, berani membuat pernyataan bahwa apa yang dilakukan Afi tidak termasuk kategori plagiat. Menyampaikan pandangan,  kan,  butuh ilmu,  bukan napsu.
Kembali kepada tulisan yang dipublikasikan di Katakita. Di kolom komentar banyak sekali yang komentar dengan komentar yang sesat pikir, mohon maaf untuk istilah kurang lembut ini. Budianto Wishnu misalnya, ia berkomentar begini:

Pantesan ini negara susah majunya, yang dibahas bukan substansi dari tulisan-tulisan Afi atau Mita atau siapapun itu. Tulisan-tulisan positif saja segudang alasan untuk menghakimi dari pada introspeksi. Mau yang nulis monyet ragunan pun kalau memang substansi tulisan itu memang benar-benar menggambarkan keadaan negara, harusnya malu dan berubah bukan cari-cari alasan yang nulis ‘nyontek ini itulah. Dasar bebal.

Dari komentar Budianto yang, mohon maaf saya edit EYD-nya, hanya EYD bukan kata perkatanya, terlihat jelas ia terbawa framing bahwa yang sedang dibicarakan adalah substansi tulisan. Substansi tulisan terpisah dari persoalan plagiarisme. Padahal ini mengenai kejujuran. Kasihan guru-guru kita sejak SD tegas-tegasan meminta para muridnya untuk tidak mencontek kalau dirusak oleh pikiran yang kurang seimbang. Bagaimana kalau kelak ada orang yang dengan gampangnya mengatakan: "Dapat jawaban dari mana kek,  yang penting nilainya dapat seratus!" yakin tuh guru-guru tidak banyak yang jantungan?
Jika Budianto memang kepingin semua orang di Indonesia ini setuju dengan tulisan Afi,  termasuk klaim-klaim di dalamnya,  ya katakanlah semua rakyat Indonesia setuju dengan substansi tulisan tersebut. Selesai. Setidaknya cukup memuaskan hati orang-orang yang gagal paham ihwal perbedaan. Setelah itu,  mari sepakati bahwa ini bukan ihwal perdebatan substansi tulisan atau soal setuju dan tidak setuju itu. Mari Budianto fokus pada pokok persoalan.  Karena orang-orang yang gagal fokus dan salah kaprahlah yang membikin Indonesia tidak pernah maju.
Komentar Made Santika lebih-lebih bikin saya ‘ngelus dada. Ia bilang, Banyak yang sok tahu istilah Plagiat. Kemudian ia menyampaikan bahwa plagiat hanya diperuntukkan untuk karya ilmiah. Sambil menerakan contoh band Dewa 19, yang lagu-lagunya banyak mengutip karya Kahlil Gibran. “Sudahlah. Ini bukan masalah plagiat kok. Ini cuma masalah orang tua yang malu dikuliti sama anak anak,” katanya.
Lagi-lagi menggiring opini ke ruang yang bias. Masalah orangtua yang malu dikuliti oleh anak-anak? Kesimpulan dari mana? Kemudian soal band Dewa 19, kata siapa tidak dipersoalkan. Banyak yang dipersoalkan. Tidak hanya Dewa 19, musisi lain pun menghadapinya. Hanya saja, apakah beritanya menjadi viral atau tidak. coba cek ini: https://lawnosta.wordpress.com/2010/05/06/mirip-terinspirasi-plagiat/ untuk pandangan bersama. Kemudian soal “sok tahu”, Made Santika mungkin memang sudah sangat tahu tentang plagiarisme sehingga merasa layak mengatakan “sok tahu” kepada orang-orang yang mempersoalkan plagiarisme.
Baiklah,  untuk diri sendiri boleh sajalah merasa sudah maha tahu dan maha cerdas,  itu bukan urusan saya. Tetapi karena ini ihwal "ilmu pengetahuan" Made Santika mungkin perlu membaca Ruang Lingkup Plagiarisme dari website resmi Universitas Gajah Mada ini:

1.     Mengutip kata-kata atau kalimat orang lain tanpa menggunakan tanda kutip dan tanpa menyebutkan identitas sumbernya.
2.     Menggunakan gagasan, pandangan atau teori orang lain tanpa menyebutkan identitas sumbernya.
3.     Menggunakan fakta (data, informasi) milik orang lain tanpa menyebutkan identitas sumbernya.
4.     Mengakui tulisan orang lain sebagai tulisan sendiri.
5.     Melakukan parafrase (mengubah kalimat orang lain ke dalam susunan kalimat sendiri tanpa mengubah idenya) tanpa menyebutkan identitas sumbernya.
6.     Menyerahkan suatu karya ilmiah yang dihasilkan dan /atau telah dipublikasikan oleh pihak lain seolah-olah sebagai karya sendiri.

Untuk lebih lengkapnya silakan dirujuk: http://lib.ugm.ac.id/ind/?page_id=327.

Mengapa saya mengutip dari website UGM? Kalau saya sendiri yang mengurai, khawatir dituding pembelaan. Kan UGM pernah mengundang Afi?  Ya,  memang. Agar UGM jauh lebih hati-hati. Untuk apa punya perangkat jika tidak dipakai? Mana saya tahu. Hal yang perlu saya pastikan adalah,  Made Santika perlu tahu bahwa ia tidak tahu menahu tentang plagiarisme agar di dalam ketidaktahuannya ia tidak semena-mena menuduh orang lain sok tahu.  Ini juga berlaku untuk komentar Kwok San: “Semua penulis pasti mempunyai referensi buat menyempurnakan tulisannya. Banyak buku-buku juga karya tulis orang lain yang dijadikan referensi juga plagiasi bagi seorang penulis. Dan ini sah-sah saja,”. Berlaku juga untuk semua komentar senada di postingan Katakita itu.
Saya tegaskan kembali, Ruang Lingkup Plagiarisme yang dimaksud berlaku untuk umum, bukan hanya untuk skripsi dan sejenisnya. Misalkan Anda ambil tulisan orang lain dan diakui sebagai tulisan sendiri, sekalipun hanya tulisan di FB, itu tetap plagiat. Anda nyolong sandal, di manapun tempatnya dan apapun merek sandalnya, Anda tetap pencuri sandal.  Sesederhana itu.
Ada tanggapan yang lebih esktrem lagi. Istiqomatul Hayati melalui tulisannya yang  bertajuk “Jika Anda Benar-benar Suci, Teruslah Bully Afi” yang dipublikasikan di Indonesiana Tempo.co mengarahkan pembaca untuk berpikir bahwa siapa saja yang mengkritik Afi, termasuk dalam hal Plagiarisme, adalah orang-orang yang sok suci. Karena di muka bumi ini tidak ada manusia suci, jadi semua orang harus setuju dengan plagiarisme?  Tajuk itu rupanya juga hendak mencampuradukkan persoalan plagiarisme dengan soal pro kontra paham agama. Sehingga ia main lompat bikin persoalan tentang kesucian lalu membiaskan persoalan plagiarisme. Nanti dululah, Istiqomah Hayati! Jangan melebar lalu bikin pernyataan yang menakutkan:

Nah, membayangkan seusia Afi dari SMP dan SMA sulit kan? Bayangkan Anda mengalami tekanan sebengis yang diterima Afi saat ini. Ia memang salah karena telah menjiplak (hal yang sudah dibantahnya) seperti pengakuan Mita, jika itu memuaskan Anda. Yang Afi lakukan adalah mematikan akun dan mulai menutup diri.

Itu namanya sengaja membikin orang berpikir bias dan buruk. Memaksa orang berpikir bahwa ada skema pembunuhan untuk Afi. Ia yang pada tulisannya bicara bahwa Afi memang salah seperti hendak meniadakan kesalahan itu dengan cara memunculkan fragmen menyeramkan yang dialami Afi. Saya juga setuju, sangat setuju, jika semua orang memberikan kesempatan dan maaf kepada Afi. Sebelum itu mari bersama-sama ajarkan Afi bertanggung jawab. Lebih jauh dari itu, tugas kita semua adalah mencerdaskan generasi bangsa, termasuk mencerdaskan generasi bangsa dari kebiasaan mencuri dan berbohong. Ini bukan soal kesucian. Tidak perlu menuduh orang lain sok suci dengan mengutip ayat suci. Tidak juga hendak mengatakan siapa jago menulis atau jago mencontek.
Jadi baiknya kita sama-sama bicara pada pokok persoalan. Bahwa setiap tindakan plagiarisme adalah kejahatan. Afi masih terlalu muda, katakanlah ini sebagai keteledoran atau kenakalan remaja. Mari maafkan. Tetapi jangan sampai ada orang yang sembarangan membuat aturan plagiarisme secara semena-mena. Efeknya di masa mendatang terlalu berat untuk ditanggung oleh negara berkembang yang kita cintai ini. Jangan juga diaduk-aduk dengan persoalan lain,  misalkan pernyataan bahwa kami, yang sedang mempersoalkanp lagiarisme ini,  iri karena tidak diundang Jokowi ke Istana Negara. Aduh!  Tidaklah sehina itu.
Bukankah sudah cukup penderitaan kita melihat kenyataan bahwa begitu banyak mahasiswa yang skripsinya hasil menyalin tulisan orang lain, bahkan ada oknum yang khusus menangani “tender skripsi”?  Itu sudah sangat menyakitkan. Sudah berkali-kali dan dari generasi ke generasi dibahas, tidak juga sembuh penyakit memalukan itu. Semua orang,  saya pikir setuju,  itu racun di dalam dunia pendidikan.  Jangan sampai pada wilayah tulisan bebas, semisal opini, puisi, dan Cerpen  juga bebas diplagiat. Jangan meminta saya merelakan masa depan sesuram dan sesemrawut itu.
Oh Tuhan!

Banten, 2017

Share this: