image1 image2 image3

HELLO I'M Muhammad Rois Rinaldi|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I LOVE TO DO CREATIVE THINGS|

Pengantar Merenda Jingga Selepas Senja







Oleh Muhammad Rois Rinaldi *(

I/

Merenda Jingga Selepas Senja merupakan judul kumpulan puisi yang, menurut saya cukup menarik. Imajinasi saya tiba-tiba seperti melihat warna-warna jingga direnda oleh seorang perempuan dan diintimi sedemikian rupa hingga melahirkan 63 puisi. Terlepas dari imajinasi saya yang agak aneh itu, Merenda Jingga Selepas Senja, dilihat secara makro, didominasi oleh simbol senja, baik senja sebagai simbol waktu sebagaimana lazimnya maupun sebagai metaphor, serta warna jingga baik sebagai warna atau ianya menempati fungsi lain.
Rosmita, selaku penulis, rupanya mampu menangani dan mengolah satu satu bentuk menjadi bentuk-bentuk lain yang berlainan sama sekali. Ini bukan pekerjaan mudah, dibutuhkan kepekaan dalam menangkap tanda-tanda di dalam realitas, baik realitas di dalam diri maupun di luar diri manusia. Selain itu harus juga didukung oleh pengetahuan, pemahaman, dan pengalaman yang memadai.
Jalan sederhana untuk memahami pengubahbentukan suatu bentuk menjadi bentuk-bentuk lain yang berlainan sama sekali ini sederhananya begini: ketika ada gelas kosong, di manapun letak gelas itu, kebanyakan orang akan serta merta memandang gelas kosong sebagai gelas kosong, sebagaimana adanya saja. Padahal gelas kosong itu dapat berubah bentuk jika gelas kosong dipandang sebagai kekosongan di dalam gelas.  Artinya bukan gelas yang menjadi titik fokus melainkan kekosongan, gelas hanya tempat. Dapat pula memandang gelas kosong sebagai gelas dalam kekosongan. Di sini titik fokusnya kembali pada gelas, tapi maknanya meluas pada kekosongan. Artinya kedua-duanya menjadi satu kesatuan “makna” yang tidak dapat dipisahkan.
Begitulah kira-kira jalan yang, mungkin, ditempuh oleh Rosmita untuk merenda jingga selepas senja. Oleh karena itu, meski senja dan jingga mendominasi, puisi-puisinya tidak sungguh-sungguh menjemukan. Masih masyuk untuk dibaca dan dinikmati, misalkan dua petikan puisi berikut ini.


Senja
Beranjaklah ke peraduan
Kidungkanlah rindu
Kepada jingga
Yang kian menua
Dan kelam
(SEBELUM PERPISAHAN)


Jendela hatiku penuh warna senja.
Hanya saja masih terlalu dini
Untuk dipaparkan.

Kau tahu itu, kan, Sayang?
Tidak mudah untuk menautkan
Satu rasa menjadi sempurna.

Pertemuan memang tidak mesti.
Karena sekat tak mungkin
Benar-benar tiada.
(RESONANSI WARNA)

Dari dua puisi yang diketengahkan, pembaca dapat melihat bagaimana sesuatu yang sama dapat menjadi berbeda ketika diposisikan di tempat yang berbeda. Senja di dalam puisi “Sebelum Perpisahan” dapat dimaknai sebagai peralihan waktu yang mengakibatkan satu keadaan yang kurang menyenangkan atau menyedihkan.
Puisi ini menunjukkan penerimaan atau kerelaan “aku lirik” terhadap setiap hal yang berlaku secara total. Tidak ada perlawanan, meski ada sedikit harapan yang disiratkan dalam larik ketiga, keempat, dan kelima: “Kidungkanlah rindu/Kepada jingga/Yang kian menua”. Totalitas kerelaan aku lirik tercermin betul dalam larik kedua: “Beranjaklah ke peraduan”. Mengenai apa yang terjadi setelah waktu peralihan, tidak dihadirkan di dalam puisi ini, memang tidak perlu dihadirkan.
Senja pada “Resonansi Warna” tidak lagi sebagai penanda waktu. Ianya dijadikan sebagai gambaran suasana hati: “Jendela hatiku penuh warna senja.” yang dengan sengaja tidak hendak dipaparkan: “Hanya saja masih terlalu dini/Untuk dipaparkan.”. Karena bagi aku lirik, di dalam bait kedua, warna-warna senja itu adalah warna yang tidak sempurna dan dalam ketidaksempurnaan upaya untuk menautkan rasa tidaklah mudah, apa lagi jika harus memaparkan ketidaksempurnaan pada waktu yang tidak tepat: “…masih terlalu dini”.
Larik-larik yang menghadirkan akrobat logika ini cukup berhasil menciptakan tegangan yang akan membawa para pembacanya masuk lebih dalam.
Dalam kaitannya, untuk mengetahui warna senja yang menjadi gambaran suasana hati “aku lirik” dapat diperhatikan bagian ini: “Pertemuan memang tidak mesti/Karena sekat tak mungkin/Benar-benar tiada”. Resonansi warna senja yang diciptakan dari ketiadaan pertemuan adalah warna kerinduan. Kerinduan yang tidak sekadar, karena kerinduan itu tidak sedang berbicara bagaimana sebuah pertemuan dapat terjadi, melainkan bagaimana si “aku lirik” menyadari bahwa pertemuan tidak selalu diperlukan. Karena jarak bagi manusia di “bumi jasad” ini  tidak dapat ditiadakan, meski di sisi lain bumi jasad ini diyakini sebagai kefanaan.
Puisi  “Melodrama Senja” yang digerimisi kelasah di bawah ini setidaknya masih berada di kisaran kerinduan, tapi seiras tidak berarti sama.


Ada gerimis dan kelasah
Yang kuselipkan
Dalam sajak dan syairku

Senja tiba tergesa.

Mungkin aku terlalu
Merimbunkan daun daun rindu

Hingga ulat ulat cinta
Selalu menyemak
Memamah segala yang aku punya

II/
Mungkin benar, perempuan lebih sensitif terhadap banyak hal, termasuk pada prilaku non-verbal.  Sensitivitas perempuan memungkinkan untuk memahami perangai orang lain melalui ekspresi wajah dan gerakan tubuh orang lain, baik gerak mayor maupun minor. Perempuan juga lebih mampu mengekspresikannya keduanya secara tepat.  Selain itu perempuan cenderung lebih ekspresif dalam bertutur dibandingkan lelaki, termasuk kehendak yang cukup besar untuk memunculkan ke-perempuan-annya di tengah hegemoni kaum lelaki. Maka tidak mengherankan ketika puisi-puisi yang ditulis oleh perempuan banyak mengetengahkan persoalan perasaan perempuan kepada seseorang (tidak bicara gendre dan tidak selalu berkaitan dengan hubungan asmara), seperti puisi “Bing” ini.

Bing
Mari sini, duduklah bersamaku
Aku ingin cerita tentang jiwa
Yang jenuh menyusuri parit parit
Dilema

Aku lelah menghimpun tenaga
Dalam kerinduan tanpa harapan

Masihkah kau mengagungkan cinta, Bing?
Sementara aksaranya hanyalah senandung
Sepi di tengah kepulan dupa.

Betapa perasaan tercurah sedemikian rupa di dalam “Bing”. Jiwa yang jenuh menjalani hidup yang dilematis, kerinduan dan harapan yang melelahkan, dan kesepian-kesepian yang menyesakkan jiwa dalam lingkaran cinta yang terus diagung-agungkan di hadapan “aku lirik” berpusing sedemikian rupa. 
Mengenai siapa Bing, tergantung imajinasi masing-masing pembaca. Begitu pun ketika membaca beberapa puisi yang kurang lebih senada dengan “Bing” berikut ini.

Tak hendak melantun sajak
Biarkan senja mengurai kidung
Tanpa harmoni
(USAI)
Jangan usaikan nyanyian itu
Aku masih ingin di sisimu, mendengarkanmu.
Dan tetap mendengarmu.
(TUAN)
Tetapi tak hendak aku mengikutinya
Karena aku tahu,
Akulah yang sesungguhnya kau tembangkan

pada oktaf oktaf terendah
(CINTA NADA RENDAH)


III/
Jika dilihat dari aspek maknanya, puisi adalah perwajahan pegetahuan, pemahaman, serta kemampuan akal seseorang dalam memproses kejadian demi kejadian yang dialami, sehingga pengalaman itu tidak hanya berupa kejadian, tapi sebagaimana menyaring serutan kelapa, ada nilai pada akhirnya. Dalam hal ini, kedalaman puisi tidak ditentukan oleh kemampuan mengolah bahasa. Bahasa hanya media yang digunakan manusia untuk menyampaikan nilai-nilai yang ada di dalam dirinya. Semakin dangkal nilai yang dimiliki seseorang, semakin dangkal pula makna yang ditawarkan di dalam puisi, tidak peduli seberapa canggih kemampuan berbahasanya. Nilai yang saya maksud tentu bukan angka-angka sebagaimana di dalam mata uang atau rapor.
Jika dilihat dari teksnya, puisi adalah perwujudan dari penguasaan bahasa yang dimiliki seseorang. Katakanlah dalam sebuah kumpulan puisi, jika pola pembentukan kalimat serta kata-kata yang digunakan untuk membangun kalimat seperti itu dan itu saja,  menandakan keterbatasan perbendaharaan kata serta keterbatasan pengetahuan ihwal pembentukan kalimat dengan segala kemungkinannya. Semakin terbatas seseorang dalam hal kemampuan berbahasa, semakin sulit untuk dapat menyampaikan nilai-nilai yang ada di dalam dirinya kepada pembaca, tidak peduli seberapa dalam nilai yang ia  miliki.
Tentu saja jalan yang benar adalah jalan di antara keduanya. Tidak melulu mengedepankan kecanggihan berbahasa, yang masuk dalam golongan unsur ekstrinsik, sehingga lupa kepada hal-hal yang berkaitan dengan kebatinan, yang kerap dikelompokkan sebagai unsur intrinsik. Lantas, bagaimana dengan puisi-puisi Rosmita, penulis Jambi ini? Sudahkah mampu menemukan kedalaman dan teknik kebahasaan yang memadai? Jawabannya ada tangan para pembaca. Tugas saya hanya mengantarkan dan membiarkan puisi menemui pembacanya dengan merdeka.  

Selamat berenang-renang mencari kedalaman!


*( Muhammad Rois Rinaldi, Presiden Lentera Internasional dan CEO Gabungan Konumitas Sastra Asean (Gaksa). Penerima Anugerah Utama Puisi Dunia 2014 (Nusantara Melayu Raya) dan Anugerah Utama Penyair Asean 2014, 2015, & 2016 (ESastera).

Share this: