image1 image2 image3

HELLO I'M Muhammad Rois Rinaldi|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I LOVE TO DO CREATIVE THINGS|

DRAMA POLITIK TAK KUNJUNG USAI RAKYAT SALING BUNUH



DRAMA POLITIK TAK KUNJUNG USAI
RAKYAT SALING BUNUH

Oleh Muhammad Rois Rinaldi

Gambar karya Angga Nurdiansyah


I/
Setiap hari, siapa saja yang mendengarkan radio, menonton televisi, membaca koran, membuka Facebook, Twitter, dan Instagram tidak akan bisa melarikan diri dari sebuah degelan yang, jika diberi judul kurang lebih begini: “Partai Politik, Kekuasaan, Halusinasi NKRI, dan Halusinasi Rakyat”. Niat tidak ada niat atau suka tidak suka, itulah tontonan yang, seolah harus diikuti setiap episodenya. Seolah-olah seluruh rakyat Indonesia telah dibisiki oleh, entah jin entah manusia, bahwa tidak ada persoalan yang jauh lebih penting di negeri ini selain apa yang dipertontonkan media massa dan digosipkan oleh para nitizen. Tidak ada realitas yang sungguh-sungguh perlu diperbincangkan selain apa yang dibincangkan oleh para politikus yang senantiasa dikomandoi pemimpin-pemimpin partai.
Betapa tidak, setiap hari televisi bicara tentang koalisi partai, mesin partai yang macet, tim pemenang Paslon, mobilisasi massa, tender-tender politis, pembagian jatah jabatan menteri-menteri, rapat-rapat DPR RI yang ricuh, korupsi berjamaah, kambing-kambing hitam di antara sekian kambing putih, dan semua hal yang berkisar di sekitarnya. Adapun pembicaraan mengenai pembelaan terhadap hak-hak rakyat hanya ada di dalam reality show, debat kusir yang selalu gagal memberikan kabar baik. Debat kusir yang selalu gagal meninggalkan jejak, selain bantahan-bantahan yang dengan sangat segera diteruskan oleh para pengguna internet. Para nitizen itu, dengan riang gembira melanjutkan ritual bantah membantah yang tidak jarang berujung pada ritual caci maki.
Ormas kemudian tampil juga di tengah tontonan itu. Sebagian mereka berupaya mengingatkan agar segenap pemangku kebijakan dan rakyat sebagai pemilik mandat kembali kepada kepentingan bersama dan mengutamakan kemaslahatan bersama dalam wacana-wacana politik Indonesia, tapi yang sebagian itu dibuat blunder oleh sebagian ormas lain yang seolah-olah hadir sebagai penyeimbang, kemudian kritik, peringatan, dan tuntutan-tuntutan keadilan penegakan hukuma adalah ancaman bagi kesatuan dan kedamaian. Atau posisinya dapat dibalik, tergantung sudut pandang, semisal tidak ada yang salah karena saling melengkapi.
Memang tidak ada yang dapat memastikan kelompok mana yang mengambil posisi benar. Karena semua, baik berkaitan langsung maupun tidak, pada akhirnya ditunggangi oleh pendapat-pendapat politikus yang tentunya berpendapat berdasarkan selera dan kepentingannya masing-masing. Seperti zoom in dan zoom out, pandangan-pandangan mereka ada yang diperbesar ada yang diperkecil yang, kadang, dibuat dengan berlebihan. Tidak heran jika respon penonton juga kerap berlebihan.
Di luaran, dari pengurus hingga simpatisan masing-masing Ormas—yang rata-rata memang pandai beretorika pula—melemparkan wacana di berbagai ruang dan kalangan. Akibatnya makin riuh. Makin tidak terkendali. Di dalam keadaan sedemikian, masing-masing mereka meneriakkan NKRI, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sekilas pandang, teriakan-teriakan itu menujukkan adanya semangat dan itikad yang baik untuk kembali menyatukan pandangan, pikiran, dan harapan tentang negeri yang terbentang dari Sabang hingga Marauke ini. 

Gambar karya Angga Nurdiansyah

NKRI yang dikemas di dalam seruan-seruan penuh semangat itu pada akhirnya blunder pula. NKRI adalah kita. Kita adalah selain mereka. Mereka adalah orang-orang yang harus dibantah, disadarkan, dan dilawan (jika perlu dimusnahkan?). Kembali menjauhkan panggang dari api, NKRI terus didengung-dengungkan dengan nada yang kelewat sinis. Tujuan-tujuan mendasarnya, semisal melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, diabaikan. Padahal bukan persoalan sulit untuk memahami bahwa “segenap” berarti bukan “sebagian”, tidak dapat pula diartikan “sekelompok”.
Jika masih kita bukan mereka dan mereka harus dilawan (tidak berani bilang, dimusnahkan) mencapai tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa seperti retorika di dalam sebuah parody. Tentu terlalu jauh jika dikait-kaitkan dengan kesejahteraan umum, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Terlalu jauh.
II/
Di mana rakyat? Di mana kesejahteraan, kenyamanan, dan ketenteraman menjalankan hidup serta kehidupan di negeri yang konon miniatur surga ini? Siapa yang sungguh-sungguh membicarakannya? Siapa yang sungguh-sungguh memusatkan perhatian, memperjuangkan, dan mengawal kepastian hidup segenap rakyat Indonesia? Dalam konstelasi media massa termasuk sebagian besar pembicaraan Nitizen, tidak sungguh-sungguh ada. Jika ada, ianya seperti pita kecil di rambut seorang puteri cantik jelita yang sedang diperebutkan para pangeran, hanya penghias agar tampak elegan dan pantas.
Seperti sinetron ribuan episode, drama yang mempertontonkan pergulatan politik yang berkisar hanya pada persoalan itu dan itu saja telah memukau begitu banyak mata, hati, dan pikiran, sehingga terkesampingkanlah persoalan-persoalan nyata yang menyangkut hajat hidup segenap rakyat Indonesia. Mungkin ini yang disebut hukum kausalitas, sebab negara tidak hadir di tengah rakyat sebagaimana amanah Undang-undang, akibatnya rakyat menentukan nasib dengan caranya sendiri-sendiri.
Terlalu banyak kasus perampokan yang satu paket dengan adegan pembunuhan yang suka tidak suka dirasakan atau didengar. Mungkin ini semacam dongeng,  menatap di rumah sendiri tidak dapat tenang, harus waspada setiap waktu. Resah. Di mana-mana orang resah. Jalanan makin rawan pembegalan. Anak-anak remaja berkumpul di semak-semak, membunuh kawannya sendiri. Pemuda-pemuda memperkosa gadis orang, kemudian dibunuh dengan keji. Anak SMP bunuh diri, orangtua membunuh anaknya, anak membunuh orangtua, dosen dibunuh mahasiswa, mahasiswa diperas dosen, dan sekian ratus deret persoalan yang hanya sekali lewat dibicarakan, tidak tampak betul itu serius dijadikan duka Nasional, tugas bersama.
Baiklah, mungkin perlu disederhanakan, diterima saja bahwa kini mental sebagian rakyat Indonesia  makin mengeras, makin kehilangan akal sehat, mungkin juga dilanda depresi. Sehingga secara sadar (dalam ketidaksadarannya) melakukan tindakan-tindakan yang tidak manusiawi.
Dibawa santai saja sambil menyaksikan drama korupsi E-KTP yang menyerat puluhan nama itu. Ihwal supir angkutan umum umum R03 jurusan Pasar Anyar-Serpong yang sengaja menabrak  pengemudi ojek online, hanya soal kecil. Itu hanya orang gagal bersaing cari makan. Negara tidak salah. Ibu-ibu yang bertengkar di pasar Lamongan hingga saling gigit jari tidak lebih menarik dari Opera van Java. Mudah saja bagi para pecandu drama politik untuk menertawakan demonstrasi para petani tembakau di Semarang dan Rembang, tragedi petani kentang di Dieng, penolakan pabrik Mayora di Pandeglang,  pembalakan liar di Padang, penolakan reklamasi, dan sekian ratus juta suara rakyat menjerit-jerit itu. Termasuk aksi petani Kendeng melawan pabrik semen di Pegunungan Kendeng dengan mengecor kaki, tidak akan sungguh-sungguh menarik perhatian.
Drama perpolitkan di negeri ini jauh lebih menyita tenaga dan pikiran, tidak terkecuali Pilkada dengan haru-biru kisah gugatan yang dilayangkan kepada Mahkamah Konstitusi. Memang ihwal pemimpin sebuah negara atau daerah adalah titik awal  yang kelak akan  menjadi kompas bagi harga cabai, transportasi, keamanan, keadilan, dan sebagainya. Tetapi ketika harapan-harapan di hari mendatang memalingkan pandangan dari kenyataan-kenyataan hari ini, apakah hari mendatang layak dijadikan harapan?

III/
Siapa pun memang mudah saja berbicara bahwa apa yang dikatakan dan dipikirkan berdasarkan kenyataan, tapi pikiran dan kata-kata tidak bisa mengubah kenyataan. Kenyataan tidak dapat ditiadakan oleh kata-kata. Kenyataannya, kini, makin banyak yang gandrung berdebat tentang jagoan-jagoannya di panggung perpolitikan ketimbang menjagokan kepentingan-kepentingan rakyat, padahal yang berdebat juga rakyat. Ketika menjagokan para jagoan, kepentingan rakyat yang selalu dijadikan perbincangan, tapi betulkah rakyat yang sungguh-sungguh dipikirkan? Bagaimana jika jagoannya kalah atas nama rakyat? Jawabannya pasti retoris!
Mengenai rakyat yang makin keras, makin gemar bertengkar, dan bahkan saling bunuh di tengah drama perpolitikan yang tak kunjung usai, memang menjengkelkan. Seperti bertanya kemana perginya hujan di musim kemarau yang sangat panjang. Berbicara bahwa kemakmuran rakyat adalah tujuan utama para pemangku kebijakan negara ini, seperti membicarakan seekor semut di antara ribaun gajah. Mungkinkah dibuat saja kesepakatan bahwa apapun yang terjadi, semua orang harus berkata, rakyat baik-baik saja? Sepertinya boleh juga, sebagai penghibur bagi di tengah duka lara. 

Banten, 2017

Muhammad Rois Rinaldi, penulis buku puisi Terlepas dan esai Sastracyber: Makna dan Tanda.



Share this: