image1 image2 image3

HELLO I'M Muhammad Rois Rinaldi|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I LOVE TO DO CREATIVE THINGS|

Kata Pengantar Buku Puisi Akar dari Ibu



MENGUAK SERAT
AKAR DARI IBU

Muhammad Rois Rinaldi *(


Dua ratus empat puluh dua puisi yang ditulis oleh empat puluh sembilan penyair Indonesia di dalam antologi puisi Akar Dari Ibu menunjukkan capaian estetika yang berlainan. Meski demikian, pada umumnya semua puisi yang dihadirkan bertujuan untuk mengantarkan makna, lantaran demikianlah kehendak puisi baik sejalan atau tidak dengan kehendak penyairnya ketika puisi sampai di hadapan pembaca. Makna dari setiap puisi tentu saja identik, sekali pun dengan tema yang seiras, misalkan cara menggambarkan “cinta”. Cinta di mata penyair memiliki wajah yang berbeda-beda. Tidak selalu bergincu, berbedak, berbunga-bunga. Ianya mewujud abjad dan harakat yang mengarah pada kecantikan seorang ibu  di mata Agus M. Sunjaya; menjelma gema yang bergerak hingga ke ujung kampung—waktu subuh—ketika azan mengoyak keheningan dalam penglihatan Asep Tatang; dan dijadikan hujan yang merambat di dinding oleh Indra Intisa.

Makna yang diantarkan oleh puisi—terlepas dari keberhasilan puisi itu dari aspek kebahasaannya—tidaklah sama seperti makna yang diantarkan oleh berita koran mingguan. Karena di dalamnya terdapat gaya bahasa yang khas, sehingga dimungkinkan bermakna ambigu. Mungkin saja yang dikatakan “ini” yang dimaksud “itu”. Bisa saja yang dikatakan kaki yang dimaksud kepala. Pada persoalan yang seperti ini banyak pembaca yang kesulitan memahami makna puisi, lalu menganggap puisi terlalu rumit untuk didekati, tapi selama penyair mampu menjaga struktur gramatikal kata dan kalimat dengan pengurutan ide yang masih dapat dinalar serta mampu menjaga porsi penggunaan kiasan dan perbandingan, puisi tidak sungguh-sungguh sulit untuk dimaknai.

Sebagian besar karya dalam buku ini, dengan gaya yang cukup beragam, tidak melakukan eksperimen kebahasaan yang berlebihan sebagaimana puisi “Trem Berklenengan di Kota San Francisco” , “Tragedi Winka dan Sihka” karya Sutardji Carzoum Bachri, atau puisi-puisi Afrizal Malna yang banyak sekali melakukan penyimpangan bahasa. Penyair-penyair di sini masih berada di wilayah konvensional, sehingga makna yang disampaikan dapat dijejak tanpa kesulitan yang berarti.  Dengan demikian para penyair telah berhasil menciptakan puisi-puisi yang komunikatif. Tentu saja tidak sekomunikatif iklan di televisi. Memang pada sebagian puisi terdapat kebiasan lantaran imaji-imaji abstrak yang dominan, tapi maknanya masih dapat dijejak dengan rekonstruksi semantis. Hal lain, tidaklah boleh melupakan bahwa bahasa sebagai sebuah sistem yang arbitrer, bukan absolut. Ianya tidak selalu perlu dituntut sempurna, sebagaimana gading yang tampak cantik karena retakannya, bahasa puisi pun demikian.

Ditilik dari temanya, para penulis berpusar di kedalaman dirinya. Maksud saya, tidak banyak yang mengetengahkan persoalan di luar tema yang berkaitan dengan gejolak batin yang bersifat personal. Ini dimungkinkan karena para penyair belum berkenan menanggapi persoalan-persoalan yang jauh dari dirinya dan merasa lebih mudah berbicara tentang apa yang ia alami, rasakan, dan ketahui secara persis. Misalkan puisi “Pusara” karya Ari Nugrahaningsih. Meski yang dibicarakan adalah kubur orang yang dicintai, yakni bapaknya, pada dasarnya yang diketengahkan adalah kerinduannya sendiri. Tentang dukanya kehilangan. Begitu pun dengan puisi “Perempuan Itu” karya Ashint Dewi, meski yang diketengahkan di dalam puisi adalah ibunya yang dipandang sebagai perempuan perkasa di muka bumi, ia sesungguhnya menunjukkan ke-aku-an yang cukup mendominasi dalam lahan pemaknaan. Terlebih “Aku Hanyalah Air” karya Dewi Untari Suseno yang dengan sungguh-sungguh menyatakan ke-aku-annya, sebagaimana Chairil Anwar yang begitu tegas “meradang dan menerjang” dalam puisi “Aku”.

Sebagaimana penyair-penyair di atas, Julia Asviana melalui lima puisi “Fatwa Srikandi”, “Lir Angin”, “Halimun Luka”, “Embun Pagi”, “Ilalang”, dan “Wanita dalam Kotak Mimpi” menunjukkan posisis ke-aku-annya pula. Akan tetapi ianya tidak sedang meradang menerjang, melainkan sedang membangun ruang katarsis bagi pikiran dan jiwanya dalam memaknai hidup dan kehidupan. Pada kelanjutannya, ruang katarsis di dalam puisi tidak saja menjadi ruang khusus bagi penyair, melainkan menjadi ruang katarsis bagi para pembacanya pula. Sejalan dengan Julia, Nurul Wahyuni melalui puisi “Pesan Ibu”,      “Sumenep”,     “Dalam Perjalanan”, dan “Tentang Pohon Di Kepala”  yang menyuguhkan perjalanan badan yang bersentuhan dengan dunia luar diri lalu ditarik ke kedalaman batinnya sehingga menjadi perjalanan batin yang mendalam.

Lebih jauh Rose Marry St melalui puisi “Ibuku”, “Ayah Aku Pulang, “Bukan Asmara”, dan “Tentang Sahabat” menunjukkan bahwa penyair benar-benar menghayati perjalanan badan dan batinnya di bumi fana ini. Sehingga ia mampu membuat puisi-puisinya yang pada pembacaan sekilas akan terkesan sangat pribadi, tapi ketika dibaca lebih intens maknanya akan menjadi lebih luas. Pada gilirannya puisi-puisi Murti Ningsih: “Kubangun Rumah Sederhana”, “Tentang Kepergianmu”, dan “Sinar Itu Telah Padam” menghadirkan “aku lirik” yang kehilangan orang-orang terkasihnya. Kehilangan di dalam puisi-puisinya bukanlah ungkapan kehilangan yang susungguhnya, melainkan ungkapan kesadaran bahwa setiap hal yang dimiliki bukanlah menjadi hak milik, karena manusia pada dasarnya tidak memiliki apa-apa, meski rasa kasih dan sayang manusia kepada manusia tidak dapat ditampik dalam ketiadaan itu.

Dalam perspektif agama-agama samawi, hubungan antarmanusia atau dengan alam sekitar, dapat dijadikan sebagai mediator untuk sampai pada hubungan lain yang lebih tinggi, yakni hubungan manusia dengan Sang Khalik. Di dalam Islam ini dikenal dengan Hablum minAllah. Sehingga manusia kerap berusaha menemukan Tuhan melalui  sesama makhluk (alam semesta termasuk manusia), begitu juga penyair yang konon diberi kelebihan berupa ketajaman intuisi. Imron Tohari melalui puisi  “Menatap Bunga Pecah Seribu”, “Rahasia Cinta”, “Getaran Lembut” menunjukkan upaya memahami kehadiran Tuhan di alam semesta melalui kejadian-kejadian yang mengilhaminya. Hal yang kurang lebih sama dapat ditemukan pada  puisi “Mencari Tuhan”  karya Fie Asyura, “Hidup” karya Indra Intisa, “Monas 212” karya Masbam Al Ghazali, “Mengeja Hari” dan  “Secangkir Kopi Bertasbih” karya Sri Restioningsih.

Meski di atas saya mengatakan bahwa antologi puisi ini didominasi oleh puisi-puisi yang bertema personal, tidaklah disangkalkan keberadaan puisi-puisi sosial-budaya dan sosial-politik di dalamnya. Ada yang menghadirkan hubungan sosial-pilitik dunia yang menimbulkan pelanggaran terhadap hak hidup dan kemerdekaan manusia, misalkan puisi “Dia Rohingya; Fatima” karya Yurie Puspitadewi. Puisi-puisi empatik seperti “Perempuan Ilalang”  dan “Sajak Pemulung”  karya Emi Suy Hariyanto, “Wanita Dalam Kotak Mimpi”  karya Linda Rubi, serta “Kampung Di Atas Air”  karya  Mujahid Mansyur. Puisi-puisi yang menguak tragedi seperti  “Pidiie Jaya Aceh” karya Nutri dan “Luka Tanah Rencong” karya Nenden Wahyudinniati juga hadir sebagai kesaksian penyair untuk zamannya.

Masih banyak yang perlu dibicarakan ihwal antologi puisi ini melalui pendekatan-pendekatan tertentu. Empat puluh sembilan penyair yang menghadirkan dua ratus empat puluh dua puisi adalah serat yang harus dikuak untuk menemukan akar dari ibu (puisi). Tetaapi karena tugas saya hanya sebagai pengantar, saya rasa cukup saya antarkan para pembaca sampai di sini. Kemudian tugas para pembacalah yang mesti menguak serat-serat itu.

Selamat mendalami!


Banten, 26 Desember 2016

*( Muhammad Rois Rinaldi, penerima Anugerah Utama Puisi Dunia (Numera 2016) dan Anugerah Utama Penyair Siber (Esastera Malaysia, 2014, 2015, dan 2016).

Share this: