image1 image2 image3

HELLO I'M Muhammad Rois Rinaldi|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I LOVE TO DO CREATIVE THINGS|

PUISI, KEJUJURAN, DAN KEMAMPUAN BERBAHASA

PUISI, KEJUJURAN, DAN KEMAMPUAN BERBAHASA
Oleh Muhammad Rois Rinaldi )*

Puisi, kejujuran, dan kemampuan berbahasa sudah barang tentu saling kait dan saling ikat. Tidak ada puisi tanpa kejujuran, meski bukan tidak mungkin ada puisi yang diciptakan dari keculasan. Tidak ada puisi tanpa kemampuan berbahasa, meski kita kerap mendengar ada puisi yang sengaja tidak ditulis atau sebagaimana yang dikatakan Cak Nun di dalam puisinya: “... puisi yang kusembunyikan dari kata-kata”. Karena kejujuranlah yang mempertemukan akal yang jernih dan jiwa yang bening, yang menjadi bahan pokok penciptaan-penciptaan puisi. Karena pada dasarnya, bahasa difungsikan sebagai media, bukan sebagai isi. Meski demikian, kemampuan berbahasa sangatlah penting bagi proses pengejawantahan puisi, agar dimengerti atau paling tidak, dapat dirasakan oleh segenap manusia.  Demikianlah kiranya yang perlu dipahami terlebih dahulu ihwal puisi, kejujuran dan kemampuan berbahasa. Agar tidak muncul anggapan di kemudian hari, yang kini juga sudah mulai berkembang, bahwa kedalaman puisi tergantung pada kemahiran berbahasa belaka. Karena kemahiran berbahasa tidak menjamin seseorang mampu menciptakan puisi. Tentu bukan rahasia umum, banyak sarjana bahasa Indonesia yang tidak mahir menulis puisi berbahasa Indonesia. Namun, kejujuran yang mendorong seseorang untuk menciptakan puisi juga tidak cukup. Tanpa kemampuan berbahasa, kejujuran itu tidak dapat dijelmakan. Barangkali hanya sebatas gambaran abstrak yang sulit dimaknai, bahkan sulit dinikmati.
            Kini, saya menghadapi sekumpulan teks puisi karya peserta didik MTS Al-Khairiyah Karangtengah, Cilegon. Lantas, seperti apa puisi-puisinya? Sudahkah jujur? Atau hanya memanfaatkan kemampuan berbahasa? Barangkali sebaliknya? Hanya mempunyai kejujuran dengan kemampuan berbahasa yang seadanya.  Saya menemukan banyak hal. Ada yang sedang bermain-main dengan bahasanya lalu bermain-main pula dengan kejujurannya. Sehingga puisi yang dihasilkan adalah puisi yang ada di tingkat rata-rata, di mana kejujuran dan kemampuan berbahasa saling menguji.  Ada yang masih berusaha memahirkan kemampuan berbahasa sehingga untuk sementara mengenai kejujuran, mungkin, didatangkan setelah itu. Dan ada yang Ada yang sungguh-sungguh telah mampu mengejawantahkan kejujurannya di dalam puisi. Sehingga puisi-puisi yang dihasilkan sangat memukau. Memukau yang saya maksud bukan berarti puisi yang sempurna, melainkan puisi yang telah menunjukkan kekuatannya secara keseluruhan. Terlebih, puisi itu diciptakan oleh “yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama”, kisaran 12-14 tahun.  Misalkan puisi berikut ini.

SALAM UNTUK TUHAN
Karya Fajrun Shodiq

Tuhan, terima salam dariku
Dari anak yang berasal dari ketiadaan
Yang ingin menjadi ada
Anak yang tak mengenal kasih sayangmu
Anak yang selalu menerima cobaan, bukan keberkahan
Oh...
Tuhan, terimalah salamku
Apa kau benar telah menggariskan takdir-takdirku
...

Membaca puisi ini, saya seperti sedang membaca puisi Chairil Anwar, penyair legendaris Indonesia yang disebut-sebut sebagai ujung tombak angkatan 45, yang bertajuk “Doa”: “Tuhanku/Aku hilang bentuk/Remuk/Tuhanku/Aku mengembara di negeri asing/Tuhanku/Di Pintu-Mu aku mengetuk”. Bedanya, Chairil mengungkapkan ketidakberdayaannya dengan pengakuan akan dirinya yang telah remuk. Remuk dalam pengertian,  hidup, kehidupan, cara pandang, dan pemahamannya tentang ada dan keberadaan Tuhan dalam ada dan ketiadaan Chairil. Sedangkan Fajrun, mengutarakan ketidakberdayaannya sebagai hamba dengan “salam”. Salam di sini bukan salam sebagaimana manusia kepada manusia, melainkan salam dari manusia kepada Tuhannya. Sebentuk usaha untuk mengakrabkan diri. Selain itu, Fajrun masih mempertanyakan tentang takdir. Pada bagian ini, tentulah dapat dimafhumi, Fajrun telah jujur mengungkapkan kebingungannya sebagai seorang lelaki yang beranjak remaja, yang bingung memaknai takdir.  Masa transisi yang diguncang oleh kegelisahan eksistensi. Kesamaan antara Chairil dan Fajrun terletak pada ekspresi keintiman manusia dengan Tuhannya, atau sebut saja ekspresi pengharapan hamba kepada Tuhannya. Mengenai kemampuan berbahasa Fajrun, saya harus mengakui, ia cukup berhasil menulis puisi dengan jelas. Tidak penuh kalimat-kalimat abstrak sebagaimana yang kerap saya temukan di puisi kekinian.
Selain Fajrun, saya menemukan potensi yang sama besar di dalam puisi-puisi Kiki Tazkiyah, terutama puisi ini.
                    
KESUNYIAN
Karya Kiki Tazkiyah

Sebelum senja terbit menyinari bumi
Kuterbangun,
Tidak ada suara yang menghiasi telingaku
Pagi itu, serasa aku berada dalam hutan yang jauh dari perkotaan,
Dan yang kudengar hanyalah suara angin yang begitu kencang,
Dan tiba-tiba hatiku bertanya
Apakah ini yang dinamakan kesunyian

Kemampuan Kiki menggunakan imaji auditif (imaji yang berkaitan dengan pendengaran), visual (imaji yang berkaitan dengan penglihatan), dan imaji taktil (imaji yang berkaitan dengan yang dirasakan, sentuh, dan diraba) cukup baik. Sehingga ia mampu mentransformasikan makna-makna dari segenap kejujurannya yang masih abstrak menjadi lebih konkret. Dengan penggunaan imaji-imaji tersebut secara bersamaan, ia hendak mengungkap tentang kesunyian. Puisi ini dengan sengaja tidak memberikan ruang bagi pembaca untuk mengetahui, mengapa mempertanyakan kesunyian. Misalnya karena ditinggal kekasih, merasa asing di bumi, atau sejenisnya. Dengan begitu, Kiki telah benar-benar fokus kepada “kesunyian” dan memberikan ruang tafsir seluas-luasnya kepada pembaca untuk menjawab sendiri, mengapa ia mempertanyakan kesunyian?
Apa yang dilakukan Kiki merupakan pilihan cerdas, karena puisi kadang harus membatasi dirinya sendiri, agar tidak terkesan nyinyir: berpanjang-panjang dengan hal tidak perlu dibuat panjang kali lebar. Tetapi di sisi lain, saya harus menyampaikan bahwa Kiki perlu mempelajari bagaimana memadatkan teks puisi. Puisi tidak sama dengan prosa, maka  puisi tidak memerlukan keterangan tambahan jika sudah ada keterangan yang memadai, semisal “menyinari bumi” pada larik pertama; “yang menghiasi telingaku” pada larik ketiga; “yang jauh dari perkotaan” pada larik keempat; “apakah”  dan “yang dinamakan” pada larik ketujuh. Ia harus mampu mengendalikan godaan penggunaan keterangan yang tidak diperlukan puisi. Penulis puisi harus sadar bahwa pernyataan di dalam puisi tidak selalu bermakna eksplisit, bahkan cenderung implisit.
Selain Fajrun dan Kiki, saya menemukan banyak sekali yang berbakat, dapat diharapkan jika terus dipupuk dengan pupuk terbaik. Misalkan Amelia  dengan puisi “Karenanya”:  “.../Aku merindukannya/Tapi apadaya/Tak ada yang bisa/kulakukan/Hatinya terdiam /Terdiam dalam kepedihan/Sahabatku”. Puisi ini menggambarkan betapa pedihnya kehilangan seorang sahabat. Meski penguasaan bahasa sastranya belum benar-benar tampak, kejujuran seperti ini perlu dijaga, begitu juga dengan Sri Mahmudah yang menggarap tema persahabatan. Kelak, ini berguna untuk membangun jiwa di dalam puisi-puisinya.  Potensi yang sama juga dimiliki oleh Gina Chelsea, “Renungan Malam”: “.../Bayangan malam menyibak cahaya/Yang telah terutas namamu dan namanya/Garis keindahan yang menyulut mimpi/Terdiam di hati/Duhai pasma malam /Tampakkan warna dan lagu keindahan untukku”. Puisi yang secara umum dapat dipahami maknanya, tinggal memperkaya khazanah pengetahuan tentang kesusastraan saja.
          Potensi yang menggembirakan juga tercermin dari peserta didik yang lainnya, semisal Ira dengan puisi “Dingin” yang menggambarkan rintik hujan, rasa dingin, dan bunga. Leli Nur Febriyanti yang berusaha menggambarkan kampung halamannya yang seperti surga, yang kelak, akan menjadi catatan muram, karena kampung-kampung kini mulai diusik oleh napsu pembangunan dan kemajuan yang tidak terkendali. Sebagaimana puisi “Pantai” karya Sri Nayif yang mengamsalkan keindahan pantai dengan pelangi, kelak pantai itu adalah menjadi kenangan belaka. Berbeda dengan yang lainnya, Qudsiyah, melalui “Malam yang Sunyi”, menghadirkan tuma’ninah dan pertanyaan-pertanyaan tentang bayang dan bayangan. Lebih jauh Rizky dengan “Puisi Tanpa Judul” menghadirkan pemahamanannya terhadap surat Al-Ikhlas, ihwal ketauhidan. Puisi-puisi ini lahir dari kejujuran, meski tidak semuanya berhasil dari segi kebahasaan. Paling tidak satu bahan pokok sudah dimiliki, tinggal mempelajari proses memasaknya.
            Kira-kira demikian. Sebenarnya saya ingin membicarakan puisi Zila: “Pemuda Berseragam Darah”, Tasyriiyah: “Hatimu”, Udin Sholaddin: “Belahan Jiwa”, dan Umna: “Awan Hitam”. Hanya saja, hal tersebut tidak memungkinkan karena ruang yang terbatas.  Terlepas dari keterbatasan itu, kumpulan puisi peserta didik MTS Al-Khairiyah Karangtengah, seperti melihat oase di tengah gurun gersang. Semangat dan potensi yang ditunjukkan dapat diharapkan bagi perkembangan kesusastraan Cilegon.

Cilegon, 2 April 2016


)* Muhammad Rois Rinaldi, penyair, bergiat di Cilegon. Ia dinobatkan sebagai penyair terbaik Asia Tenggara oleh E-Sastera Malaysia tahun 2015 dan pada tahun 2014 puisinya, “Nun Serumpun”, menjadi puisi terbaik dunia pada perhelatan sastra dunia di Badan Bahasa dan Pustaka Malaysia. Dapat dihubungi melalui email: rois.rinaldi.muhammad@gmail.com.

Share this: