image1 image2 image3

HELLO I'M Muhammad Rois Rinaldi|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I LOVE TO DO CREATIVE THINGS|

KHAZANAH KELOKALAN DALAM PUISI-PUISI ELI AWALIAH

Oleh Muhammad Rois Rinaldi 



Puisi selalu punya waktunya sendiri untuk dilahirkan. Begitu pemikiran saya ketika menerima naskah puisi Kembang Pihong karya Eli Awaliah.  Bagaimana tidak, dalam naskah tersebut banyak puisi yang bertitimangsa puluhan tahun, bahkan usianya lebih tua dari saya sendiri (27 tahun). Dapat dibayangkan, betapa sabarnya ia membiarkan karyanya tersimpan, tanpa satu manusiapun yang membacanya. Secara tidak langsung, apa yang dilakukannya telah menyindir saya dan mungkin generasai saya yang tidak sabaran dalam berkarya, inginnya lekas dikenal dan dikaui. Di mana akhirnya banyak bermunculan kasus plagiat dan keanehan penggiat sastra yang tampaknya begitu ‘kesetanan’ ingin tampil di media massa, seolah-olah tanpa media massa mereka akan jadi sastrawan kesepian yang dikutuk seumur hidup.

Dari waktu yang jauh itu, begitu banyak yang disuguhkan oleh Kembang Pihong. Ada kesaksian tingkah pola manusia pada tahun yang jauh di belakang, kenangan personal yang kental dengan nuansa romantisme, rasa karsa seorang Ibu yang penuh cinta dan harapan, kesangsian pada peradaban manusia hari ini, dan masih banyak lagi. Saya menilai ini semacam potret waktu. Seperti melihat foto berjejer dengan latar belakang waktu yang berlainan dan tentu saja warna yang dari waktu ke waktu itu menunjukkan perbedaan yang cukup jelas. Perbedaan yang dimaksud tidak saja menyoal tema dan nuansa yang dibangun, melainkan perbedaan jelas terlihat pada intensitas kekaryaannya, keterjagaan teks puisi dari penyakit-penyakit puisi. Ini menandakan Eli Awaliah sebagai penyair yang tidak lelah menekuni proses kekaryaannya.

Secara umum, Kembang Pihong memuat puisi-puisi sederhana dengan penggunaan majas dan enjabemen yang tidak berbelit.  Yang menjadikanKembang Pihong cukup istiemewa adalah khazanah lokalitas yang begitu mendominasi. Kelokalan ini dieram menjadi satu pengertian dan pemahaman personal yang mendorong sebuah puisi diciptakan. Itulah sebab,  lokalitas yang dimaksud bukan dinilai dari penggunaan bahasa daerah yang diserap dalam puisi berbahasa Indonesia, sebagaimana yang kerap jadi tolok ukur pembaca untuk menilai lokalitas. Eli Awaliah telah melebur khazanah lokalitas tersebut di seluruh tubuh puisi, bukan hanya satu dua kata yang ditandai seolah-olah mewakili kelokalan. Misalkan pada puisi berikut.


    NEK, AKU PULANG

    Nek, aku pulang…

    Tapi rasaku ini terpelanting kian jauh
    Rindu tak terbalas
    Karena kampung yang kutinggalkan
    Tak lagi ramah, tak lagi mesra

    Tidak tampak gadis-gadis sepertiku dulu
    Mandi di sungai bersama
    Di antara batu-batu bisu
    Bernyanyi di bawah bulan purnama
    Sesekali tersipu ketika lewat jejaka desa

    (Rembulan kini, tak lagi istimewa
    Nyala listrik menggantinya)

    Nek…
    Aku pulang membawa rindu yang tanah
    Tanah yang abadi dalam ingatanku
    Di dekat nisanmu aku melihat pohon

    Pudak wangi, tumbuh

    Tanah kelahiran, 15 Maret 2005

Tidak ada kata atau frasa yang merujuk pada bahasa Cilegon, Banten, atau Indonesia apa lagi Nusantara yang absurd di dalam puisi tersebut, tapi nuansa yang dibangun adalah nuansa kelokalan. Tentang kali juga tentang gadis yang tersipu malu ketika melihat pemuda desa melintas adalah semua kisah Banten terdahulu. Di mana para gadis mencuci di kali menjadikan momen mencuci baju sebagai momen melirik dan dilirik lelaki yang dicintainya. Memang hanya bertemu mata, tidak lebih dari itu. Dikarenakan itu pula, perasaan cinta di masa lalu lebih apik, terjaga, dan indah ketimbang hari ini yang serba terbuka dan bebas, akhirnya tampak basi dan menjemukan. Paling tidak begitu yang dikisahkan orang tua saya.

Pada larik penutup di bait penutup Eli Awaliah menulis: “Pudak wangi, tumbuh”. Pudak dikenal juga dengan nama pandan duri, pandan tikar, pandan samak, atau pandan pudak. Dalam bahasa ilmiahnya dikenal denan sebutan Pandanus tectorius. Di Banten atau di Indonesia, umumnya, pudak digunakan sebagai bahan untuk membuat tikar (dikenal dengan sebutan Tikar Barus). Yang menarik, di Banten (mungkin di beberapa daerah lainnya di Indonesia) tikar yang terbuat dari pudak digunakan untuk ritual ibadah, seperti shalat. Jika ada anak bayi atau balita yang meninggal, tikar barus ini yang digunakan sebagai alas membopong mayat. Pada tempat lain, pudak ditanam di kuburan.

Lebih lanjut, diperhatikan judulnya, “Nek, Aku Pulang”. Judul tersebut mengisyaratkan kepulangan seorang anak manusia dari daerah yang jauh ke tanah nenek moyangnya. Judul ini di ulang sebanyak 2 (dua) kali di dalam tubuh puisi, memberikan tekanan tersendiri. Tidak heran jika puisi tersebut menjadi salah satu puisi Eli Awaliah yang kuat. Sebuah ingatan dan kenangan, realitas dan kecemasan, kerinduan yang hampa dan keharuan yang dalam, menjadi nuansa pembangun  yang hidup dan menghidupi. Melalui puisi tersebut, secara lembut Eli Awaliah juga membenturkan dua keadaan yang berlawanan, di mana manusia zaman sekarang lebih gemar oleh ilusi pembangunan fisik, sedangkan jiwanya kian roboh: “(Rembulan kini, tak lagi istimewa/Nyala listrik menggantinya)”.

Pada puisi lain, Eli Awaliah menggunakan kata benda yang berkaitan dengan peralatan manusia di kampung masa lalu. Dikatakan peralatan manusia di kampung masa lalu, lantaran meski benda-benda yang disebutkan di dalam puisi masih digunakan hingga hari ini, tapi sudah tidak sebagaimana dahulu kegunaan serta mitos-mitos yang tumbuh di sekitarnya. Mitos memang sudah tidak dipercaya hari ini, sudah tidak berdaya. Tetapi Eli Awaliah rupanya masih membuat mitos tersebut berdaya dan tentu saja dipercayai olehnya, sebagaimana dalam puisi berikut.

    PULANG

    Air leri mengalirkan rindu
    Pulang,
    pulanglah Abah!

    Kala petang aku memanggilmu
    Gentong pun melesat
    Ke selat sunda

    Wangi cengkeh merebak
    Aku lari kencang

    Ke Metropolitan

    Cilegon, 20122010

Kembali tajuknya mengandung kata “pulang”, tapi bukan itu yang perlu dibahas. Perhatikanlah “Air  leri”. Dalam bahasa Indonesia, air leri dinamai air cucian beras. Air cucian beras ini di kampung-kampung digunakan untuk menyiram tanaman agar subur. Selain itu, jika anak demam, akan dibubuhi beras kencur di kepalanya. Kemudian, apa hubungannya “air leri” dengan permintaan “aku lirik” kepada Abahnya?  Dalam kepercayaan masyarakat, anak perempuan akan dekat dengan orang tua laki-laki dan anak laki-laki akan dekat dengan orang tua perempuan. Air leri adalah kias untuk sebuah kedekatan si “aku lirik” kepada abahnya. Sebagaimana pendaringan yang disimbolkan sebagai bentuk ketelatenan seorang perempuan.

Yang tidak kalah menarik, pada larik kedua di bait kedua Eli Awaliah menulis: “Gentong pun melesat”. Waktu kecil, di kampung-kampung, sering dikisahkan bahwa orang dulu kalau hendak memanggil orang yang sedang pergi ke Mekkah bisa bicara melalui gentong. Hal tersebut pernah saya lakukan ketika Abah saya pergi ke Mekkah. Saya melakukan itu dengan sepenuh hati, meski saya tidak pernah tahu apakah benar suara saya sampai ke Mekkah atau tidak. Tetapi itu bukan hal yang perlu dibahas, ini soal masyarakat yang pernah percaya bahwa untuk menyampaikan kerinduan kepada orang yang pergi jauh dapat dilakukan melalui gentong. Kesannya memang konyol, tapi itulah khazanah masyarakat di masa lalu. Apa lagi sebelum ada pesawat, orang pergi ke Mekkah menggunakan kapal laut dan memakan waktu hingga 7-8  bulan untuk sampai ke tanah air.

Pada puisi lain, Eli Awaliah menunjukkan sebuah potret asal muasal kelahirannya sebagai manusia yang puisi atau puisi yang manusia. Kelahiran yang tidak semata dimaknai secara profan, sebagaimana memaknai kelahiran manusia dari rahim ibunya. Berikut puisi yang saya maksud.


    PERCAKAPAN DINIHARI

    Aku lahir dari puisi,
    betul kan, Mak?

    “Kamu lahir dari kepedihan!”

    Bapak yang membakarnya?

   “Bapak terapung apung di laut
   sebelum kamu lahir.”

    Cilegon 15 Nov 2014

Permenungan ke dalam diri ke luar diri dan kembali ke kedalaman diri telah dilakukan dalam puisi “PERCAKAPAN DINIHARI”. Nuansa yang dibangun adalah nuansa misteri yang dalam. Mengenai pertanyaan lugu: “Aku lahir dari puisi,/betul kan, Mak?” yang dijawab dengan jawaban tegas yang juga misterius: “Kamu lahir dari kepedihan!”. Antara “puisi” dan “kepedihan” yang dibenturkan dalam diaolog  melahirkan satu adegan yang phsychologis: antara harapan tentang kebahagiaan dan realitas yang tragis. Pada dialog yang lain pun demikian: “Bapak yang membakarnya?/“Bapak terapung apung di laut/sebelum kamu lahir.”. Mengapa pertanyaannya seperti tidak menyambung dengan jawaban? Apa kaitan antara kepedihan dan sesuatu yang dibakar bapak?

Sebelumnya dikatakan bahwa pertanyaan kelahiran yang diajukan itu bukan kelahiran dalam pengertian yang apa adanya. Begitu pula dengan kepedihan dan pertanyaan tentang susatu yang dibakar bapak. Hal ini dikarenakan Eli Awaliah memakai gaya simbolik: kelahiran sebagai lambang dari kesadaran pada titik terang, ‘Mak sebagai muasal kesadaran, laut sebagai alamat yang jauh dan sulit direngkuh, dan api (membakarnya) adalah simbol kemarahan atau kebencian. Melihat skema tersebut, puisi pendek yang terdiri dari lima larik ternyata tidak pendek makna, banyak yang harus diurai terlebih bicara mengenai unsur lokalitas di dalamnya.

Mengenai judul, mengapa tidak menggunakan percakapa petang, malam, atau siang hari? Mengapa harus dini hari? Dalam masyarakat kita (Indonesia), seorang anak perempuan akan bertemu dengan Ibunya di dapur, pagi-pagi sekali. Biasanya anak  perempuan dan ibu bahu membahu untuk mengerjakan apa yang harus dikerjakan. Percakapan yang dibuat dalam puisi “PERCAKAPAN DINI HARI” adalah percakapan yang terjadi di sela-sela kesibukan itu. Mengenai laut, Banten, khususnya Cilegon, merupakan daerah Pulau Jawa di bagian paling barat. Sangat dekat dengan laut. Lebih tegasnya, Eli Awaliah hidup di daerah pesisir, di mana laut memiliki nilai tersendiri di sisinya.

Begitulah kira-kira hal menarik dari Kembang Pihong di antara hal menarik lainnya. buku kumpulan puisi dari seorang penyair perempuan yang memilki 3 anak perempuan dan bekerja sebagai guru SD (Sekolah Dasar) di Banten ini.  Waktu telah mengajarinya untuk menjadi manusia yang peyair, di mana ia memahami betul di tanah mana ia berpijak dan di langit mana ia menggantungkan harapan. Perjalanan waktu di setiap jejak langkahnya telah mengantarkan ia kepada kepedihan yang dalam sebagaimana dalam puisi “Dalam Dua Musim”, “Bising”, “Desember”, dan “Getarmu”. Kepedihan itu menjadikan ia arif dalam membaca gerak tubuh manusia di tengah kehidupan yang kalap sebagaimana dalam puisi “Foto  Ibu”,  dan “Senandung Gembala”.

Sebagai penutup, puisi ini layak dibaca.

    KAPAN  PULANG NAK?
        
    Rengginang sudah emak goreng
    Blenyik ikan lemet sudah lama kering

    Kapan kamu pulang?

    Bukan masalah meja makan
    Tikar pandan warisan nenek
    —yang  setia  menunggumu

    Bapak tidak lagi membunuh ular
    dan meracun tikus

    Tapi capingnya telah terbakar.

    Kamis 4-Agustus-2014


* Muhammad Rois Rinaldi, Tokoh e-Sastera Indonesia 2013 (eSastera Malaysia) dan penerima Anugerah Utama Puisi Dunia (Numera Malaysia). Tinggal di Kramatwatu, Serang, Banten.

Share this: