image1 image2 image3

HELLO I'M Muhammad Rois Rinaldi|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I LOVE TO DO CREATIVE THINGS|

KETIDAKBERDAYAAN DI DALAM PUISI-PUISI UMAR


Oleh Muhammad Rois Rinaldi

I

terkadang terasa ingin pulang
tapi kutak tahu jalan pulang
biar kesedihan ini hanyut oleh angin
biarlah akhirnya cuma bersedih dan terdiam
alangkah sedihnya aku bila tak pulang

(Tak Tahu Jalan Pulang, Umar Rifqi Fuadi)


Saya selalu gembira ketika membaca dan diminta mengulas karya sastra yang ditulis seorang pelajar, seperti apapun karyanya. Begitu pun ketika saya membaca sepuluh puisi dari siswa SMA IT Darussalam Pipitan 2 bernama Umar Rifqi Fuadi. Karena pelajar merupakan generasi yang kelak akan menjadi pemegang estafet kesusastraan kita.  Menurut biodata yang saya terima, remaja ini mulai gemar menulis puisi sejak kelas 2 SMP. Ketika ia berusia 14 tahun, ia menjadi Juara 2 Lomba Cipta Puisi pada serangkaian acara Semarak Bulan Bahasa Diksatrasia Untirta 2014.  Membaca puisi-puisinya, sebenarnya banyak sekali yang ingin saya sampaikan. Tetapi karena ruang yang terbatas, saya tidak akan membicarakan semuanya. Beberapa saja, yang saya anggap cukup penting untuk diulas.
Secara umum, puisi-puisi Umar menunjukkan itikad baik, terutama kejujurannya mengungkap realitas. Realitas yang dijadikan tumpuan bagi puisi-puisinya merupakan gambaran kegelisahannya sebagai manusia yang masih bertitel pelajar formal (baca: anak sekolahan). Dari sepuluh puisi yang ia suguhkan, saya berasumsi bahwa ia tengah menghadapi pertempuran yang diciptakan oleh pikiran-pikirannya sendiri, semacam kegelisahan eksistensial. Hal ini ditandai oleh (1) muncul ketidaknyamanan  saat ia menyaksikan keadaan yang ia anggap tidak ideal menurut pengetahuannya; (2) kebingungan menentukan sikap untuk melawan, sedangkan di sisi lain ia melihat kapasitasnya sendiri yang tidak mungkin melakukan perlawanan dan pada saat yang sama, ia juga tidak ingin begitu saja menyerah; (3) ia akhirnya memosisikan diri sebagai orang yang tidak berdaya, mengutarakan kejadian demi kejadian dengan sedih dan bingung. Puisi “Ruang Kelas yang Runtuh berikut ini merupakan satu eksponen dari proposisi di atas.

RUANG KELAS YANG RUNTUH

embusan angin yang menepis kalbuku
mengubah gelap menjadi terang
menjadi sebutir keindahan
dan sesuap kata pun mulai terangkai

dalam keadaan yang mulai melampau
di dalam kelas hancur berhamburan

meski semrawutan
di situlah aku belajar
meratapi sebuah keadaan

2015

Tampak betul ketidakberdayaan dalam puisi ini. Ketidakberdayaan seorang pelajar saat melihat keadaan kelas yang perlahan runtuh. Ketidakberdayaan yang dijabarkan secara abstrak tersebut dikarenakan ia (baca: aku lirik) tidak mungkin dapat mengubah kebijakan sekolah untuk melakukan perbaikan. Bahkan, mengingat pemerataan fasilitas pendidikan di Indonesia yang tidak merata, pihak sekolah pun kerap tidak berdaya melakukan perbaikan fasilitas karena minimnya dana yang dimiliki sekolah, terutama sekolah-sekolah swasta. Ketidakberdayaan yang didominasi oleh kekecewaannya sampai pada puncaknya: “di situlah aku belajar/meratapi sebuah keadaan”. Meski pasrah dengan keadaan yang sedemikian rupa, tapi dari “muatannya”, tampak jelas bahwa keadaan yang sedang ia ratapi itu bukanlah keadaan yang sungguh-sungguh telah ia terima. Ada pergulatan yang tidak selesai. Sebagaimana pergulatan yang tidak selesai pula pada puisi berikut ini.

ENTAH APA MAKSUDNYA

sesosok pemuda
menjadi bahan cemoohan
menjadi lawan semua orang

entah apa maksudnya
merampas harta orang

bagiku dia bangkai tak berguna
hanya bisa merusak semuanya

entah apa maksudnya
membuat dunia ini seperti sampah
yang tersebar di mana-mana

entah apa maksudnya
mengubah hidupku
tak lagi indah

2015

            Bedanya, pada puisi pertama ia berbicara mengenai kelas, kali ini ia berbicara tentang keadaannya sendiri yang diakibatkan oleh orang lain: “sesosok pemuda”.  Sesosok pemuda tidak bernama ini rupanya dihadirkan untuk menciptakan tegangan dan tikaian. Meski tidak jelas mengapa ia demikian, paling tidak dapat dijejak bagaimana perangainya dan apa yang ia lakukan sehingga menciptakan kerusakan—walau masih perlu dipertanyakan, kerusakan semacam apa?  Lantaran kerusakan demi kerusakan yang diciptakan oleh sesosok pemuda,  dalam puisi ini ia menunjukkan kemarahan yang luar biasa membuncah: “bagiku dia bangkai tak berguna/hanya bisa merusak semuanya”.  Mulanya saya menduga, puisi ini bernada lebih tinggi dan optimis dibandingkan dengan “Ruang Kelas yang Runtuh”. Tetapi kemarahan itu pada akhirnya diantitesis oleh repetisi pertanyaan retoris: “entah apa maksudnya”. Kemarahan itu semakin menunjukkan ketidakberdayaannya ketika sampai pada bait terakir. Di mana ia menempatkan dirinya sebagai korban: “entah apa maksudnya/mengubah hidupku/tak lagi indah”.
            Dan beberapa puisi lainnya yang juga menggambarkan ketidakberdayaan itu, mungkin perlu saya ketengahkan di sini.

suara sungai mengalir dalam mimpi
dan burung-burung berkicauan

wajahku telah terdampar di pipitan
pagi tak juga melepaskan kerinduan
takkan diam hatiku tuk mendengar
tangisan yang menjelma menjadi air mata
                (Rindu yang Menjelma)

Puisi-puisi Umar ini sungguh saya hargai. Karena sebagai remaja yang menulis puisi, ia telah menyampaikan hal-hal cukup penting dengan jujur untuk ditelaah oleh pembaca dari berbagai sudut. Mengenai ketidakberdayaan demi ketidakberdayaan akrobatik, itu merupakan bagian dari kejujurannya. Ia jujur menyatakan ia tidak berdaya. Kenyataan telah memerangkapnya dalam berbagai kesulitan tanpa jalan keluar, bahkan ketika jalan keluar terbuka bukan menyelesaikan persoalan, malah mempertemukan dirinya dengan kesulitan yang lebih sulit.  Dan yang tidak kalah penting untuk dicatat, ketidakberdayan yang digambarkan di dalam puisi-puisi Umar, boleh jadi merupakan sampel penting untuk mengkaji cara pandang, sikap, dan sensibilitas remaja Indonesia dalam menghadapi realitas, termasuk hal-hal yang berkaitan dengan dirinya sendiri.

II
Tiba giliran membicarakan fakta tekstual puisi-puisi Umar. Apakah Umar telah cukup berdaya menciptakan puisi yang berkualitas? Sebenarnya bicara mengenai kualitas karya sastra, terlebih yang menulis adalah pelajar, terlalu berlebihan jika mengulas fakta tekstual secara kritis. Tetapi saya rasa ini perlu, agar dapat dijadikan pelajaran bagi penulis dan pembaca. Lagipula saya tidak mau meremehkan karya-karyanya dengan pikiran: “Hanya sekumpulan puisi yang ditulis oleh remaja 16 tahun!”. Toh, yang “sudah penyair” sekalipun belum tentu kualitasnya selalu dapat mengalahkan karya seorang pelajar. Dan perlu diingatkan, tidak ada  kalimat “sedang berproses” bagi puisi yang sudah dipublikasikan. Karena proses dilakukan ketika puisi sedang atau belum ditulis, bahkan dimulai sebelum berpikir dan memutuskan menulis puisi.  Persoalan seberapa jauh pencapaian puisi yang telah jadi itu, barulah persoalan hasil dari proses manusianya. Di mana proses adalah bagian tidak terpisahkan dari manusia semenjak dilahirkan hingga dimatikan.
Dilihat dari fakta tekstualnya, Umar belum cukup berdaya mengawal puisi-puisinya dengan baik. Dalam sepuluh puisi yang ia suguhkan, banyak titik fokus yang terbias atau dibiaskan. Tidak mudah menemukan maksud karya-karyanya. Meski demikian, pada beberapa puisi proses pemaknaannya tidaklah sepenuhnya sulit. Karena saat saya melakukan rekonstruksi sintaksis dengan mengusahakan subjek dan predikat pada beberapa bangunan kalimat yang kehilangan keduanya dan mengusahakan rekonstruksi semantis dengan beberapa soalan dan menemukan jawaban dari teks yang ada, maksud dari puisi-puisinya dapat dijejak. Sehingga saya menduga pembiasan ini disebabkan oleh ungkapan-ungkapan yang digunakan merupakan simbol personal, yang tidak semua orang dapat memahaminya. Berbeda jika yang digunakan adalah simbol universal, misalkan warna merah sebagai gambaran keberanian atau kemarahan, pembaca tidak akan kesulitan memaknainya. Tetapi bukan berarti saya menyarankan agar penyair menggunakan simbol universal dan menolak simbol personal, hanya saja perlu diperhatikan betul pemetaannya. “Bisikan Malam” berikut ini merupakan salah satu puisi Umar yang cukup sulit dimaknai.

gemericik air hujan
memecahkan kesunyian malam
angin-angin menggetarkan dedaunan
yang menusuk hingga ke tulang
memberi kesejukan di dalam kehampaan

inginku jadikan sebuah khayalan
dalam kesyahduan butiran hujan
yang kuukir dalam kata-kata
yang mungkin akan jadi kenyataan

2015

Bait pertama bermain dengan imaji audio-visual. Sebuah teknik pembuka yang cukup menarik. Tetapi Umar rupanya melupakan satu hal, imaji audio-visual tidak saja difungsikan sebagai gambaran tanpa makna, selain gambaran itu sendiri. Mungkin maksud Umar, bait pertama adalah pembuka, sehingga yang ia usahakan adalah bagaimana membuat gambaran yang menarik  dengan memunculkan “hujan”, “kesunyian malam”, “angin”, dan “dedaunan”. Sayangnya, benda-benda yang ia hadirkan tidak merujuk pada pengongkretan makna. Padahal keindahan puisi adalah keindahan yang kongkret. Keadaan teks puisi yang seperti ini dimungkinkan karena Umar terlalu dikuasai oleh kehendak penciptaan nuansa seperti “kesunyian” dan “kehampaan”.  Jadi, saya melihat kesadaran Umar untuk memanfaatkan imaji audio-visual untuk menciptakan nuansa yang kuat. Hanya saja ia belum dapat mengontrol (pro)porsinya.
Akibat dari keasyikan menciptakan gambaran-gambaran yang tidak terarah pada pembentukan makna, bait kedua hadir sebagai makhluk yang tiba-tiba ada. Apa yang ingin dijadikan khayalan? Semacam harapan? Harapan tentang apa? Harapan yang berkaitan dengan orang lain atau harapan yang berkaitan dengan dirinya? Apa dan siapa? Dalam kesyahduan butir hutan, untuk menggambarkan apa? Dan apa pula yang diukir dalam kata-kata? Kata-kata macam apa yang dapat diukir? Maksudnya, yang diukir dengan kata-kata? Usaha rekonstruksi semantis pun tidak cukup membantu untuk menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu. Semua terasa begitu tiba-tiba. Meski kejelasan dalam puisi tidak menjadi syarat mutlak, ambiguitas dengan kadar yang tidak tertakar dengan proporsional akan membuat pembaca bingung tanpa ujung.

III
Apapun, saya bangga terhadap Umar. Di usianya yang masih belasan tahun dan di tengah gempuran gadget yang mengalihkan dunia pelajar ke dalam dunia yang asing tanpa pijakan, ia menunjukkan ketertarikan terhadap dunia sastra yang konon menjemukan. Ia juga tidak memosisikan karya sastra sebagai kekosongan yang datang dari kekosongan dan berakhir pada kekosongan. Ia sudah mampu menangkap realitas dengan cukup baik. Selain itu ungkapan-ungkapannya cukup memiliki warna. Soal kualitas, barangkali hanya soal intensitas. Jika Umar tetap di jalan puisi dan tabah menghadapi godaan-godaan imaji abstrak yang memperdaya dirinya, saya yakin kelak ia mampu menjadi salah satu benteng kesusastraan Banten.  Terlebih, menurut kabar yang saya terima, ia adalah murid dari Encep Abdullah, sastrawan muda Banten yang sangat saya hargai karya dan semangatnya. Kabar tersebut paling tidak membuat saya lega, karena Umar telah ditangani oleh guru yang tepat.



Cilegon, 21 Maret 2016

Muhammad Rois Rinaldi, penyair, tinggal di Cilegon. Ia telah menerima penghargaan sastra tingkat Asia Tenggara selama 5 tahun berturut-turut dari organisasi sastra yang berlainan, di antaranya Anugerah Utama Puisi Dunia (Numera, 2014) dan Sastrawan Muda Terbaik Asia Tenggara (E-Sastera Malaysia, 2015). Dapat dihubungi melalui email: rois.rinaldi.muhammad@gmail.com



Share this: