image1 image2 image3

HELLO I'M Muhammad Rois Rinaldi|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I LOVE TO DO CREATIVE THINGS|

KETERPOJOKAN MANUSIA DALAM ARUS INDUSTRI




(Sekelumit pengantar bagi kumpulan sajak Alif Dede)

Oleh Muhammad Rois Rinaldi

Pada dasarnya, penulis senantiasa terpengaruhi oleh lingkungannya. Pada tingkat ekstrem, pengetahuan-pengetahuan tentang sekitarnya menjadi dasar bagi apapun yang ia tulis.  Di mana sajak yang bermula dari pengetahuan-pengetahuan langsung (baca: pandangan mata/kesaksian) disebut dengan sajak pristiwa atau sajak suasana (occasion poetry). Meski, sangat dimungkinkan pengetahuan juga didapatkan dari buku bacaan, koran, atau status-status Facebook. Mengingat ilham (epifani) serta pengalaman puncak (peak experience) dapat diperoleh dari mana saja. Dalam kaitannya, Pabrik Puisi karya Alif Dede menunjukkan peristiwa demi peristiwa dalam sajak-sajaknya, terlepas ia saksikan secara langsung atau ia baca dari berbagai sumber.
Dari kesaksian-kesaksian yang diketengahkan, Pabrik Puisi hendak menyadakan pembaca (meski sajak bukan kitab suci) bahwa ada pergeseran nilai di tengah manusia yang merasa makin memahami nilai; gegar budaya yang mengalihkan tindak pikiran manusia ke arah yang lebih kebinatangan; perubahan bentuk ruang dari yang dianggap ideal menjadi rusak; kekacauan mental manusia di tengah perubahan teknologi, paham, dan pandangan yang begitu melompat; dan harapan-harapan baik pada masa depan yang selalu dihantui kenyataan buruk. Pesan-pesan berbobot yang potensial menjadi sajak yang menarik itu ia tunjukkan pada: “Otakku pecah, lambungku mati/Jantungku mengeras!” (Pabrik Puisi 1), “Oh khasyah…/Angkat topi bambu 'tuk tuan tanah” (Pabrik Puisi 3: tangerang salah), dan perjalanan ini begitu jauh/dan berbahaya”Jalan Sufi 2).
Inilah yang saya sebut keterpojokan di tengah arus industri. Terpojok karena tidak tahu apa yang harus dilakukan, sedangkan semakin hari semakin nyata, banyak lahan yang hilang dan kampung-kampung berubah menjadi kota-kota asing.  Lebih lanjut, keterpojokan dalam sajak-sajak Pabrik Puisi lebih kurang menunjukkan keadaan yang 11-12, semisal kenyataan menyedihkan (baca: tidak sesuai dengan apa yang diharapkan) yang  tidak dapat ditampik, usaha untuk mengubah kenyataan selalu sia-sia, sedangkan orang-orang yang mestinya turut mengubah malah menjadi bagian dari pencipta kenyataan yang menyedihkan itu: “Kampungku Cikampret/berubah menjadi kota” (Rindu Desa 1). Sawah-sawah juga dijual oleh para petani dengan suka rela, mungkin lantaran tawaran harga yang tinggi, sehingga para petani silau mata: “Para petani mulai menjumlah/Dua-tiga sawah;/mereka hitung jadi satu rumah.”.
Keterpojokan semakin nyata dan kuat menjadi keadaan utama yang hendak dihadirkan di tengah pembaca. Si “aku lirik” berkali-kali menyatakan kerinduannya kepada desa, entah desa yang dimaksud adalah desa yang merupakan kampung halamannya atau desa imajiner yang sudah hilang ditelan industrialisasi, sebagaimana digambarkan dalam penggalan sajak berikut ini: “Ra, ini tentang tawa kita yang pulang ke desa/Angin rindu yang begitu muda, berjarak jagung serupa deret kereta.” (Rindu Desa 4) dan “Cinta memanggilku!/Kali ini suaranya jelas, karna ia hadir dalam bahasa asli.” (Hijrah 3). Saya tertarik menekankan sajak “Hijrah 3” pada “karna ia hadir dalam bahasa asli”, sederhana tapi pembaca memiliki ruang untuk menggali sendiri, apa yang dimaksud dengan bahasa asli di sana?
Sebagai manusia yang, saya yakin, memiliki peran sebagai agen sosial dan perubahan, semua keterpojokan yang disebutkan telah melebur menjadi keterpojokan dirinya sendiri. Keterpojokan manusia yang masih getol mempertanyakan realitas kekinian sambil menimbang dan membandingkan dengan masa lalu yang dianggap lebih seimbang/ideal. Lantas, apakah “aku lirik” memilih untuk menyerah dalam keadaan yang, tampaknya sudah tidak mungkin diperjuangkan lagi itu? Jika dirujuk dari beberapa sajaknya, saya menemukan sikap yang siap bertahan sebagaimana digambarkan dalam sajak berikut ini.

Pabrik Puisi 2
: Nasib Pribumi

'Tak terdengar lagi di telinga
Terbuang engkau di penghujung mata
Entahlah,
ini semua salah siapa?

Aku pergi demi harga diri
Tak mau jadi saksi urbanisasi
Biarlah,
'takkan kusesali lagi apa yang terjadi.

Batu kerikil sudah menjadi pabrik
Air sawah telah berganti limbah
Sudahlah,
orang pinggiran pantang menyerah!

tangerang, pabrik puisi
2011

Saya katakan bertahan, karena tidak saya temukan sajak-sajak perlawanan dalam Pabrik Puisi; didominasi oleh tema-tema kesaksian (untuk tidak mengatakan keluhan). Apapun, Pabrik Puisi telah mengantarkan saya pada pergulatan pemikiran yang cukup riuh dan menarik untuk diperhatikan. Bobot tema yang dibawa dan konsep ideologi yang ditawarkan secara umum punya daya tawar. Di mana manusia yang pribadi tidak lagi sebagai pribadi yang utuh dan angkuh, ia melebur dalam banyak pribadi dan keadaan. 
Memang tidak semua, pada beberapa bagian ditemukan kegelisahan-kegelisahan ihwal kekaryaan dan proses berkarya yang bersifat sangat pribadi. Termasuk kegelisahan eksistensial sebagai pengkarya puisi yang zaman ini akrab dengan sebutan penyair—karena sebutan Poejangga telah jadi olok-olok di masa Chairil Anwar sebagai bentuk olok-olok kepada Sutan Takdir dengan Poejangga Baroe-nya. Kegelisahan yang membawa pembaca kepada protes “aku lirik” yang ingin keluar dari kungkungan kelaziman estetika perpuisian yang seolah menjadi rumus baku dan kaku: “Aku rindu puisi/Aku mau puisi/Aku tak mau dibatasi” (Rindu Puisi). 
Terakhir sekali, saya ingin menyampaikan bahwa dalam dalam proses membaca kumpulan sajak, saya selalu memperhatikan dan diam-diam mengelompokkan sajak-sajak tersebut dalam tiga golongan. Pertama, sajak-sajak yang secara teknis kebahasaan masih kedodoran di sana sini, tapi memiliki potensi yang baik dari segi makna dan bobot pesan yang ingin disampaikan. Sehingga, posisi sajak yang demikian, mestinya bersabar lebih dahulu untuk memperbaiki teknis. Kedua, sajak-sajak yang baik dari segi teknis kebahasaan, tapi baru semacam akrobat seperangkat teori, sekian piranti linguistik, dan kemahiran sulam-sambung kalimat. Tidak sampai pada kekuatan makna dan bobot pesan. Akhirnya, yang dapat ditemui hanya kekosongan dalam pengertian yang sesungguhnya. Jika dikaitkan dengan konteks wacana, hanya sampai pada konteks linguistik belum menyentuh ranah konteks ekstralinguistik Dan ketiga adalah sajak yang sudah memenuhi kekurangan yang ada pada golongan pertama dan golongan kedua.
Dalam kaitannya, ketika saya menerima naskah Pabrik Puisi karya Alif Dede, secara umum dapat dimungkinkan masuk golongan pertama. Oleh sebab itu, saya yang diminta memberikan kata pengantar menitikberatkan pada potensi yang baik dari segi makna dan bobot pesan yang ingin disampaikan; itu yang paling mungkin dapat dibicarakan. Kelak jika Alif Dede kembali menerbitkan kumpulan sajaknya, saya berharap dapat bicara lebih luas lagi. Dengan kata lain, Alif Dede dapat menunjukkan progress yang menggembirakan. Semoga.  ***

Banten, 7 Desember 2015



Share this: