image1 image2 image3

HELLO I'M Muhammad Rois Rinaldi|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I LOVE TO DO CREATIVE THINGS|

KECENDERUNGAN SAJAK-SAJAK HAMIZUN SYAH


(SEKILAS ANALISA UNTUK BUKU MASUK KE DALAM)

Oleh Muhammad Rois Rinaldi


I
pada sunyi – pada risau
memancing sebutir petanda keabdian.

Laman itu, cerah bulan berkembang
bayang tanah menyuluh pulang
moga siang, matahari masih terang.

(Hamizun Syah, Sebutir Bulan Berkembang)

Apabila saya memperhatikan, mencermati, dan memberi catatan bagi sajak-sajak yang diciptakan penyair Malaysia masa kini, saya menemukan pergeseran bentuk sajak. Mulanya sajak-sajak di Malaysia didominasi oleh sajak-sajak lirik dengan “ke-aku-an” yang begitu kentara serta pemilihan kata yang cenderung padat dan begitu mementingkan bentuk, kini beralih menjadi naratif. Rupanya demikian pula ketika saya mencermati kumpulan sajak Hamizun Syah, penyair Malaysia yang mulai menunjukkan itikad baiknya terhadap dunia kesusastraan dan proses penciptaan karya sastra.  Dalam kumpulan sajak yang ia beri tajuk Masuk ke Dalam tampak sifat-sifat  naratifnya. Meski demikian, yang paling dominan ternyata sajak-sajak lirik yang berisi luapan batin individual penyairnya dengan segala macam endapan pengalaman, sikap, maupun suasana batin yang melingkupinya. Semisal sajak berikut ini:

TUNGGU AKU DI LANGIT

aku hanya tahu menggolek tayar juang
merentas ceruk cerita penuh calar
kurang bijak memastikan bunga bahasa
berbentuk sekeping nota syahdu
merayu ke sukma sepimu.
jauh di langit ragu, kau sudi berkerdip
belum tentu setia menunggu.

aku, penggelek sajak-sajak lecah suara manusia.

pun begitu, aku siap siaga sebagai wiramu
bukan selaku perampas – malah bertambah seri
ke rindu bulan, bakal menjadi tempat beradu.

mulai hari ini, aku mesti gigih belajar mencorak
madah secukup manja, moga kau pun akur
tentang risau tersimpan di mata dan di hatiku


Selain bentuknya yang lirik, sajak “Tunggu Aku di Langit”, dilihat dari gaya ucap dan semangat ideologinya, juga mengingatkan saya pada sajak Chairil Anwar, penyair legendaris Indonesia, bertajuk “Aku”:

AKU

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari

Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi


Ada suara yang meradang dan menerjang; keakuan yang begitu kental dan perspektif aku yang seolah tidak dapat ditawar lagi; tawaran sebuah pandangan dan ketegasan menunjukkan sikap di tengah sikap lain yang berseberangan adalah “nilai” yang hendak ditawarkan Hamizun sebagaimana yang ditawarkan Chairil—pada kesempatan ini saya tidak membicarakan kemampuan teknis, karena Chairil tentu sudah memiliki teknis yang teramat matang. Perbedaannya, Chairil benar-benar meradang hingga berdarah-darah dan menerjang hingga pertarungan habis-habisan, sedangkan Hamizun memilih menyampaikan dengan nada rendah dan volume yang riuh redam. Barangkali kesadaran mengenai esensi perspektif manusia yang tidak mutlak (nisbi) sebagaimana yang digambarkan dalam larik: “kurang bijak memastikan bunga bahasa” menjadi landasannya.
Perspektif yang merupakan hasil dari penyerapan berbagai dimensi, katakanlah 3 dimensi ruang+dimensi waktu (ala Albert Einstein) dan + dimensi 5 yang diduga ada dan hadir tapi tak tampak atau metafisik, yang menahan Hamizun untuk tampil lebih heroik. Malah, ia lebih memasrahkan kemungkinan meski tidak memasrahkan sikap sebagaimana digambarkan pada dua larik berikut ini:  mulai hari ini, aku mesti gigih belajar mencorak/madah secukup manja, moga kau pun akur”. Sebuah harapan yang pada akhirnya dikembalikan kepada “kau” lirik (“kau” lirik adalah tokoh dalam sajak yang berhadapan dengan “aku” lirik, tokoh aku dalam sajak).

 Pada umumnya, sajak-sajak lirik cenderung disiplin menerapkan rima akhir, seperti rima pantun, tapi Hamizun rupanya memilih untuk tidak mendisiplinkan rima akhir dalam sajaknya. Ini saya sebut sebagai pilihan dan setiap pilihan selalu layak dihormati dan diapresiasi secukupnya.  Meski tidak mendisiplinkan rima akhir, tidaklah perlu mengkhawatirkan sajak-sajak Masuk ke Dalam kehilangan musikalitasnya. Karena bagaimanapun, sajak tetap menawarkan musikalitas, sekali pun sajak bebas.  Bahkan pada sajak Tak Perlu Melaung Lagi”, ada yang menarik untuk diperhatikan dengan seksama.


Andai arif, apa itu ‘sayang’
sedar selalu
kesetiaan tak punya bayang.

Tak perlu sebarang laungan
cukup aku seorang yang tahu
Kau, sentiasa tak sesaat pun berpaling.

Pada penggalan sajak di atas, dapat dilihat dengan jelas bahwa ia telah memainkan rima akhir pada bait awal, kemudian terjadi pergeseran mencolok pada bait berikutnya. Penyebab pergeserannya dimungkinkan pada 3 (tiga) hal. Pertama, kesengajaan yang dilandasi oleh pilihan untuk tidak mementingkan rima akhir. Kedua, usaha untuk menunjukkan kepada pembaca bahwa sajak tidak harus berima akhir. Ketiga, ketidaksadaran penyair terhadap pergeseran nada dalam sajaknya.  Dari ketiga kemungkinan yang dipaparkan, saya lebih mempercayai Hamizun telah melakukannya dengan sengaja.

Selain itu, Hamizun juga tidak melakukan eksperimen enjabemen, sebagaimana yang, pada abad 21 ini, begitu genjar dilakukan penyair-penyair Indonesia. Enjabemen adalah tata kalimat dari akhir baris di atasnya ke awal baris berikutnya. Di dalam puisi/sajak,  enjambemen diartikan sebagai larik sambung, larik yang secara sintaksis melompat, bersambung ke larik berikutnya. Yang dimaksud eksperimen enjabemen adalah pemenggalan yang tidak lazim, kadang satu larik yang kalimatnya tidak selesai dipenggal begitu saja oleh penyairnya dengan tujuan menguatkan musikalitas, pemaknaan, atau tujuan-tujuan estetik lainnya. Misalnya pada penggalan sajak “Dan Kematin Makin Akrab” karya Subagio Sastrowardoyo berikut ini.


Kita selalu
berada di daerah perbatasan
antara menang dan mati. Tak boleh lagi
ada kebimbangan memilih keputusan :
Adakah kita mau merdeka atau dijajah lagi.
Kemerdekaan berarti keselamatan dan bahagia,
Juga kehormatan bagi manusia
dan keturunan. Atau kita menyerah saja
kepada kehinaan dan hidup tak berarti.


Berbeda dengan sajak-sajak Hamizun yang lebih memilih lurus-lurus saja, misalnya enjabemen sajak Semalaman di Malam Nanti” ini:

Malam nanti, sekujur syukur rebah, di musala rindu.
Malam nanti, risau doa merangkak, menyelak suhuf diri.
Dan; Malam nanti,
kerdip istighfar, jangan sekelip pejam pun terpadam
meski sekian semalaman, telah pun tertumpas.

Tetapi perlu diketahui, eksperimen enjabemen bukanlah kewajiban yang harus diterapkan semua penyair, itu hanya pilihan yang boleh diambil dan boleh ditinggalkan.

Mengenai penyimpangan, penyimpangan yang dilakukan oleh Hamizun ada pada penggunaan huruf kapital setelah titik (.) atau tanda baca lain yang mengharuskan menggunakan huruf kapital dalam penggunaan bahasa yang baku, misalkan pada sajak Di Mana Suara Air dan Mas”

barangkali belum melukut alpa ke gigil suara air dan mas
meraba tanya ke warna dan nama sang hijau berpelepah
sujud dalam mihrab ruhul kuddus. salam; saudara.

salam saudara? saudara sayakah itu, setia tak rela tirani
mata maghrifah, ketika merak majnun satu lagi muncul
mengepak sayap brahma melewati lapangan injil
tanpa manjur nama dan mungkas warna, biru tersembunyi.


Penyimpangan penggunaan bahasa yang dilakukan penyair sudah menjadi barang lazim. Meski bagi kaum strukturalis penyimpangan bahasa merupakan dosa besar, tapi pada kenyataannya, penyimpangan bahasa masih menjadi pilihan untuk sampai pada tingkatan estetik tertentu. Seperti apa capaian estetik yang hendak diciptakan oleh penyair, tentu saja berbeda-beda.

II
Selanjutnya mari membaca kecenderungan lain dalam sajak-sajak Hamizun. Pada beberapa sajak, Hamizun menunjukkan kecenderungannya pada sajak  naratif yang lebih bertutur, memiliki tegangan-tegangan setting baik ruang, waktu, maupun suasana, serta tokoh dan penokohan dalam rangkaian peristiwa yang menciptakan suatu kisah demi menyampaikan amanat dan motif ideologis lainnya. Perhatikan sajak “Semenanjung Sejarah Emak”.


emak bertahan teguh, enggan membunuh sejarah
lima tahun usia anak pertama terseret bersama
luka-luka penceraian berbekas siksa seluruh sukma.

dari hujung semenanjung tanpa bergelar isteri
menggalas selaksa beban amat berat
ke utara tanah tumpah bersabung untung.

emak mengharung segala, enggan menghina sejarah
beberapa kali bernikah, bukan rungutan tak penting
ada yang lebih wajip untuk anak-anak mengerti.



Pada sajak tersebut, Hamizun menghadirkan tokoh “Emak” sebagai tokoh utama yang harus menghadapi keadaan yang teramat berat bagi perempuan mana pun di muka bumi ini, yakni perceraian. Mengenai pilihan untuk menikah yang bukan semata rungutan atau kehendak pribadi yang egois, melainkan karena hal lain yang lebih penting yang harus dimengerti oleh anak-anaknya. Nah, apa yang perlu dimengerti rupanya tidak ditulis. Mungkin ini disengaja agar pembaca menerka sendiri, nilai apa yang dapat diambil dari tokoh “Emak”, lengkap dengan tegangan, pergulatan, dan pilihan-pilihan yang harus diambil di tengah keadaan yang teramat sulit.  Sajak ini boleh juga saya anggap sebagai sajak yang cukup baik. Pada bait terakhir saja yang saya tidak paham fungsi kehadirannya dan saya serahkan kepada segenap pembaca untuk memaknainya: “emak! terima kasih tak terhingga/ampunkan kami, begitu bersalah dan sering lupa/bermusim dikau, memikul tanggungan abah.”.

            Sajak “Perlimau” di bawah ini juga dapat menjadi rujukan untuk membaca kecenderungan Hamizun Syah pada bentuk-bentuk sajak naratif.

Ayah! Tanah ini pusaka nenek moyangkah?
Sahih!
Telah memperlimau jiwa para wira
*Tok Janggut – Mat Kilau – Tok Bahaman*
Ramai pendekar Melayu tak mudah goyah
darah sekaligus nyawa menjadi taruhan
perhitungan hidup-mati. ~Nyah!~
Sang penjajah, usah memeras menindas
nafas peribumi.
Mereka berdoa: “Ya!Tuhan, bahagiakan
cucu-cicit sentiasa selesa bertauhid.”


Mengapa Hamizun memasuki wilayah naratif juga, padahal ia menulis sajak dalam bentuk lirik? Ini yang saya sebut sebagai usaha pencarian bentuk. Sebuah proses pastinya menghadirkan banyak pilihan, dan pada saat ini Hamizun memilih bentuk lirik dan naratif.

 Demikian kiranya sekilas analisa mengenai bentuk-bentuk sajak dalam Masuk ke Dalam karya Hamizun Syah.  Saya harap Hamizun tidak lelah untuk terus berproses, bergerak, dan mewarnai dunia kesusastraan di Malaysia. Bagaimanapun, sastra memang layak dijadikan jalan keempat untuk menemukan kebenaran, setelah agama, sains, dan filsafat.

Banten, Indonesia, Januari 2016

Muhammad Rois Rinaldi, penyair yang telah menerima berbagai penghargaan sastra tingkat Internasional, di antaranya Anugerah Puisi Dunia (Nusantara Melayu Raya, 2014), Anugerah Penyair Siber (E-Sastra Malaysia, 2014 & 2015). Bukunya yang bertajuk Sastracyber: Makna dan Tanda menjadi buku terbaik 2005-2015 di Malaysia (E-Sastera Malaysia, 2015). Dapat dihubungi melalui email: rois.rinaldi.muhammad@gmail.com.

Share this: