image1 image2 image3

HELLO I'M Muhammad Rois Rinaldi|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I LOVE TO DO CREATIVE THINGS|

SEBUAH PENGANTAR UNTUK LIKALIKU LAKILUKA



PENYAIR YANG TEGAK
DI ANTARA KEYAKINAN DAN KERAGUAN
(Sebuah Pengantar untuk Likaliku Lakiluka Karya D.A Akhyar)

Oleh Muhammad Rois Rinaldi *)

D.A Akhyar merupakan penyair/penyajak yang beberapa tahun ini mengakrabi dunia persajakan. Ia yang, saya perhatikan, lebih memilih jalan persajakan yang naratif menunjukkan progres dari waktu ke waktu. Artinya, ia bukan pemuda yang malas belajar. Sebagaimana fitrah manusia yang tidak mungkin berhenti belajar semenjak kelahiran hingga kematian.  Dikarenakan itulah, ia (rupanya) selalu berusaha memaknai apa saja yang tampak di depan matanya, yang ia dengar, yang ia rasakan. Gejala sosial, gegar budaya, hura-hura perpolitikan, suara-suara rakyat, suara-suara pembesar, harapan, dan keputusasaan hilir-mudik di dalam kumpulan sajaknya. Sebagai penyair yang manusia atau penyair yang berusaha memberi jarak dari manusia sebagai yang bukan manusia.

Dalam kumpulan sajak yang ia beri tajuk Likaliku Lakiluka—sebuah tajuk yang cukup unik dan rumit—saya menemukan usaha-usaha perekaman, penelahaan, pemahaman, dan pengejawantahan realita-realita an sich  dalam teks sastra, dalam hal ini sajak. Tentu saja realitas an sich yang saya maksud tidak tampil apa adanya. Di sini realitas an sich disikapi sebagai kumpulan bahan baku yang  diolah oleh pemikiran dialektik. Di mana proses, hubungan, dinamika, konflik, dan kontradiksi bergerak dengan dinamis menciptakaan cara berpikir dan citraan tentang sebuah dunia. Pemikiran dialektik inilah yang menjadi mesin penggerak yang menentukan arah  atau sikap sebuah sajak, sebagaimana sajak “Jerebu Berkalut” berikut ini.

Esok, jika air sudah tergenang
Itupun sebatas harapan. Nyatanya, jerebu berkalut
Aku ingin jatuhkan embun pada aroma hangus
pada cara meramu rempahrempah hari depan,
kesegaran nyawa yang hampir meregang
bukan sekadar perhatian-perhatian
yang tanpa diingatkan

__ Pun aku, tak terlalu percaya pada ;
istilah menunggu waktu yang tepat,
lebih percaya dengan istilah :
menuju waktu yang tepat
jangan main abuabu
ini masalah jerebu!

Prabumulih, 5/11/15

Sajak “Jerebu Berkalut” menitikberatkan “nilai” pemaknaan pada kata “percaya”.  Penyair rupanya memilih tidak mempercayai ungkapan yang popular di tengah masyarakat: “menunggu watu yang tepat”. Ia mengajukan opsi ungkapan yang lain: “menuju waktu yang tepat”. Di sini pembaca dapat menemukan sikap dan sifat penyair atau untuk lebih amannya tokoh rekaan dalam sajak: “aku lirik”. Ketidakpercayaan berarti ketidakyakinan akan kebenaran yang dikandung dalam sebuah pandangan atau suatu persoalan. Ketidakyakinan ini dapat dilatarbelakangi oleh dua kemungkinan. Pertama, karena ada kebenaran-kebenaran yang ditemukan dari hasil penyelidikan sendiri. Dengan kata lain, kebenaran yang telah sesuai dengan realitas; pertemuan antara ide dan fenomena. Kedua, hasil dari pandangan orang lain yang diterima sebagai kebenaran. Dalam hal ini, kepercayaan dapat disimpulkan sebagai sesuatu yang dianggap memiliki kebenaran.

Tetapi tingkat kepercayaan atau keyakinan dalam “Jerebu Berkalut” ternyata tidak 100%. Pada larik pertama dinyatakan: “__ Pun aku, tak terlalu percaya pada” (saya tidak paham, em dash di sini fungsinya apa). Tak terlalu percaya artinya tidak juga benar-benar menampik kepercayaan yang ada. Seperti seorang bujang yang berkata, saya tidak terlalu mencintai perempuan itu. Artinya, si bujang mencintai si perempuan meski tidak terlalu. Jika kepercayaan disandingkan dengan keraguan, nilainya sama: keragu-raguan itu sendiri. Atau jika dinilai dengan angka, kembali pada titik nol. Nilai nol ini dapat dianalogikan dengan oksidator yang dipertemukan dengan reduktor dalam keseimbangan reaksi redoks. Keduanya menjadi nol ketika sampai pada bilangan redoks dan terjadi serah terima elektron.  Maka nilai sajak ini memiliki sikap yang sama dengan ketidakpercayaan yang diajukan.

Yang menarik, pada dua larik terakhir sajak ini menegaskan: “jangan main abuabu/ini masalah jerebu!”. Warna abu-abu jika dikaitkan dengan sikap manusia merupakan symbol universal yang dimaknai sebagai sikap yang plin-plan, tidak jelas arahnya. Pada konteks tertentu, manusia masa kini menyebutnya dengan sikap yang pragmatis. Jika dikaitkan dengan sikap yang tidak terlalu percaya di larik pembuka di atas, ada yang perlu ditelaah lebih jauh. Apakah yang dimaksud harus segera menentukan sikap—mengingat yang sedang dibicarakan dalam sajak ini mengenai asap pembakaran yang bulan-bulan belakangan menjadi wabah dan petaka bagi bangsa Indonesia—untuk segera memberI tahu siapa dalang di balik pembakaran? Dan juga seruan kepada pihak-pihak terkait agar segera mengambil tindakan, bukan berwacana sebagaimana disuguhkan dalam media-media massa. Rasanya memang begitu, merujuk pada istilah “menunggu” dan “menuju” yang dipertentangkan dalam sajak.

Mengenai kegamangan yang ditunjukkan pada larik pertama bait kedua, saya belum memaklumi meski saya memahami bahwa dalam kepercayaan tingkat kebenarannya tidak selalu mutlak. Tetapi kalau ditarik kembali pada sikap, kebenaran tidak selalu menjadi landasan utama bagi seseorang untuk menunjukkan keyakinan. Terlebih kebenaran bagi masing-masing manusia tergantung dari pengetahuannya, baik pengetahuan filsafat, sain, maupun agamanya.

Terlepas dari ketidakmakluman dan pemahaman saya, pada umumnya, sajak-sajak D.A Akhyar bermain di wilayah fakta objektif dan opini publik. Di mana fakta objektif merujuk pada realitas sebagaimana yang saya paparkan di muka dan opini publik merupakan candradimuka bagi kebenaran, di mana kepentingan pribadi (self interest) dan kepentingan kelompok (social interest) bertemu menjadi wahana yang luas dan liar. Pada kesempatan ini saya tidak atau belum dapat memasukkan fakta ilmiah sebagai bagian dari Likaliku Lakiluka. Butuh waktu panjang dan referensi yang bejubel untuk menelitinya. Lantas bagaimana sikap sajak-sajak yang lain di tengah kedua hal yang saya paparkan? Perhatikan beberapa penggalan sajak berikut ini.

Keheningan bagaikan spiral;
mengungkung dan memagar,
juga  pusaran  spiral tornado
menggulung   habis-habisan,
mematikan  kebebasan suara
melenyapkan   suara  rakyat.

(TERJAJAH DAN TERBUNGKAM)


Tuan...
Lihatlah kami disini
bukan ingin iba juga kasihan
kudengkur seharian; hanya sarapan kata
Of The Record! Of The Record! Of The Record!
gersang lembaran harianku, menunggu ungkapan baru
tanpa kata untuk tetap mengunci katakata
Tapi dengan kejujuran ucapan tuan
itulah sebenarnya kebenaran
Terungkapkan!

(SARAPAN BERITA TERKUNCI)

           
Kerakera menerka
rekanrekan merekareka
rekaan kera tak terkirakira
lantas teriakteriak memerintahnya
“Ker[j]a, ker[j]a dan ker[j]a”

(KER[j]A-KER[j]A)

Dalam perspektif “Terjajah dan Terbungkam”, yang diam-diam tampak diam tanpa persoalan sesungguhnya spiral yang melingkar-lingkar. Di mana di tengah lingkaran itu ada yang terjajah dan terbungkam. Sebuah lingkaran besar yang berhasil menggulung setiap perlawanan. Sikap yang diambil oleh sajak ini adalah penyadaran bahwa ada yang sungguh-sungguh tersembunyi di balik semua yang ditampak-tampakkan. Sajak ini jauh lebih ajeg/tegak berdiri dibandingkan “Jerebu Berkalut”.  Premis-premis yang diajukan merujuk pada sebuah pandangan yang tidak gemetar dan tidak gentar.

Senada dengan “Terjajah dan Terbungkam” sajak “Sarapan Berita Terkunci” juga menunjukkan sikap yang tiada ragu menyatakan bahwa ada di tengah opini masyarakat yang berkembang dan mengembang ada satu hal yang menjemukan bahkan mungkin perlu perlu dbongkar: “Of The Record! Of The Record! Of The Record!”.  Di mana ungkapan itu seolah-olah menjadi tameng untuk menghalalkan tindakan penutupan fakta dari pengetahuan publik, dalam hal ini rakyat. Rakyat dibiarkan bingung dan terjebak huru-hara. Masing-masing bertanya dengan jawaban-jawaban aneh: Of The Record! Of The Record! Of The Record!”.  Untuk menunjukkan ketegasannya, penyair menutup sajak ini dengan dua larik yang cukup berani:  itulah sebenarnya kebenaran/Terungkapkan!”. SIkap yang menujukkan keyakinan bahwa kebenaran telah sesuai dengan realitas, di mana ide dan fenomena saling mendukung.

Dan pada sajak “Ker[J]A-Ker[J]A” tidak menunjukkan ketidakyakinannya melalui tulisan, tapi menunjukkan ketidakyakinan manusia masa kini di negerinya pada suatu rezim yang dianggapnya suka bikin “kerja”; suka bikin “kera”.  Dengan eksperimen bahasa yang cukup ekstrem, D.A Ahyar berusaha menunjukkan betapa orang-orang bekerja sambil menerka-nerka untuk apa bekerja dan mengapa tidak bekerja. Hingga orang-orang bingung, dalam rutinitas kerja yang tanpa sempat berpikir dan menjawab pertanyaan esensial mengenai pekerjaan yang dilakukan, apakah mereka masih manusia atau sudah kera? Pemaknaan antara manusia dan kera ini dapat dilihat dari judulnya: Kara huruf “j” pada kata “kerja” berada dalam tanda kurung. Ini artinya boleh dibaca “kerja” dan boleh juga dibaca “kera”.  

Masih banyak sajak yang menunjukkan sikap yang penuh keyakinan, penuh keraguan, dan sikap yakin sekaligus ragu yang jadi satu. Barangkali inilah kumpulan sajak yang diciptakan di tengah persoalan hidup, kehidupan, dan penghidupan yang kian mengeras dan panas. Penyair yang ada di dalamnya akhirnya dibayang-bayangi oleh kegelisahan eksistensial. Kegelisahan keberadaan dirinya di tengah manusia yang lainnya. Begitu banyak pertanyaan sekaligus pernyataan tersirat mengenai fungsi dirinya sebagai manusia yang hidup di tengah kehidupan yang kehilangan daya hidupnya. Semoga penyair ini tetap gelisah dan tetap menulis untuk menemukan hakikat manusia yang manusia. ***


Share this: