image1 image2 image3

HELLO I'M Muhammad Rois Rinaldi|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I LOVE TO DO CREATIVE THINGS|

PERTANGGUNGJAWABAN DAN KEPUTUSAN 11 PUISI517 PILIHAN TAHUN 2015




PERTANGGUNGJAWABAN DAN KEPUTUSAN PENGURUS PUISI517;
11 PUISI517 PILIHAN TAHUN 2015

Proses pemilihan puisi merupakan proses yang cukup menyebalkan. Karena puisi pada dasarnya selalu memiliki daya tawar, siapapun penciptanya dan seperti apapun puisinya. Puisi tidak dapat diposisikan sebagai “sesuatu” yang dapat dinilai dengan angka dan dijumlahkan nilainya menjadi sekian dan sekian. Tetapi selalu ada tolok ukur untuk menentukan pilihan, seperti memilih antara ribuan perempuan cantik, ada spesifikasi khusus ketika menentukan dan memilih satu di antara ribuan itu. Sama halnya dengan perempuan cantik, spesifikasi yang diterapkan terhadap puisi boleh jadi sangat subjektif, tergantung kecenderungan. Akan tetapi, di sini kami berusaha menampik subjektivitas tersebut dengan merujuk kepada pengetahuan kami mengenai puisi, jadi tidak disandarkan pada perasaan belaka.
Sebanyak 230 Puisi517 yang telah kami dokumentasikan kami pilih dengan seksama dan hati-hati. Secara umum perlu kami sampaikan, puisi pada masa ini ternyata masihlah menjadi satu jalan yang disukai oleh manusia untuk menyampaikan gagasan, dunia ide, dan pandangan-pandangan hidup, termasuk juga beberapa yang rupanya berusaha berkeluh kesah melalui puisi. Ini menggembirakan, mengingat puisi yang diproduksi dalam bentuk buku masih harus menerima kenyataan tertolak dari pasar umum dan sedikit sekali yang meminati, ternyata tidak membuat orang malas atau menyerah menulis puisi. Akan tetapi, selalu ada yang mengkhawatirkan di tengah kabar gembira. Masih banyak Puisi517 yang terjebak pada kelaziman sudut pandang semisal “gelas kosong” yang dimaknai sebagai gelas kosong saja, tidak kami temukan penyair yang menyatakan “kekosongan di dalam gelas”.
Persoalan lain, kami mesti menyampaikan bahwa “keindahan puisi” tidak terletak pada akrobat bahasa yang dibuat sedemikian mendayu, menggebu, wah, dan berbunga-bunga. Sehingga kekuatan makna yang ditemukan lemah, bahkan pada beberapa puisi kami tidak menemukan makna yang terarah dan fokus. Mestinya, kalau boleh memberikan satu pandangan, saat menulis puisi yang perlu ditekankan adalah untuk apa menulis puisi dan apa yang hendak disampaikan, bukan bagaimana merangkai kata agar tampak indah. Pengolahan imaji pada beberapa puisi juga tampak berlompatan dan tidak sabar, bahkan ada yang sama sekali tidak memahami posisi imajinasi dalam sebuah puisi. Persoalan ini, tidak saja terjadi di sini, tapi menjadi persoalan umum perpuisian hari ini, baik di Koran maupun di antologi puisi yang beredar pada decade 202. Mungkin juga ini warisan dari ketidaksanggupan penyair untuk memerdekakan dirinya dari hal-hal klise—klise yang tidak wajar.  
Dari sekian yang tampak kedodoran, tidak sedikit juga yang, kami nilai cukup selamat. Dalam pengertian, puisi-puisi yang sudah dapat ditemukan maknanya. Sudah sanggup menaklukkan emosi berlebih yang dapat merusak esensi puisi itu sendiri. Itulah landasan utama yang digunakan oleh pengurus untuk menentukan puisi-puisi terbaik sepanjang tahun 2015. Selain kami juga berusaha menemukan puisi-puisi yang menawarkan kesegaran, kebaruan, dan keberanian. Untuk tiga hal tersebut, secara umum memang belum terpenuhi seutuhnya, tapi paling tidak ada khans pada arah itu. Kemungkinan di hari mendatang tentu saja sangat bergantung pada upaya para penyair, baik yang terpilih atau pun tidak.
Dalam kaitannya, selain beberapa hal yang telah kami paparkan, kami juga menentukan beberapa point sebagai tolok ukur penilaian. Pertama, penguasaan teknis bahasa. Teknis yang dimaksud tidak sampai pada pencanggihan bahasa, hanya pada kemampuan menyusun kalimat dan ejaan yang baik dan benar. Dalam hal ini, kami tidak menghitung atau mendebat licentia poetica, karena ranah itu hak penyair. Tentu saja kami dapat menjangka, mana saja yang memang menggunakan Licentia poetica dan siapa yang sesungguhnya belum menguasai teknis-teknis kebahasaan.
Kedua, musikalitas. Musikalitas merupakan satu bagian penting yang tidak bisa dilepaskan dari setiap lekuk tubuh puisi. Ialah yang menjadi satu dari sedikitnya pembeda inti antara puisi dengan prosa. Termasuk dalam puisi-puisi liris yang berkecenderungan bebas, dimestikan memiliki musikalitasnya tersendiri. Musikalitas yang dimaksud adalah pemunculan nada yang menekankan pada emosi tertentu. Di masa lampau, lebih dianggap sebagai rima, yang selalu dititikberatkan pada huruf akhir dan didominasi huruf vokal. Nyaris mendekati pola-pola pantun. Sejalan dengan pergerakan zamannya, rima kemudian sudah dipahami menjadi sangat luas dan dapat ditempatkan di mana saja, di awal, di tengah, atau di akhir kata. Lebih jauh, dapat juga menggunakan perangkat kebahasaan semisal majas Aliterasi ( pengulangan bunyi konsonan), Asonansi (pengulangan bunyi vokal), atau Repetisi (perulangan kata-kata sebagai penegasan). Enjabemen juga termasuk bagian dari pemunculan bunyi pada puisi. Dalam hal ini ditegaskan, musikalitas puisi tidak hanya dilihat dari rima melainkan keseluruhan bunyi yang tercipta dalam sebuah puisi.
Ketiga, tingkat kesadaran. Pada poin ini, kami teringat pada protes yang disampaikan kepada kami ihwal kesadaran, “Sejak kapan penyair memproduksi kesadaran?”, semenjak PUISI517 dibentuk. Bagi kami, kesadaran merupakan puncak jiwa manusia. Manusia yang sedang menderita ketika sadar dengan penderitaannya dan paham arti penderitaan akan menerima penderitaan dengan cara yang lebih elegan. Begitu pun dengan manusia yang sedang bergembira, jika sadar arti bergembira dan makna kegembiraan, tidak akan melampaui batas kegembiraan itu sendiri. Kesadaranlah yang menjadikan puisi berada pada titik stabil. Lahir dari keadaan yang stabil. Kesetabilan merupakan satu hal yang ingin kami ajukan dalam PUISI517. Bukan puisi-puisi kemarahan, kesedihan, dan kegembiraan yang tidak terkontrol.
Kiranya demikian hal-hal yang perlu kami sampaikan, dan tibalah saatnya kami mengumumkan 11 (sebelas) Puisi517 Pilihan Tahun 2015 berikut ini (kami susun tidak berdasarkan urutan, semua nilainya kami anggap sama).


1.      MABITH KARYA LARON KELANA (BANDUNG)
2.      PERADABAN KARYA IMRON TOHARI (MATARAM)
3.      KERING KARYA MOKHTAR SAH MALIK (MALAYSIA)
4.      PINGGIRAN KARYA NOR AZIZAH IDRIS (MALAYSIA)
5.      NYAWA KARYA ZUP DOMPAS (RIAU)
6.      SETTONG KARYA ARCA MAYA PADA (SUMENEP)
7.      SIKLUS KARYA DEWI NURHALIZA (MALANG)
8.      PERAHU KARYA GABRIEL KIM (MALAYSIA)
9.      USIA KARYA  YAHYA ISA (MALAYSIA)
10.  SIASIA KARYA KAMARIA BTE BUANG (SINGAPURA)
11.  ANARKI KARYA SADDIQ RAFFALI  (MALAYSIA)



Perlu diingat, puisi-puisi pilihan ini bukanlah sebagai tanda yang lain bukan puisi yang baik. banyak kemungkinan di hari mendatang, kami harapkan para penyair terus berkarya dan mengebor jiwanya untuk sampai pada kedalaman makna yang memukau.

Catatan lain: Kami akan mengulas 11 puisi pilihan secara bertahap.


Pengurus PUISI517, 2015
Dibuat oleh Muhammad Rois Rinaldi dan disetujui oleh  Syafrein Effendi Usman.



LAMPIRAN


·         LARON KELANA (BANDUNG)

MABITH


Malam itu
Detak degub jantungku memburu
Hu Hu Hu, lalu
Malam ini kutunggu
Seharu biru, kita bertemu

Lk03022015bdg


·         IMRON TOHARI (MATARAM)

PERADABAN

Ketika debu basah melekat
Di dinding-dinding kota
Hanya kepedihan tertinggal, dan
Mata musim
Menatap para pelancong mabok—

Jika suatu peradaban
Tumbuh dengan demikian cepat
Menguasai bumi
Masihkah kejujuran akan hidup
Ataukah mereka terusir kecewa

Agaknya angin liar berdengung
Berputar-putar menekan
Menyulitkan orang membedakan suara
Ratapan dan tangisan malam
Pun, guruh menghentak

Sakit merasuki
Kesadaran baru datang terlambat
Bising angin bercampur tambur
Memandang kematian yang
Terkucil di antara belulang

Jalanan ke Barat gersang
Bulan perak hilang pandang
Surau-surau ditelan kabut
Siapa melintasi bukit bebayang?
Mencari cahaya!

lifespirit, 4 maret 2015
Puisi Pola tuang 517 (ashar-maghrip-isya’-subuh-zuhur)


·         MOKHTAR SAH MALIK (MALAYSIA)


KERING

Musim kerang
Dedaun gugur satu satu
Hembusan angin ufuk timur
Setia menanti air
Tinggal ranting mengalah tidak

~msm@09032015,
Uklang.

·         NOR AZIZAH IDRIS (MALAYSIA)

PINGGIRAN


Aku harungi gelora samudera
Merentasi puncak gunung tinggi
Mengharap sinaran kejora
Kini rebah menyembah bumi
Kini terpinggir.

Norais @ Nor Azizah Idris
Johor Malaysia06032015.

·         ZUP DOMPAS (RIAU)

Nyawa


kematian bernyawa
hidup dalam denyut bahasa
menggeliat dalam lembut kalimat
dari manakah nyawa
lubuk jiwa, ceruk minda?

Niadoda, 09 Maret 2015
#puisi517

·         ARCA MAYA PADA (SUMENEP)

SETTONG

Namung de' ajunan Gusteh
matoro' bedhen abdina
siang ben Malem adhuweh
nyo'on slamet
derih dunyah kantos akherat

Maret 2015 _RK
*P517 Bahasa Madura

·         DEWI NURHALIZA (MALANG)

Siklus

tiba masa
kelopak rekah kembang sempurna
burung kembali pulang sarang
dengan segenap cinta
mana lagi yang didustakan?

senja menghampiri rona jingga
menjelang malam nan tenang
cinta dini hari
altar suci berpendar cerlang
doa dilangitkan

alam berseru dalam pujian
puja seluruh semesta
keagungan Sang Maha Pencipta
berharap maghfira
limpahan karunia tak berkesudahan

fajar merekah indah
burung terbang lebah berdengung
bertasbih laku
memulung rizeki dalam kasih
dari pintu tak terduga

tiba saat untuk pulang
tak teringkari
pada titik pamungkas segala
lepas angan dan mimpi
pada ketiadaan hakiki

malang, 032015
(Puisii 517)

·         GABRIEL KIM (MALAYSIA)

PERAHU


Pelangi petang pembuka perbicaraan
Pencerita pelayaran
Pada pemikiran petak perbualan
Pasti perahu penuh penantian
Penunggu pintu pelabuhan.

Hasil Nukilan;Gabriel Kim
2 Mac 2015
Taman Mutiara,
Labuan.

·         YAHYA ISA (MALAYSIA)

USIA


Menghitung hari
Ketika lambayung di ufuk barat
Langit melabuh tirai usia
Seorang aku tafakur
Meratap siang yang tertinggal

yahyaisa
Segamat Johor06032015

·         KAMARIA BTE BUANG (SINGAPURA)

Siasia

Menuang masa
tanpa batas tanpa paksa
dosa dosa bagaikan elang
terbang silang menyilang
yang hilang tidak terbilang

kb171215

·         SADDIQ RAFFALI  (MALAYSIA)

ANARKI

Mereka mahukan kehancuran
Gelisah melihat keamanan tercipta
Ramai tergoda
Dinoda dengan ringgit berjuta
Meracun minda rakyat jelata

Bukit Tinggi, 4 Disember 2015


Share this: