image1 image2 image3

HELLO I'M Muhammad Rois Rinaldi|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I LOVE TO DO CREATIVE THINGS|

TERLEPAS DI MATA PEMBACA

Mas Rois, puisi-puisimu di antologi Terlepas benar-benar berdaya kuasa. Aku sangat menikmati tiap kata, seolah debu dan air mata tanah Banten kau titipkan di dalam lembar demi lembar halaman. puisi “Menemu Mei”, “Sajak Penghabisan”, “Penyair”, kubaca berkali-kali, tiap kali selalu baru bagiku. Puisi-puisimu bergelut dengan kehidupan, juga berpelukan dengan kematian. membaca Terlepas serasa mengikuti perjalanan butir-butir darahmu yang mengguyur hati dan pikiranmu serta isinya yang terdalam, di saat lain serasa menatap telunjuk dan kepal jemarimu ke arah corong-corong pabrik yang muntah asap dan keliaran lampu neon kota yang merampok kehidupan rakyat jelata. Salut! (Marina Novianti, Medan)







"Buku apa yang kau baca sehingga bisa bicara dan menulis macam ini?”
“Aku ada di sana. Pengalaman yang aku baca. Aku hanya menulis apa yang aku ketahui, tak lebih.”

Begitu kiranya percakapan ringan kami di teras rumahnya. Adalah penyair yang lebih menginginkan aroma tai ayam tinimbang parfum orang-orang kota. Penyair yang kian resah dengan keadaan bangsanya. Penyair yang menganggap tidak ada lagi istilah perbatasan negara. Penyair yang merasa hidupnya terdesak dan sulit bernapas saat memikirkan nasib para sarjana yang kesulitan mencari penghidupan. Penyair yang lebih senang melihat mata teduk ‘Maknya ketimbang perawan ayu di pesta purnama. Penyair yang tak terima melihat anak kecil diomeli dan diadili habis-habisan.... penyair yang.... penyair yang.... ah, dia hanya Muhammad Rois Rinaldi, tak lebih. Buku ini hanya sedikit dari kumpulan kebosanan-kebosanannya hidup di nagari dagelan. Ia hanya berusaha menikmatinya; ditemani secangkir kopi pahit dan sebungkus rokok dan asap.
Sengaja aku memotonya dalam keadaan terbalik. Sebab, bila kau baca kumpulan puisi ini, kau akan melihat situasi yang Rois gambarkan dari sudut pandang yang berbeda. Setelah baca buku ini, aku semakin membencinya. Ada dua saran untukmu yang membaca status ini: pertama, aku sarankan kepada kau yang di sana, lebih baik kau tidak memiliki bukunya, sebab nanti kau akan bertanya-tanya: siapa aku? / kedua, bila kau ingin belajar membencinya, aku sarankan segera pesan buku ini. Langsung ke penulisnya. Sial!

(Ade Ubaidil, Cilegon)




***


Buku ini tiba 3 hari yang lalu, karena beberapa kesibukan baru kubaca hari ini, sebuah kumpulan puisi yang memuisi dan memuasi. Terima kasih kang Muhammad Rois Rinaldi .Salam bahagia dari kota genting yang makin genting...
(Samara Aji, Majalengka)

***




Telah ku terima anak sajakmu bernama TERLEPAS
Atas nama perlawanan dan ketidakadilan zaman.

(Mirza Sastroatmodjo, Pati)

***

"Terlepas" sebuah antologi yang menghimpunkan puisi-puisi dari penulis handal Cilegon, Muhammad Rois Rinaldi kini sudah "terlepas" ke Ipoh, Malaysia. Antara titipan yang menggegar ratib politik, bait ini mencuri gerah marhaen...


"Jangan khawatir, rakyat baik-baik saja:
tukang becak tetap membecak
anak bini mereka masih diberi makan.
Tukang semir sampai tua bangka masih 'nyemir.

Petikan dari "Sajak Untuk Bapak Presiden"
adik Rois, di sini juga kami punyai...

(Tabir Alam, Malaysia)


***


Satu kata untuk antologi Muhammad Rois Rinaldi, awesome. Dahsyat! Membaca satu karya memanggil mata menjamah karya karya berikutnya. Begitu memukau setiap makna makna yang tersirat baik tersurat pada setiap lariknya.


(Fatin Maulida, Aceh)

***

Meraih sayang yang terlepas di tengah kota padat keinginan, ada sebuah rindu melata, aku menemukan sajak-sajak lepas di tumpukan bangunan kota. Yaaa... dia sesosok keinginan yang muncul di hadapanku lalu melempar kangen dalam perbincangan masa lalu.



(Ratu Ayu, Cirebon)

***

Kedatangan "TERLEPAS (pustaka senja, 2015)" pagi tadi menjamah kediamanku, menjinakkan pemikiranku dan hampir membunuh nadi-nadi imajiku.

Dia yang mencari, bergerak dalam kegelisahan 
Merangkak menelusuri, melangkah dengan pasti
TERLEPAS dari belenggu, mendiang sastra meriang-meriang
Ada yang sakit kepala, bronkitis, hepatitis dan bahkan sakit jantung
TERLEPAS, seperti burung terbang dari sangkar majikannya
Sehingga dalam kebebasan dan kegelisahan dia terus mencari, dimana dia akan menetap dan
bertapa menelisik kehidupan 
Dalam kegelisahannya, Rois ungkapkan dalam puisinya "RUMAH SEORANG PENYAIR"

...Adakah rumah seorang penyair
Yang begitu mencintai belukar kata-kata
Sementara kata-kata selalu menjelma nyeri
Nyanyian-nyanyian yang menghela kegelisahan
Dari kekalnya pengembaran 
....
CILEGON, 2012

Namun, selagi nafas masih berhembus 
Dan bumi masih bertanah
Disana!!! Rois berada 
Dan kata tak akan mati adanya
Salam hormat



(Muhammad Hafeedz Amar Riskha, Indramayu)

***
Terlepas mengilhami kita akan fenomena abstrak kehidupan yang di lukiskan melalui puisi oleh Kang Rois. Puisi yang lepas, bagai anak panak yang terlepas dari busurnya menusuk tajam angin-angin kehidupan. Dan angin-angin itu akhirnya bercerita hingga terlepas.


(Dwi Julian, Kupang)

***

Puisi-puisi yang indah dan sarat pesan, penuh makna. Tak sia-sia penantian panjang peluncurannya, tak bosan-bosan membacanya.

Hm... kamu memang sastrawan muda yang sangat berbakat adikku, selamat atas terbitnya antologi puisi tunggal perdana kamu ini, semoga bermanfaat bagi semua pembaca.


(Julia Asviana, Pontianak)


***

Telah datang padaku
Sepohon surian rindang
Tanah kesultanan
Begitu hijau memukau
Buraksa yang sangat mengenal arti
--jadi manusia
Datangnya di musim panas
Menggugurkan daun-daun
Agar rumput pun bisa minum
Telah datang padaku
Angin dingin seruannya
--membara di jiwa
Begitu biru
Laut
Langit
Kemudian aku jadi ikan
Perenang di antara ranting-rantingnya
HS, Sya'ban 1436H
Miliki segera, karena sangat perlu untuk dimiliki
TERLEPAS

(Hamdani Suqri, Padang)



***


Kreator Sang Pemimpi Tubagus M Rois Rinaldi,
melepas kegelisahannya dalam puisi penuh harapan pada kehidupan,
berlandaskan semangat jiwa muda yang religius cinta tanah air.
Doa orang tua yang digantungkan di langit.



(Embun Senja Har, Jakarta)


Share this: