image1 image2 image3

HELLO I'M Muhammad Rois Rinaldi|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I LOVE TO DO CREATIVE THINGS|

CATATAN ANUGERAH HESCOM 2014



Tanka karya Tabir Alam, Malaysia.

Enam Desember dan malam minggu yang mendebarkan. Begitulah kesan pertama, ketika saya memasuki aula Dinasty Hotel di Kuala Lumpur, Malaysia. Ruangan yang sudah penuh itu mengesankan keakraban yang hangat. Saya memperhatikan satu persatu, para sastrawan yang sebagian besar saya kenali. Mereka abang, kakak, dan para guru saya. Saya salami satu persatu, para sastrawan yang mengenakan pakaian bling-bling, sesuai dengan tema pakaian yang ditentukan oleh pihak penyelenggara.



Sebelum saya duduk satu meja dengan Ilya Kalbam, saya dipersilakan mengambil makanan yang sudah disediakan di prasmanan. Macam-macam masakan tersaji, dari yang berlemak dan berminyak, hingga buah-buahan segar yang menggiurkan. Tentu saya tidak melewati makanan-makanan itu. Satu piring nasi, rendang, sayuran, dan buah-buahan saya bawa ke meja. Kemudian menyaksikan tampilan-tampilan dari para sastrawan yang tidak kalah nikmat dari makanan yang saya lahap.
Saya datang agak terlambat, karena harus berurusan dengan pihak imigrasi Malaysia yang ternyata telah membuat peraturan baru yang tidak saya ketahui. Sebelumnya, saya juga berurusan dengan pihak imigrasi Indonesia, karena ia mengira saya ke Malaysia untuk bekerja sebagai TKI. Saya anggap wajar, karena saya jarang atau nyaris tidak pernah mengenakan pakaian mewah, lebih sering memakai pakaian seadanya. Semua telah saya lewati dengan sabar, walau sempat berdebar-debar, kalau-kalau saya tidak bisa melewati para petugas imigrasi tersebut. Dalam hal ini, saya harus berterima kasih kepada Ahmad Ahnaf, penyair muda Malaysia yang telah mendampingi saya selama di airport.
Penampilan pertama yang saya saksikan adalah pembacaan puisi S. Iqram. Penyair yang saya sebut Abang ini, membaca puisi dengan lantang. Teriakan-teriakan yang menggelegar mengalihkan perhatian saya padanya. Ada yang menarik, ia seolah ingin merebut seluruh perhatian audiens dan ia memang telah berhasil. Kemudian disusul oleh pembacaan puisi Puzi Hadi. Puisi yang ia bacakan bertajuk Wau-Wou. Sebuah puisi kongkrit yang ditampilkan dengan gaya teatrikal. Tampilannya membuat saya tertarik, ada keinginan suatu saat nanti saya bisa berduet dengannya.
Selain pembacaan puisi yang power full, ada pula pembacaan puisi yang tenang dan bersahaja. Nimoiz T.Y dengan suara yang teratur dan dalam. Dahna yang menggunakan teknik suara dada dan perut menghasilkan produksi suara yang enak didengar, dinamikanya juga sangat terasa. Serupa dengan Dahna,  perwakilan dari Kopstarfm membacakan puisi dengan memanfaatkan kemampuan produksi suara yang baik. Yajuk yang lembut  tapi menghunjam, serta Ahkarim yang kejenakaannya subtansial. Saya yang juga didaulat membacakan puisi sebagai perwakilan dari Indonesia lupa membawa puisi, akhirnya yang googling saja, membacakan puisi “Tanah Air Mata” karya Sutardji Calzoum Bachri, tentu dengan gaya saya sendiri.
Selain pembacaan puisi, sebagaimana di Indonesia, ada pula penampilan musikalisasi puisi atau di Malaysia lebih dikenal dengan lagu puisi. Anbakri Haron menyuguhkan suaranya yang sangat lembut. Gerakan tubuhnya yang simbolis tidak kalah menarik. Saya berkali-kali memperhatikan dan berusaha mempertemukan antara suaranya yang lembut dengan gerakan tubuhnya yang simbolis, sungguh memukau. Saya sangat menikmati tampilannya. Banyak orang pandai bernyanyi, tetapi jarang yang bisa menyuguhkan ruh yang sedemikian penuh. Grup Lagu Puisi (GLP) juga menyuguhkan lagunya. Suara Ilya Kalbam yang nyaman di telinga menambah kemeriahan HesCom 2014.
Sebelumnya acara dibuka oleh ucapan Presiden E-SASTERA oleh Prof. Dr. Ir. Wan Abu Bakar yang dilanjutkan dengan pelancaran buku "Batu Pun Berteriak" karya S. Iqram, "Suara Antagonis"  karya Ahkarim, "MH 2757: Sajak-Sajak Digilis Tayar"  karya MataHati, dan "Menyulam Merdeka"  karya Yajuk.  Selain acara resmi, ada juga pembagian doorprize atau  Cabutan Bertuah, dimana hampir semua tamu mendapatkan bingkisan menarik sebagai oleh-oleh atau buah tangan.
Tibalah di acara puncak, pengumuman penerima penghargaan atau anugerah HesCom eSastera Malaysia 2014.  Semua sastrawan yang hadir tampak begitu serius untuk mendengarkan, nama-nama penerima anugerah: Sasterawan Siber Kuala Lumpur diraih CITRANALIS (Malaysia), Ulasan Karya Alam Siber diraih AZIZ ZABIDI (Malaysia), Kritikan Sastera Alam Siber diraih AHKARIM (Malaysia), Haiku Melayu Alam Siber diraih TABIR ALAM (Malaysia), Tanka Melayu Alam Siber diraih IBNU DIN ASSINGKIRI (Malaysia) juga Soneta Melayu Alam Siber diraih IBNU DIN ASSINGKIRI.
Berlanjut pada Anugerah Pantun Alam Siber yang diraih AZMI RAHMAN (Malaysia), Anugerah Lagu Puisi diraih oleh ANBAKRI (Malaysia), Musikalisasi Puisi Indonesia yang dalam hal ini belum ada kompetitornya, dengan kata lain hanya satu nominasi untuk satu pemenang diraih oleh FILESKI (Indonesia), Anugerah Prestasi Dampak Tinggi: (a) Saujana Penerbitan diraih PUZI HADI (Malaysia); (b) Performans Tekal diraih GLP (Malaysia); (c) Bakti Setia diraih TERATAI (Malaysia);  (d) Bakti Mesra diraih NIMOIZ T.Y (Malaysia);  (e) Media Mesra KOPSTAR FM (Malaysia); dan  (f) Semarak Karya diraih MANSOR A. HAMID (Malaysia).  
Anugerah Penulis Harapan kemudian diraih S. IQRAM (Malaysia) dan  MUDIN (Malaysia), sedangkan Anugerah Penulis Siber Harapan dipercayakan kepada SCHWARZENMAN (Malaysia).
Belum ada nama saya dalam sekian puluh penerima anugerah. Pada keadaan tersebut, saya tidak merasa kecewa dan tidak juga berharap apa-apa.  Saya datang tidak untuk menyiapkan diri sebagai menerima anugerah. Saya secara pribadi datang untuk menghadiri HesCom dan memberi selamat secara langsung kepada para penerimanya. Memberi apresiasi tinggi kepada eSastera yang istiqomah menjalankan program-programnya.
Tinggal 2 Anugerah,  Anugerah Cerpenis Alam Siber dan Anugerah Penyair Alam Siber. Pada dua anugerah terakhir ini pun, saya tidak banyak berharap. Meski saya siap-siap mendengar sekaligus memberikan selamat kepada penerimanya. Terutama penerima Anugerah Penyair Alam Siber yang merupakan anugerah utama dan berhak membawa Piala Bergilir atau dalam bahasa Malaysia, Piala Pusingan.
Pengumuman Anugerah Cerpen Alam Siber ditempati oleh CITRANALIS (Malaysia) dengan cerpen bertajuk "Pelabuhan Senja" mendapatkan posisi pertama dalam Anugerah Cerpenis Alam Siber. Disusul oleh IBNU DIN ASSINGKIRI  dengan cerpennya yang bertajuk "Puisi Merdeka". Cerpen saya yang bertajuk  "Al-Haq" mendapatkan posisi ketiga.
Tidak dipungkiri, saya sangat gembira. Menerima posisi ketiga dalam menulis cerpen bagi saya luar biasa. Mengingat, masyarakat umum mengenali saya sebagai penulis puisi atau yang biasa disebut dengan 'penyair'. Sesekali menulis esai sebagai tanggapan atau apresiasi saya terhadap karya sastra dan kehidupan sosial-politik--sosial-budaya manusia.
Tinggal-lah satu pengumuman yang paling ditunggu-tunggu, Anugerah Penyair Alam Siber. Mata saya berlompatan dari satu wajah ke wajah yang lain. Memperkirakan, siapa gerangan yang akan mendapatkan anugerah paling bergengsi dalam HesCom dan membawa pulang piala bergilir juga uang tunai Ringgit Malaysia yang cukup besar. Saya dalam keadaan tersebut, tentu tidak berharap besar menjadi penerimanya, karena para sastrawan yang menjadi nominator adalah abang, kakak, dan guru-guru saya. Bagi saya, menjadi pemenang dari 940-an puisi dari penyair senior di berbagai negara rasanya tidak mungkin.
Pembawa acara secara perlahan-lahan membuka amplop berisi nama penerima anugerah. Perlahan-lahan sekali membaca "Anugerah Penyair Alam Siber". Mata saya masih berputar di antara wajah-wajah bersahaja, di antara wajah-wajah itu, saya yakin satu di antaranya adalah penerima anugerah utama itu. Dan... betapa terkejutnya saya, ketika pembawa acara menyampaikan, "Penerima Anugerah Penyair Alam Siber dalam HesCom eSastera tahun 2014 adalah....

"Muhammad Rois Rinaldi!"

Sempat tertegun beberapa detik, nyaris tidak percaya, saya mendapatkan anugerah utama. Prof. Dr. Irwan Abu Bakar telah menunggu di atas panggung. Dengan sedikit gemetar dan rasa haru, saya naik ke panggung. Sebagai orang Indonesia pertama yang Menerima Piala Bergilir HesCom. "SubhanAlloh wal hamdulillah!" seruku dalam hati.

Share this: