image1 image2 image3

HELLO I'M Muhammad Rois Rinaldi|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I LOVE TO DO CREATIVE THINGS|

50 SEN BATASAN PUISI SEPERAK: MENANDAI KELAHIRAN PENYAJAK DARI BARAT MOHAMMAD ROIS RINALDI (MRR)


Oleh Cunong Nunuk Suraja)*

Dalam susuran jaringan di dunia internet maya ada lima puluh batasan yang mengacu ke puisi (poetry)[1]  Dan yang kelima puluh adalah sintensa definisi:

Poetry is an attempt to capture the essence of the chord struck in the poet by an instant of insight, in such a way that the same music will sound in the soul of the reader. Tia Azulay

Yudi Damanhuri menuliskan puisi atau sajak ditujukan untuk MRR

SEBUNGKUS MALAM
:Muhammad Rois Rinaldi

Ia mengunyah malam
di mana sepi semakin dalam.

Di bukit, dengan ringkik
ada denyar yang pelik;
apapun itu, ia percaya
pada gaib.

Ia merintih lirih seakan ada
tetapi waktu semakin renta
Sementara lengang pandang
menolaknya untuk pulang.

Sebelum embun menemu daun
sebelum ayun menginjak samun
karena pagi selalu membuat bayi.

2013

Pengembaraan penyajak yang senantiasa menebahi malam-malam sunyi memburu ringkik nyanyi imaji menggerimiskan bayang-bayang merongga meruang menyungkup cakrawala aku lirik:

Ia merintih lirih seakan ada
tetapi waktu semakin renta
Sementara lengang pandang
menolaknya untuk pulang.

Padasajak yang lain

KEPADA MUHAMAD ROIS RINALDI

Kau begitu akrab
dengan malam.
Sunyi yang tugur
adalah dongeng—
mengantarmu pada dengkur.

Helai-helai sajak
yang kauinjak
adalah pekik ombak—
memelukmu pada sesak.

Dan luka adalah nyanyi
Dan suka adalah duri.

Selamat malam.

Cisalak Dukuh, 2012

Kembali sosok MRR tertangkap dengan jitu tercandrakan dengan lugas tanpa metafora nan rumit:

Helai-helai sajak
yang kauinjak
adalah pekik ombak—
memelukmu pada sesak.

Bagaimana dengan citraan MRR terhadap cermin yang membelah pribadi pesonanya? Simak dalam sajak MELANKOLIA

Aku selalu
terjebak dalam putaran
antara meraih dan melepas. Mestinya tak lagi
ada kecurigaan pada cinta serta kasih sayang
sebab takut suatu ketika tersingkir dan sakit
bukan sebab pergi, tapi datang yang lain

Sajak yang senada dapat disimak:

ABSTRAKSI

Di manakah sebenarnya letak cahaya
langit menitipkan biji matanya
pada denyar nanar lampu
jalanan yang dibekap tangan-tangan malam.

Ada percakapan tak pernah genap
antara terang dan gelap. Di sini, di antara
manusia-manusia kalap
kebencian dan dendam menyergap.

Di manakah sebenarnya letak cahaya
alam pitam, badan kian hilang jiwa
bola-bola mataku menjelma
bola-bola kegelapan

      O, antarlah aku pulang
                 sebelum pagi.

   Antarlah aku kembali
          ke jalan sunyi.

Ketika mata hati
  buta dan tuli.

Cilegon, 2013

Sisi lain yang takterelakan sebagai penghuni wilayah barat pulau Jawa yang masyhur pusat peradaban Islam dengan gelar pengasa local dengan Sultan juga adanya satu masyarakat yang masih taat dengan kepercayaan leluhurnya sebagai suku yang membatasi hubungan dengan dunia di luar wilayahnya maka kisikan ketaqwaan takperlu diragukan menyusup dalam tema besar puisi-puisinya. Simak beberapa contoh berikut:

PROLOG PEMENTASAN

          Di panggung

lawanku bisa memerankan apa saja
menjadi raja Fir’aun, Isa, Hitler,
Yahudi, Adam, Setan, atau
      tuhan  sekalipun!

Begitu cepat skenario bergantian:
 menit pertama kawan
   menit berikutnya lawan
      kadang mempermainkan
        kadang dipermainkan
           kadang menang
               kadang dikalahkan.

Simpanlah pertanyaan-pertanyaan lugu kalian
saksikan saja orang-orang suci  main judi
penjahat bersolek menyerupai orang-orang suci
pemabuk berebut siapa paling berakal—paling waras
orang-orang waras kian mabuk kian tidak berakal
tukang begal tukang jagal mempertanyakan keadilan
orang-orang adil mulai menjagal dan membegal
orang-orang jujur hidup di kehidupan yang lacur
pelacur dianggap orang-orang jujur.

Simpan saja kengerian kalian yang polos itu!
Panggung kadung diciptakan dan
pementasan  harus kalian saksikan. Jangan cari celah
pendar—jangan cari salah  dan benar.
Kebenaran hanya seselaput kertas dengan pembenaran.
Pada segala yang benar-benar  bundar  beputar-putar
dari titik samar ke titik samar.
Siapakah dapat menakar yang mana nalar

manusia, yang mana binatang liar?

Kiranya demikian prolog ini disampaikan
dengan kebenaran yang tidak dapat dipercaya.
Teruntuk kalian yang lebih memilih yakin
kepada naskah-naskah kebohongan.

Sebelum cahaya dari segala penjuru dipadamkan
suluk seribu satu setan nagari-nagari
kegelapan diperdengarkan.

Siapkanlah kostum, bedak, gincu, topeng, racun,
dan senjata selengkap-lengkapnya.
Simpan nyawa kalian pada badan paling badan
karena bisa saja, kalian terseret sebagai pemeran
dan tidak dapat diselamatkan.

Tegakkanlah kepalsuan
wahai wayang-wayang!

                                                                Cilegon, 2011



MEGATRUH

Dan akhirnya kita
segurat nama di batu nisan.

Berderet antara derit
kehidupan, menanti

tahun-tahun bagi peziarah
menyekar airmata
yang pecahkan

doa-doa.

Di atas kubur segala
terasa jauh.

Kekasih,
tinggalkan lenguh.

Cilegon, 2013



ANTITESIS
(Cc: Chairil Anwar & Abdul Hadi WM)

Tuhan, tentangMu aku enggan mendebat
tak perlu terikat tarekat Hafidz
pusaran tarian Rumi
syair-syair putih Hamzah
liat traktat Halaj atau
lumat kalimat Rabiah al-Adawiyah

kaffah hujjah
tak mencari ciri wajah.

Tanpa fana pengamsalan:
api pada panas, kain dan kapas,
angin pada mata arah, gelap
dan cahaya, kayu pada tungku
khatam pemahamanku:

engkau lebih dari sekadar
kalimat tarekat dan hakikat.

Maka aku takkan bersiul menabuh suluh
di keheningan yang dahaga. Menunggu
hangus segala rangka dalam lumat
api pembakaran.

Karena cintaMu bukan semata
terang nyala pada padam
seribu satu lampu
Engkau padaku
      aku padaMu
tak harus jadi filsuf.
                                   
Kramat, 2013


PULANG KE PEMATANG

Di sini,

aku pernah merindu
pada kelakar anak-anak pematang
ketika jamur pada tumpukan jerami

meregang
bayang layang-layang.

Di sini

barangkali, aku juga menemu
saat maut jadi penutup
para tamu.

Pematang Seberang, 2011

Kekuatan puisi MRR adalah kentalnya budaya local yang  takdipungkiri memperkaya khasanah sastra Nusantara.

Masih banyak jejak barat seperti halnya penyanyi rapper 50 sen yang perlu dijejak dengan gagah kejujuran atas diri di cermin yang dikira retak dan terbelah demikian ringkikan kudacongklang dari Banten yang menysong ufuk barat:


RUMAH SEORANG PENYAIR

Di manakah rumah seorang penyair
dalam wangi imaji wangur rahim nurani
di panggung bermacam adegan
antara topeng-bopeng berupa peran
atau tersuruk tak ditemukan.

Adakah rumah seorang penyair
yang begitu mencintai belukar kata-kata
sementara kata-kata
selalu menjelma  nyeri
nyanyian-nyanyian  yang menghela kegelisahan
dari kekalnya pengembaraan.

Di manakah rumah seorang penyair
seusai melintasi halte, terminal, stasiun
dan bandara-bandara udara penuh sesak
yang mengantar
tubuh tanpa jiwa pada kesia-siaan.

Adakah rumah seorang penyair
pada tanah penghujan tanah kemarau
waktu pagi merangkak di galengan
waktu malam menyemak dalam
kerumunan laron yang berkabung
atau terkepung lampu-lampu pesta dalam
mabuk bulan sepotong limau….

Cilegon, 2012

Inilah jejak lelaki berbulu di dada ("Tuhan, dada bidang dan bulu-bulu lebat ini / milik siapa?" yang menjanjikan masa datang susastra Nusantara.

Bogor, Mei 2014
)* Pengajar Intercultural  Communication di  FKIP – Universitas Ibn Khaldun Bogor


[1]http://poetinthecity.wordpress.com/2011/03/16/what-is-poetry-50-definitions-and-counting/

Share this: