image1 image2 image3

HELLO I'M Muhammad Rois Rinaldi|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I LOVE TO DO CREATIVE THINGS|

BEDAH BUKU PENYAIR ASIA TENGGARA DAN DISKUSI SASTRA ANTARBANGSA




       Bedah Buku Penyair Muda Asia Tenggara dan Diskusi Sastra Antarbangsa  di Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), 16 Mei 2015 berjalan lancar dan menyenangkan. Pembicara, penyair, dan ratusan orang yang hadir tampak riang dan khusu'.

       Enung Nurhayati Elang Munsyi, Anton, dan Arif Hidayat sebagai pembicara menyuguhkan berbagai pandangan yang mencerahkan. Enung memandang dari sudut perkembangan bahasa Melayu, Anton lebih pada persoalan kedirian sebuah karya di tengah pergulatan penggunaan bahasa Melayu, dan Arif memandang kualitas karya sambil sesekali mengarahkan pada pokok sejarah kesusastraan.

       Secara umum, menurut ketiga pembicara, Pesta di Padang Jiwa karya Umar Uzair, Malaysia, dipandang sebagai karya yang taat terhadap kaidah ke-Melayu-an. Permainan rima sebagaimana khasnya karya Melayu menjadikan buku tersebut layak dijadikan referensi bagi pembaca Indonesia. Paling tidak, Pesta di Padang Jiwa mengantarkan pembaca Indonesia kepada karya Melayu yang kental.

       Berbeda dengan Pesta di Padang Jiwa, Kiblat Cinta karya Mahroso Doloh, Thailand, dipandang berlainan oleh ketiga pembicara. Enung menekankan bahwa Mahroso Doloh memiliki pesan moral dan sejarah yang besar dalam puisi-puisinya. Anton dan Arif memandang dari sisi lain, Kiblat Cinta dipandang sedang mencari kiblatnya sendiri. Terlepas dari perbedaan itu, ketiga pembicara sependapat bahwa puisi-puisi Mahroso Doloh dipengaruhi oleh bahasa Indonesia, meski pada bagian tertentu Mahroso tetap mempertahankan ciri khas Thailand.

       Terlepas, karya Muhammad Rois Rinaldi dipandang berlainan pula. Enung mengatakan, Terlepas benar-benar terlepas dari pakem puisi Melayu yang ketat. Enung mencontohkan "Sajak Koran Mingguan" dan beberapa contoh lainnya. Arif kemudian menanggapi pendapat Enung. Menurut Arif, tidak heran jika Rois tampak begitu terlepas, karena puisi-puisi Rois lebih mengedepankan pesan, konsep, dan ideologi. Anton menambahi, keindahan tidak selalu dipandang dari bagaimana bentukan kata, harus juga dipandang dari bentukan makna. 

       Sempat juga disinggung Kastil Aisya karya Noor Aisya oleh Arif. Menurut Arif, Noor Aisya memiliki ketaatan dalam penggunaan bahasa Melayu yang ketat. Meski ia tidak seutuhnya memegang ketaatan tersebut, terlebih Kastil Aisya banyak menggunakan licentia poetica. Sayangnya, Noor Aisya yang rencananya akan mewakili Singapura berhalangan hadir.

       Ratusan orang  yang datang dari berbagai kota, di antaranya Cilacap, Ajibarang, Yogyakarta, Demak, Tegal, dan Semarang sangat aktif mengajukan pertanyaan ihwal kesusastraan. Jawaban yang diberikan pun beragam dan dapat dijadikan pandangan menarik bagi masing-masing. Sayangnya, pertanyaan dibatasai oleh waktu yang tidak seberapa panjang. Kegiatan dimulai pukul 08.00 s/d 12.00 WIB. 

       Dalam kegiatan tersebut, Umar Uzair memberikan persembahan suaranya yang empuk dan merdu, mewakili Malaysia, Mahroso Doloh dengan puisi cintanya mewakili Thailand, dan Muhammad Rois Rinaldi membacakan "Sajak Buruh Seumur Hidup".

       Sebelum makan siang, para penyair tampak sibuk melayani permintaan foto bersama dan tanda tangan dari para peminatnya.



Penyair, pembicara, dan panitia foto bersama seusai acara.

Share this: