image1 image2 image3

HELLO I'M Muhammad Rois Rinaldi|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I LOVE TO DO CREATIVE THINGS|

PENGANTAR JANGAN PANGGIL AKU PENYAIR

       

          LUGAS DAN TEGAS
          SEBUAH PILIHAN BAGI SAJAK MUHAMMAD LEFAND
          Oleh Muhammad Rois Rinaldi *)

Silakan dipesan.
         I/
         Penyair Muda kelahiran Sumenep, Jawa Timur, Muhammad Lefand mengirim naskah bertajuk Jangan Panggil Aku penyair.  Entah apa soal tajuk itu yang dipilih, lantaran di zaman ini orang-orang begitu ingin jadi penyair, sedangkan Muhammad Lefand menolak dipanggil penyair. Tidak tahu apakah itu sebentuk permintaan agar ia terbebas dari tanggung jawab kepenyairan yang rumit dan mengkhawatirkan atau sebatas ungkapan yang tidak merujuk pada dirinya, sebagai penggiat dunia puisi atau sajak di mana selalu berakhiran dengan sebutan “Penyair” (entah mengapa bukan pemuisi dan penyajak sebutannya). Meski dalam naskah ini ada sajak yang bertajuk sama dengan tajuk utama, saya memilih tidak membacanya. Saya tetap menganggap sajak itu tidak ada dan tajuk utama itu, merupakan konsep dasar bagi seluruh sajak dalam naskah ini.
         Sajak-sajak Muhammad Lefand (Lefand) menggunakan bahasa yang lugas dan tegas-tegasan. Tentu bukan berarti Lefand tidak bisa membuat sajaknya berbunga-bunga metaphor agar tampak indah, mendayu-dayu dan menggemaskan. Lagi pula, sajak yang indah bukan sajak yang menggunakan bahasa berbunga-bunga karena keindahan sajak bersifat kongrit, menepak dan menapak pada makna. Lebih lanjut, Soejono (1937, hlm. 128-130) mengemukakan teori keindahan dalam esainya yang bertajuk “Keindahan”. Di mana ia menilai seni tercipta berdasarkan jiwa seninman penciptanya. Ia menolak penilaian seni yang absolut subjektif.
         Ini mengingatkan saya pada gagasan Kang Gebar, pelukis Banten yang mengajukan gagasannya di tengah diskusi seniman Banten pada 16 Maret 2015 di Anyer.  Ia menyatakan bahwa pemahaman tentang estetika harus diperluas, tidak dipahami secara sempit. Estetika seorang seniman juga berkaitan dengan mental dan prilaku, karena dari sanalah karya dan orientasi kekaryaan dilahirkan. Estetika tidak mutlak dipahami sebagai keindahan jasmani dalam pengertian dilihat dari karyanya saja. Sikap seniman—yang merupakan etika—juga bagian dari estetika, jika seniman melihat kelaliman dan ia hanya diam dan sibuk dengan karyanya, maka ia sejatinya tidak paham estetika, karena ia telah membiarkan ketidakindahan terjadi di depan matanya.
         Terlepas dari dapat diterima atau tidaknya gagasan mengenai keindahan atau estetika karya seni (dalam hal ini sajak) atau tanpa mesti menampik semboyan Sanusi Pane yang menyatakan seni untuk seni, saya melihat pilihan Lefand dengan sajak lugas dan tegas dilatari oleh pemahamannya tentang fungsi sajak di tengah kehidupan. Lantaran ia juga bagian dari anggota masyarakat yang tidak lepas dari persoalan-persoaan masyarakat, baik kebudayaan, sosial, politik, norma, nilai, dan sebagainya. Sejalan dengan ungkapan Abrams (1981:178) bahwa karya sastra itu mencerminkan masyarakatnya dan secara tidak terhindarkan dipersiapkan oleh keadaan-keadaan masyarakat dan kekuatan-kekuatan pada zamannya. Ada semacam desakan yang kemudian ia terima sebagai isyarat bahwa ia harus menulis sesuatu yang lebih mudah dipahami, walau konsekuensinya ia, mungkin akan ditelikung oleh anggapan bahwa sajak-sajaknya terlalu berterus terang. Ia hanya memerlukan kesiapan untuk menghadapi persoalan sepele itu. Toh, seorang Widji Thukul pernah dihadapkan pada persoalan tersebut, sajak-sajaknya dianggap tidak estetis oleh kalangan kritikus. Setelah ia lenyap, barulah berbondong-bondong orang memuji puisinya dengan landasan nilai nasionalism dan patriotism yang ia bawa—sebuah fakta abu-abu mengenai cara masyarakat (baik khusus maupun umum) dalam menilai sebuah karya.
        Selugas apa sajak Lefand yang saya maksud? Berikut salah satu sajak lugas yang bertajuk “Pemilu Presiden”: “Ibu/pemilu hampir tiba/aku tak bisa pulang/Ibu nyoblos siapa?/aku mau nyoblos/siapa yang Ibu coblos/Ibu/meski banyak yang nyoblos/karena:/ikut partai/ikut ormas/ikut pengajian/ikut kyai/ikut pesantren/ikut-ikutan/aku ikut engkau Ibu/pemilu ini/adalah pemilumu Ibu/pilihanmu pilihanku/siapa kelak yang terpilih/jadi presiden Indonesia/engkaulah presiden dalam seumur hidupku”. Tidak ada pengandaian atau kiasan dalam sajak tersebut, kata-kata lugas dan tegas menjadi pilihan. Sedikit menggunakan gaya retoris. Juga pada sajak bertajuk “Salam Dua Ribu II” ini:

“salam dua ribu/alhamdulillah ternyata/bbm naik banyak hikmahnya/pertama aku jadi nggak sering beli bensin/kedua telat ke sekolah nggak jadi dimarahin/ya kalau bisa dinaikin lagi/agar aku bisa tidur nyenyak/ngajarnya dalam mimpi saja/masak harus blusukan ke sekolah/paling sampainya jam 08.00/padahal baca berita/kalau telat kerja/akan dipecat karena nggak efektif/hanya ngabisin anggaran/wuih kenapa nggak dipecat semua aja/agar apbn jadi surplus/kan uangnya bisa untuk pembangunan/jadi ingat pesannya pak orde baru/"piye kabare/masih penak jamanku, toh?"/…”

         Kelugasannya saya pikir beralasan, karena Lefand menghadapi sebuah keadaan yang gawat darurat. Di mana pemilihan presiden selalu berawal dan berakhir dengan huru-hara dan permusuhan di kalangan rakyat. Sebuah sistem demokrasi yang entah apa yang dikehendaki demokrasi di atas bangsa yang suka ribut dan mudah diadu-domba. Menulis puisi selugas ini potensial melahirkan persinggungan juga, karena responnya bisa sangat keras. Hal tersebut terbukti, ketika BBM naik dan Lefand membuat status protes di Facebook, seketika saja kawan-kawan bahkan yang sudah dianggapnya sebagai orang tua menyerang dengan kalimat-kalimat keras dan mengenaskan. Padahal, kalau benar demokrasi itu ada dan bukan semacam kekonyolan yang dipercaya sebagai jalan konyol yang baik dilalui, mestinya perbedaan tidak dihadapi dengan keras, mesti diterima dengan lapang dada.
         Kelugasan dalam sejarahnya memang berisiko tinggi, sebagaiaman saya paparkan di muka, seorang Widji Thukul harus menerima nasibnya yang hilang pada tahun 1998 saat rakyat berusaha melengserkan Soeharto dari tampuk kepemimpinannya yang sudah 32 tahun. Ia terenggut dari lingkungan keluarga, kehilangan kawan minum kopi, dan kesenangan-kesenangan dunia panggung. Hanya karena sajak-sajaknya yang lugas, ia menanggung beban yang begitu berat. Tidak ada yang tahu di mana ia kini, masih hidup atau sudah ditembak mati, tidak satu setan pun memberi kabar. Apakah Lefand berkemungkinan menghadapi masalah yang sama dengan Widji Thukul? Sepertinya kemungkinan itu sangat kecil, karena zaman telah berubah. Meski demikian, kemungkinan penolakan atas sajak-sajaknya tetap potensial ada. Potensinya sama besar dengan kemungkinan penerimaan atas sajak-sajaknya.

         II/
         Tidak semua sajak Muhamamd Lefand dalam Jangan Panggil Aku Penyair membicarakan perpolitikan.  Sebagaimana nasib penyair yang masih bujang dan belum juga mendapatkan kabar baik mengenai jodohnya, Lefand juga menulis  sajak-sajak asmara dengan tidak menghilangkan kelugasannya. Selain itu, ada pula sajak yang, gayanya seperti gaya pujangga lama dengan menguatkan rima baik rima dalam maupun rima luar sebagai bagian paling menonjol. Saya melihat ini sebagai bentuk kecenderungan yang lain, misalkan beberapa penggalan sajak berikut ini:

       waktu membawaku
       pada senja yang tak bisa dieja
       berpesta bersama duka-duka
       hujanlah airmata
       senja berbisik
       pada puisi-puisi yang tak bersisik
       menyanyi sunyi menari tarian luka 
       aku tersiksa kata-kata
       (Bisik Senja)

       kala loba bawa duka
       pada diri yang fana
       reda cita yang kaca
       jiwa sepi rasa luka

       buru haru pilu laku
       luka luka lalu deru 
       bawa masa jadi sedu
       aduh aduh amat sayu
       (Duka yang Amat Pilu)

       kau memotret batu # aku memandang lugu
       wajahmu kertas tisu # senyummu gula tebu

       setiap rupa waktu # kerudungmu benih rindu
       kata bersemedi tugu # rasa serahasia bisu
       (Riznia)


         Sajak-sajak tersebut menunjukkan kecenderungan Lefand yang berbeda dengan sajak-sajak protes sosialnya. Permainan aliterasi dan asonansi begitu dominan. Ada kesan mendayu-dayu tapi juga ada kesan yang baru. Hal serupa juga terdapat dapat sajak-sajaknya yang lain, di antaranya “Assalamualaikum”, “Aku Ingin Menulis Puisi”, “Riwayat Kata”, “Sang Kyai”, “Mencari Lautan”, “Banten”, “Yang Bilang”, dan “Perempuan”. Perbedaan gaya yang digunakan Lefand ini, dimungkinkan disengaja, disesuaikan dengan tema dan kebutuhan. Dalam kehidupan sehari-hari kita juga kerap melakukannya, ada kalanya kita bicara dengan sangat jelas pada persoalan yang perlu diperjelas, ada kalanya kita member pandangan-pandangan umum saja, dan ada kalanya diam pada persoalan yang tidak layak ditanggapi.
         Muhammad Lefand merupakan penyair yang memiliki gejolak kekaryaan yang besar, semangat yang juga kuat, serta tindakan-tindakannya dalam dunia sastra cukup dapat dilihat. Sebagai seorang penyair yang guru, ia juga terus menyalurkan kecintaan terhadap karya sastra kepada murid-muridnya. Selain itu, ia juga aktif menghadiri pertemuan-pertemuan penyair di berbagai kota, termasuk Pertemuan Penyair Asia Tenggara yang dilaksanakan di Kota Cilegon pada Oktober 2014 yang lalu. Saya rasa, ini adalah jalan yang ia tempuh untuk terus mempelajari setiap lekuk karya sastra, baik belajar dari manusia yang alam atau alam selain manusia.
         Melalui buku ini, ia menawarkan khazanah pemikiran dan pemahamannya tentang hidup dan kehidupan. Pembaca, paling tidak menemukan banyak hal dari proses pembacaannya. Sebagaimana lazimnya karya sastra,Jangan Panggil Aku Penyair tidak datang dari kekosongan, maka Jangan Panggil Aku Penyair juga akan sampai tidak sebagai sesuatu yang kosong. Dan saya harap buku ini bukan buku terakhirnya, karena seorang penyair harus terus digelisahkan oleh karya dan terus melakukan inovasi demi tumbuh kembang kesusastraan Nusantara.
         Kiranya demikian, saya hanya menyampaikan secara umum sebagai pengantar antologi Jangan Panggil Aku Penyair dan menyerahkan soal penilaian-penilain khusus secara utuh kepada segenap pembaca. ***


Kramatwatu, Banten, Maret 2015

*) Muhammad Rois Rinaldi, penggiat sastra dan pendiri Rumah Baca Bintang Al-Ikhlas Banten.
             


Share this: