image1 image2 image3

HELLO I'M Muhammad Rois Rinaldi|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I LOVE TO DO CREATIVE THINGS|

APRESIASI KARYA SASTRA: PANDANG DAN PAHAM, DUNIA RINI INTAMA

PANDANG DAN PAHAM, DUNIA RINI INTAMA
(Telaah Singkat Antologi Tanah Ilalang di Kaki Langit)

Oleh Muhammad Rois Rinaldi *(

Tanah Ilalang di Kaki Langit, sebuah judul kumpulan puisi yang cukup 'puitis' dan memiliki jangkauan pemaknaan yang sangat luas. Di mana tanah merupakan muasal manusia sekaligus tempat manusia, binatang, dan tumbuhan menjalani kehidupan dan kaki langit (saya berusaha melepas diri dari KBBI: batas pandangan secara horizontal yang seolah-olah langit bagian bawah berbatas dengan permukaan bumi;horizon; cakrawala;) merupakan pandangan, pemahaman, dan harapan, yang senantiasa manusia terbangkan dari muasalnya: tanah. Karena manusia selalu berharap sebatas apa yang ada dalam pandangan dan pemahamnnya, baik pandangan dan pemahaman mata maupun pandangan dari pikiran dan jiwanya. Kemudian Ilalang meski kerap dianggap sebagai gulma lantaran sifatnya yang invasi, merupakan tumbuhan yang memiliki karakteristik dapat hidup dan bertahan di manapun. Lantaran tunasnya menahun merayap di bawah tanah dan pucuknya menjulang naik dan cenderung tegak ke langit, dengan bunga-bunga putih. Benihnya secara alamiah tersebar oleh angin.

Dari sekian hal yang diurai, dapatlah dianalogikan kaki langit sebagai batas pemahaman, pandangan, dan harapan manusia. Sebagaimana pernah diutarakan juga oleh Sapardi Djoko Damono dalam puisi Hutan Kelabu: “…Langit dimana berakhir setiap pandangan/Bermula kepedihan rindu itu/Temaram kepadaku semata”. Dikaitkan dengan Tanah Ilalang, berlaku bagi tanah di seluruh bumi ini, bukan tanah sekumpulan ilalang di suatu tempat melainkan di segala tempat. Pandangan harus diperjalankan sebagaimana fitrahnya. Karena pandangan yang berbatas akan mustahil menemukan sesuatu yang lebih. Begitu pula dengan pemahaman, tidaklah bijak membiarkan pemahaman kita seperti katak dalam tempurung—pada telaah ini, saya tidak menekankan pada soal harapan, meski sesungguhnya secara tersirat ada di dalamnya.

Maka tepatlah apa yang dilakukan oleh Rini Intama, ia harus melakukan perjalanan—baik perjalanan jasad maupun perjalanan batin—untuk menemukan pandangan lain dan memperluas pemahamannya. Karena kemampuan seorang penyair dalam penciptaan puisi, tidak hanya soal bagaimana menguasai teknik-teknik kebahasaan dan pengolahan kata, melainkan soal bagaimana cara ia memandang dan memahami. Semakin baik, maka baiklah karya-karyanya, berlaku juga kebalikannya. Ini sejalan dengan pemikiran bahwa konsepsi-konsepsi karya sastra tidak terletak secara mutlak pada konsepsi-konsepsi kebahasaan, melainkan bermula dari akar: diri manusia yang bergulat dengan nilai-nilai kehidupan yang dihadapi. 

Meski Rini Intama membuat lembaran khusus untuk mengelompokkan puisi-puisinya dengan sub-sub judul: Kepada Sejarah, Kepada Perjalanan, Kepada Perempuan, Kepada Waktu, Kepada Negeri, Kepada Cinta, dan Kepada Kisah-kisah, kesemuanya bermuara pada judul utama. Karena sejarah adalah perjalanan di masa lampau, di mana kisah-kisah adalah bagian dari sejarah—sedetik saja berlalu kisah itu, maka ia adalah sejarah—sedangkan waktu merupakan bagian dari masa lampau, masa kini, dan masa yang akan datang. Melihat dan memperhatikan peta korelasi tersebut, dapatlah ditarik satu benang merah, bahwa puisi-puisi yang disuguhkan tidak lain tidak bukan menyoal Kaki Langit dan Tanah Ilalang. Berlaku juga bagi puisi-puisi yang terangkum dalam sub judul Kepada Perempuan, Kepada Negeri, dan Kepada Cinta.

Tanah Ilalang di Kaki Langit merupakan sekumpulan puisi yang memanfaatkan materi realism. Dalam sebab itu, kerangka pandangan dan harapan pembaca akan menemukan hal-hal spesifik dan mengena pada ‘soal’. Lantaran puisi-puisi yang dihasilkan Rini Intama dari perjalanannya yang panjang menunjukkan itikad baik sebagai seorang penyair. Ia tidak termasuk dalam kelompok penyair yang disindir oleh Rendra dalam Sajak Sebatang Lisong. Boleh jadi masuk dalam puisi Subagio Sastrowardoyo, yang mengisahkan mata penyair yang menjadikan batu-batu koral sebagai karungan emas, dalam puisi Mata Penyair: “Penyair yang buta itu duduk di Jendela dan tertawa menghadap ke kota. Tanpa mata dilihatnya semua begitu indahnya. Begitu indahnya!” Rini Intama bersikeras membuka segenap matanya: mata jasad mata batin, untuk melihat dengan sangat jelas apa dan mengapa dan bagaimana ‘sesuatu’ berlaku di kehidupan ini. Hingga ia dapat menemukan pemahaman-pemhaman yang segar dan menyegarkan, sebagaimana dalam puisi berikut:



NYANYIAN ALAM
: Baduy

Harmonika alam yang mengalun
Menyanyikan lagu kehidupan
Manusia saling mengajari dan mencintai
Gunung, lembah, sungai saling menjaga mimpi

Belajar dari alam, menulis pada batu
Ada kata tetua di sepanjang waktu
Adalah bahasa cinta yang dalam
Adalah bahasa kalbu yang mengisahkan sahaja

Tak saling merusak agar dada kita tak sesak
Tak saling mengubah agar kita tak susah
Tak saling memotong agar bisa saling menolong

Shangrila, 1986

Puisi yang diciptakan Rini Intama sebelum saya lahir tersebut, merupakan hasil pemahamannya terhadap petuah atau pikukuh orang Baduy—suku pedalaman yang terletak di pegunungan Lebak, Banten—yang diucapkan atau ditulis dalam bahasa sunda (sunda Baduy dinyatakan sebagai bahasa Sunda tertua). Berikut penggalan petuah yang dimaksud: “Lojor teu meunang dipotong/pondok teu meunang disambung/nu lain kudu dilainkeun/nu ulah kudu diulahkeun/nu eunya kudu dieunyakeun”.  

Rini Intama rupanya menemukan ruang kontemplasinya di Baduy. Ia bersikeras menemukan dan memahami serat-serat dari petuah yang dijadikan landasan tindak dan ucap suku Baduy—yang begitu tegas mempertahankan kearifan alam. Kemudian ia mengejawantahkan pemahamannya melalui puisi yang sederhana. Kesederhanaan puisi yang berusia cukup tua ini (29 tahun) merupakan ekspresi murni tanpa bedak tanpa gincu. Seperti gadis kampung yang lugu, puisi Nyanyian Alam memiliki daya pikat tersendiri.  Pada puisi yang lain, Rini menawarkan hal juga lain:

DI SEBUAH SURAU

Ada suara patau menangis bersimpuh seperti mengigau
Melantun ayat-ayat indah bersama suara angin
Menyaji potret-poter nurani dalam sahaja yang memukau
Membasahi dahaga dan cucuran keringat yang mengaliri sungai dukanya
Mata perempuan itu berkabut
Menunduk menghitung rasa takut
Melukis gemetar yang tak beranjak
Dari sekepal jantung yang mengkerat
Di ritual taubat yang mengental
Ayat-ayat mengerat kalbunya yang juga sekarat

Tgr, 2011

Pandangan dan pemahaman Rini terhadap dunia dikerucutkan menjadi ‘aku lirik’ yang sedang berada dalam surau. Di sini, surau dan perempuan dijadikan sebagai simbol. Di mana surau adalah tempat yang sangat berkaitan dengan peribadatan ummat Islam dan seorang perempuan sebagai yang menempati dan tentunya sedang melakukan ibadah. Untuk mengungkapkan keadaan, rasa, dan pesan yang kuat, rini menciptakan ungkapan yang cukup tepat. Hubungan antara surau, perempuan, tangisan, rasa takut, kalbu sekarat, dan lain sebagainya merupakan gambaran yang efektif untuk mengantar pembaca pada muara maknanya. Teknik ragaan yang diterapkan juga terbilang berhasil menciptakan tahapan-tahapan emosi yang tertata.

Pada puis-puisnya kita juga dapat membaca bagaimana pandangan dan pemahaman Rini Intama yang tidak membuat satu sketsa dengan menekankan dua warna: hitam dan putih.  Ia sengaja menyamarkan atau meniadakan kedua warna tersebut, agar kebenaran dan kejahatan tidak datang atau dihukumkan dari dirinya, melainkan dari pembaca. Bahkan dalam puisi-puisi yang memiliki potensi kecenderungan, Rini tetap tidak bermain di antara dua warna itu. Semisal dalam kutipan beberapa puisi berikut:

A yin terus bertanyapada kayu, tanah, angina dan air
Lalu pada langit biru yang menunggu,
Wahai, diakah lelakiku yang dikirim bumi?
Lelaki berwajah rembulan yang telah pergi dari tanahnya.

Ketika tarian cobek sudah berganti demo buruh
Ketika bulir-bulir padi juga sungai kecilnya telah berbau limbah
...
(A YIN)

Kutulis surat kecil ini untukmu
Agar tak ada pusaran amarah yang habis sia-sia
Kugambarkan sepotong kemarau di sepanjang jalan
Agar taka da lagi cerita langit yang berkabut
(SURAT KECIL UNTUK ANAK INDONESIA)

Cinta luka merah merekah
Suka darah tumpah ruah
Rasa memisah merebut tanah yang basah
Pada mulut-mulut serakah

Batu hati dan cinta seperti terlipat
(BATU HATI)

Tokoh semisal A Yin disuguhkan oleh Rini dalam puisi memang untuk memunculkan tikaian batin pada diri pembaca: lelaki berwajah rembulan, demonstran, dan A Yin sendiri. Akan tetapi, sebagaimana disampaikan di atas, Rini tidak memutlakkan warna hitam dan putih—tidak membenturkan kebenaran dan kejahatan. Sebagai seoarang ‘pejalan’ ia rupanya memiliki pemahaman yang arif, bahwa sekeras apapun keadaan dan sekeras apapaun ketidakterimaan manusia atas suatau keadaan, bukan berarti harus disikapi dan ditanggapi dengan keras pula. Rini rupanya perempuan yang lembut. Bukan berarti puisi-puisi protes yang keras dan tegas berada di jalan yang salah, ini menyoal pandangan dan pemahaman. Tentu setiap kepala dan setiap jiwa tidaklah serupa.

Demikian telaah singkat atas pembacaan puisi-puisi Rini Intama dalam Tanah Ilalang di Kaki Langit yang diterbitkan oleh Pustaka Senja, Yogyakarta, 2014. Hanya satu puisi yang tidak saya baca dari buku setebal 107 halaman, yakni pada halaman 20 yang berjudul sama dengan judul bukunya. Hal ini saya selalu saya lakukan pada kumpulan puisi, cerpen, atau esai yang di dalamnya ada satu karya yang diberi judul sama dengan judul buku. Alasannya sederhana, saya berusaha membebaskan diri dari pemaknaan sempit mengenai judul buku, bahwa maksudnya sebagaimana ditulis dalam salah satu karya di dalam buku tersebut. Bagi saya, judul buku adalah mutlak milik semua karya yang ada di dalamnya, bukan bagi satu karya semata.

Terlepas dari persoalan itu, keberadaan Rini Intama dalam kesuasateraan Indonesia sangat menggembirakan. Ia satu dari tidak banyaknya penyair perempuan yang produktif dan aktif dalam dunia kesusastraan. Kehadirannya di tengah rumors tentang penyair perempuan yang kerap 'tidak panjang umur', layak diberi tempat tersendiri. Bukan semata ingin mempertahankan keberadaan penyair perempuan sebagaimana kita yang 'konon' bersikeras mempertahankan tumbuhan-tumbuhan langka, melainkan sebagai bentuk kesadaran kita mengenai hakikat 'keberadaan' yang sudah memestinya direspon dengan penerimaan. Sebagaimana yang kerap diyakini bahwa dalam kehidupan ini berlaku yang namanya 'seleksi alam', penerimaan terhadap keberadaan Rini Intama juga bukan tanpa seleksi. Perempuan kelahiran Garut, Jawa Barat yang tinggal di Tangerang, Banten ini telah menjalani proses alam yang ketat itu. Ia mulai menjalani pilihannya (proses kreatif karya sastra) semenjak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga hari ini dan semoga terus berjalan. ***

 *( Muhammad Rois Rinaldi, penggiat sastra, tinggal di Kramatwatu, Banten.

Share this: