image1 image2 image3

HELLO I'M Muhammad Rois Rinaldi|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I LOVE TO DO CREATIVE THINGS|

EPILOG NOVEL MEJA 17 KARYA PROF. DR. IRWAN ABU BAKAR (SASTRAWAN MALAYSIA)

NOVEL ANTI-PLOT DI MEJA 17
Oleh Muhammad Rois Rinaldi


Add caption
Suatu malam, menjelang launching antologi puisi “Lentera Sastra” yang diselenggarakan di Dewan Orang Ramai, Kuala Lumpur, Malaysia. Saya dihadiahi sebuah novel dari Dr. Ir. Wan Abu Bakar, sekilas terbaca tajuk “Meja 17”. Sempat terbersit apa gerangan yang terjadi pada “Meja 17”, samakah dengan “Bangku Kosong” yang menjadi salah satu pelengkap film horror di Indonesia? Terlebih lagi cover bagian atas berwarna putih dan tajuk ditulis dengan warna merah menyala.

131 halaman memuat 17 bab usai dibaca, beberapa hari setelah saya sampai di Indonesia. Semua dugaan meleset walau ada beberapa kesan yang cukup mistis dan sedikit tidak realistis, seperti pada bab 3 bertajuk “Adat”. Entah adat semacam apa yang hendak disampaikan oleh penulis atau barangkali adalah semirip/seiras dengan adat Ngayau pada suku Dayak. Ngayau pada masa lalu memang syarat menjadi lelaki sejati bagi seorang Dayak. Namun, adat Ngayau atau Mengayau sudah lama dihapuskan. Tepatnya dihapuskan pada Musyawarah/Perjanjian Tumbang Anoi tahun 1894 yang mempertemukan seluruh suku Dayak di tanah Kalimantan/Borneo. Perhatikanlah dialog berikut ini:

“Wahai sahabat setia sehidup sematiku. Kita bersahabat baik, bukan?”

“Ya, kita sahabat baik dan sanggup mati untuk sahabat.”

“Dan aku sanggup mati untukmu,” sambung Amni, “dan  kau juga sanggup mati untukku,  bukan?”

Dari dialog di atas tidak ada kesan aneh, karena menghadirkan romantisme sepasang sahabat yang rela menyerahkan jiwa badannya demi sahabatnya. Akan tetapi kemudian muncul keanehan, Amni menjelaskan sesuatu pada Amri, sahabatnya itu. Bahwa di usianya yang 27 tahun, ia hendak menikahi seorang gadis yang lama diidamkan. Pernyataan itu sesungguhnya peryataan biasa, hanya syaratnya harus membawa jantung pemuda dari suku lain. Saat itu pula, Amni mengutarakan sekaligus meminta izin agar jantung Amri dapat digunakan untuk memenuhi syarat tersebut.

Dialog sebelumnya di atas ternyata tidak sungguh-sungguh, karena Amri merasa ini bukan cara yang benar. Amri mencari cara untuk melarikan diri, karena saat itu ia dibawa pergi pergi jauh oleh Amni ke tempat yang tidak ia kenal.  Amri tidak kehabisan akal. Ia membuat rekaan cerita bahwa ia harus membuat surat wasiat agar jika kelak Amri mati seluruh harta miliknya dapat diwariskan kepada Amni.  Mendengar rekaan cerita itu, Amni mengikuti permintaan Amri memutar arah menuju sebuah tempat untuk menandatangani surat wasiat/surat warisan itu. Singkat cerita, ternyata Amri membawa Amni ke penjara. Dalam keadaan Amni yang tidak berdaya, Amri berbalik mengutarakan permintaannya yang tidak kalah aneh. Amri yang juga sudah berusia 27 tahun ingin menikahi seorang gadis dengan syarat yang berlaku dalam adat, harus membuktikan kelelakian dengan cara membawa kepala seorang pemuda dari suku lain.

Bab 3 ini diselesaikan di sana. Ini cara cerdik untuk mengakhiri sebuah fragmen cerita. Sesuatu yang selesai tetapi tidak selesai di pikiran pembaca. Menggantung, sehingga pembaca akan dibuat bertanya-tanya, apa gerangan yang akan terjadi setelahnya. Apakah kepala Amni dipenggal atau Amni juga akan mereka cerita untuk mengelabui Amri?

Selain menyuguhkan berbagai macam hidangan yang terbilang unik, novel ini pun membuat semua hidangan dalam satu paket anti-plot. Apakah plot itu? Perrine dalam bukunya Literature: Structure, Sound and Sense menjelaskan, “Plot merupakan kerangka dasar yang amat penting. Plot mengatur bagaimana tindakan-tindakan harus berkaitan satu sama lain, bagaimana suatu peristiwa mempunyai hubungan dengan peristiwa lain, serta bagaimana tokoh digambarkan dan berperan dalam peristiwa itu.” (1974:41).

Lantas, sebegitu pentingnya “plot” bagaimana bisa ada novel anti-plot? Saya mengartikan novel anti-plot sebenarnya memiliki plot akan tetapi tidak sama sebagaimana novel kebanyakan. Memang ada sedikit kemiripan dengan plot campuran tetapi anti-plot memiliki plot yang sangat tersembunyi, harus ditemukan titik temunya untuk dapat memahami alurnya. Anggap saja sedang menyusun puzzle—puzzle dibuat bertolak dari gambar utuh yang sudah jadi, lalu dipotong-potong menjadi berbagai bagian yang saling berikatan. Jika bagian puzzle dilepaskan dan diacak, maka tugas selanjutnya ialah mengembalikan potongan-potongan itu menjadi bentuk semula yang utuh-menyeluruh.

Mengingat pada kajian-kajian teori semisal, Tahap penyituasian (situation), Tahap pemunculan konflik (Generating Circumstances), Tahap Peningkatan konflik (rising action), Tahap Klimaks, Tahap Penyelesaian (denoument), ataupun yang berkaitan dengan plot lurus, maju—progresif, sorot balik, mundur, flashback—regresi sebenarnya bukan tidak ada, melainkan ianya tersebar di seluruh tubuh novel. Butuh ketelitian, kepekaan, kecerdasan, dan kemampuan mencercap lebih dalam untuk menemukannya dalam novel ini.

Bagi penggemar novel realis apalagi penggemar novel teenlit, dapat dibayangkan betapa rumitnya membaca karya Dr. Ir. Wan Abu Bakar yang bertajuk “Meja 17” ini. Karena tidak ditemukan alur rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin sebuah cerita yang dihadirkan secara teratur dalam satu kesatuan cerita utuh. Kemudian lahir pertanyaan-pertanyaan berikut ini: " Meja 17 bisakah diterima oleh kalangan pembaca dari berbagai disiplin pemahaman yang dimiliki?", sangat bisa! Karena Novel anti-plot bukanlah hal baru dalam dunia kesusastraan, catatan sastra Indonesia telah menorehkan beberapa nama penulis novel antip-lot yang dipelopori oleh Iwan Simatupang dan Putu Wijaya. Dan keduanya nyata diterima di kalangan pembaca, tentunya dengan pangsa pasarnya masing-masing.

Pertanyaan lain yang mungkin muncul adalah: “Mengapa buku ini dinamakan novel, bukan kumpulan cerita pendek saja, sedangkan jelas dari berbagai sub bab tidak saling berkaitan ceritanya satu sama lain?” Pembaca mesti teliti dalam membaca dan merenungi lebih mendalam untuk menemukan sehelai benang merah yang menyatukan seluruh cerita dari satu ide besar sang penulis. Sebagaimana sudah saya paparkan dengan jelas, meski dinamakan “novel anti-plot” bukan berarti tanpa plot. Perhatikan simbol meja 17, perhatikan apa saja yang berlaku di sana dengan baik—akan ulas nanti di pembahasan berikutnya—mari  saya ajak mengulas secara singkat bab I, Bab 2, bab 7, dan bab 17 agar Anda dapat turut merasakan lompatan-lompatan kisah yang menyiratkan kesan dan pesan yang mendalam:

Bab 1: Gila

Dalam bab pertama pembaca akan dibuat heran oleh kelakuan pemuda berusia 30-an tahun, setiap hari ia duduk di Restoran e-Sastera. Ia memesan makanan dan minuman dengan porsi untuk dua orang. Hal tersebut diperhatikan oleh Usin, pemuda yang juga berusia 30-an tahun. Karena sangat sering ia datang, dalam hati Usin bertanya-tanya penuh heran, mengapa lelaki itu selalu duduk dan memesan minuman serta makanan untuk dua orang, sedangkan tidak ada yang datang menemuinya sepanjang hari hingga lelaki itu pulang?

Setiap lelaki itu datang, kembali pertanyaan-pertanyaan itu mengganggu Usin, tapi ia tak berani langsung mempertanyakan. Suatu ketika di hari ke-11, Usin duduk di meja nomor 17 dan memesan pesanan yang sama persis dengan lelaki yang kerap diperhatikannya. Dua teh tarik dan dua keping roti canai (roti khas yang ada di Malaysia, seperti roti India atau memang roti ini buatan penduduk Malaysia keturunan India) beberapa saat setelah ia pesan, lelaki itu datang menghampiri Usin tanpa bicara apapun. Padahal Usin ingin sekali ia bertanya tentang kelakuannya agar ia dapat pula bertanya tentang kelakuan lelaki itu.

Seperginya lelaki itu, Usin mendapatkan secarik kertas yang berisi tulisan, “Selamat jalan, saudara. Esok kita tidak akan berjumpa lagi. Esok saudara tidak akan ke mari lagi. Kedai ini terlalu kecil untuk menampung kehadiran dua orang gila.” Begitu membaca isi kertas, Usin tertawa terbahak-bahak.  Benar-benar terbahak sehingga tawa Usin tidak bisa dihentikan lantaran membaca tulisan itu. Akhirnya, karena diduga mengalami gangguan kejiwaan, Usin dibawa ambulan ke Wad/Rumah Sakit Jiwa.

Kesan:

Kesan yang dimunculkan dalam bab pertama adalah jenaka, bagaimana tidak? Pembaca seakan diajak melihat kelakuan pemuda berusia 30-an dengan kelakuan aneh. Memesan makanan dan minuman dua porsi. Seakan sedang menunggu sesuatu. Meski pada awalnya kesan yang muncul bisa elegy atau ironi. Seperti melihat seorang lelaki yang menunggu kekasihnya yang takkan pernah datang.  Setelah membaca secarik kertas yang diberikan kepada Usin itulah, suasana mistis dan memilukan itu pecah. Pembaca akan tersenyum sendiri atau bahkan ikut tertawa terbahak-bahak? Awas! Jaga kesehatan Anda.

Pesan:

Ada banyak pesan yang mungkin bisa diambil dari bab I, tapi bukan hal mudah menarik pesan dari gaya ucap dan gaya kisah penulis ini. Dan memang di sinilah kesulitan novel-novel anti-plot, membutuhkan pengeboran jiwa untuk menemukan pesan yang tersirat. Sejauh mata saya, pesan yang disampaikan adalah sudut pandang manusia tentang manusia lain yang dilihat dan dihadapinya.

Banyak sekali orang mencoba menerka-nerka apa gerangan yang sedang dilakukan seseorang, apa sebabnya ia berlaku begini dan begitu. Sehingga tak jarang berusaha melepaskan jati diri untuk menjadi orang lain, meski tanpa alasan mengapa mesti mengikuti prilaku orang lain yang belum tentu cocok dengan prilaku sendiri? Maka jadilah diri sendiri agar tidak kehilangan akal dan menjadi gila.

Bab 2: Anggur

Tentang Irma yang jatuh cinta pada Amri, pemuda yang ia temui di meja nomor 17.  Amri memesan sepiring anggur dan segelas teh panas. Setelah lama meja itu kosong karena muncul kisah bahwa meja 17 berhantu, semenjak Usin dibawa ke Rumah Sakit Jiwa lantaran tiba-tiba tertawa sendiri tanpa henti.

Kisah dimulai saat Irma menawarkan buku yang ia bawa dengan harga RM 10.00. (+- Rp35.000,-)  Seketika Amri meminta Irma duduk dan mengatakan ia belum beristri apalagi memiliki anak, lalu mengutarakan keinginannya untuk menikahi Irma. Meski terkesan sangat cepat, hati Irma sudah terlanjur jatuh cinta pada pandangan pertama.

Pulanglah Irma memberitahu ayahnya, tapi sebagaimana kebanyakan orang tua, ayahnya menanyakan pekerjaan Amri, kemudian Irma memberitahu bahwa Amri hanya seorang free-lance. Mendengar jawaban Irma, sang ayah tidak yakin mengizinkan ananknya menikah dengan pemuda tak berpenghasilan tetap.

Keesokan hari, ayahnya Irma yang bernama Leman menemui Amri di meja 17 untuk menyelidiki lebih dalam. Tentu saja hal tersebut tanpa sepengetahuan Amri. Obrolan terjadi antara keduanya, sempat terjadi debat serius antara keduanya mengenai pekerjaan seorang free-lance yang tidak memiliki penghasilan pasti. Saat perdebatan memanas Leman mengatakan bahwa ia adalah ayah dari Irma. Amri sempat terdiam, sebelum akhirnya ia mampu menguasai diri dan melanjutkan perdebatan.

Pada bab II perdebatan diakhiri dengan ucapan Amri: “Duit saya di bank tidak akan habis-habis. Duit saya di bank senantiasa bertambah setiap bulan walau saya gunakan. Arwah ayah dan emak tinggalkan saya RM 180 juta…” Leman langsung tercengang mendengar jumlah uang yang dimiliki Amri. RM 180.000.000 atau dalam rupiah Rp. 540.000.000.000.00,-. Bisa dibayangkan betapa kaya raya si Amri itu?

Kesan:

Kesan yang tercipta dalam bab II adalah suatu keadaan yang sering sekali ditemukan oleh pemuda di belahan dunia ini ketika hendak meminang seorang gadis. Adalah kekritisan para orang tua sang gadis terutama soal pekerjaan dan penghasilan sehari-hari. Inilah yang disebut pertarungan antara cinta dan kenyataan. Bicara cinta saat menghadapi pernikahan ternyata tidak cukup, ada kenyataan yang harus diterima dan dihadapi—menghidupi anak istri dengan layak dan cukup. Hal lain yang tidak terungkap, setelah perdebatan itu, apakah terjadi pernikahan antara Irma dan Amri?

Pesan:

Sebagai manusia tak sebatas bicara rasa, kita harus bicara tentang realitas yang dihadapi. Nasib baik Amri adalah pewaris harta yang berlimpah ruah, bagaimana jika pembaca bukan ahli waris harta kekayaan orang tua yang melimpah? Maka harus berusaha memenuhi kewajiban dengan bekerja—bekerja di kantor atau sebagai pedagang atau apa saja asalkan halal.

Bab 7: Cari Rezeki

Pada bab ini tidak banyak yang dikisahkan, hanya tentang sepasang pengemis, seorang remaja dengan seorang ibu tua yang melintas di meja 17 menengadahkan tangan sebagaimana kebanyakan pengemis.  Yang menarik, penulis tidak memunculkan bagaimana kasihannya melihat pengemis melainkan menguak kenyataan yang berbanding terbalik dengan kesan kebanyakan orang terhadap pengemis. Hal tersebut tampak jelas ditunjukkan penulis dalam dialog berikut:

“Eh, tapi semalam saudara yang buta dan ibu yang pandu,” kata Irfan kepada si remaja sebab malamnya Irfan dan Syima sudah berjumpa dengan keduanya pada malam sebelumnya.

“Oh, malam ini kami tukar syif, bang,” jawab anak itu selamba.

Bagaimana? Pengemis berbagi shif kerja? Ada manajemen waktunya? Ada karyawannya? Ini sungguh fenomena yang sering sekali kita hadapi di masa kini. Kesannya ringan memang, bab 7 bertajuk Rezeki ini. Akan tetapi jika ditelaah bobot pesan yang ingin disampaikan, sungguh mencerahkan. Betapa mengemis telah dijadikan profesi, sedang mengemis dalam Islam merupakan prilaku hina jika tidak dalam keadaan yang benar-benar mendesak.

Kesan:

Sebagaimana saya paparkan sebelumnya, kesan pengemis yang miris tidak ditampilkan penulis, melainkan kesan jenaka, betapa pengemis harus berpura-pura menjadi buta bahkan pada hari lain akan bergantian karena sudah diatur dalam jadwal syif—jadwal kerja biasanya digunakan dalam kantor-kantor dengan manajemen kerja yang sistemik dan dapat dipertanggungjawabkan secara kongkrit. Jika demikian, maka jelas pengemis ini menjadikan “mengemis” sebagai pekerjaan.

Pesan:

Tergantung kearifan masing-masing pembaca, mau mengambil pesan yang mana dalam menyikapi fenomena pengemis. Belakangan, sering sekali mendengar keluhan terhadap pengemis. Pengemis di perempatan jalan dinilai mengganggu lalu lintas. Tidak sedikit orang yang menganggap pengemis sebagai pemalas. Selain itu, ada pula pengemis yang lebih kaya daripada orang yang dimintai uang.

Semua keluhan ini terakumulasi menjadi masalah masyarakat, bahkan banyak yang mengharamkan dengan dalil kuat. Lalu bagaimana dengan pengemis yang benar-benar tak sanggup bekerja semisal seorang nenek yang tak punya siapa-siapa, hidup dari jalan ke jalan? Tentu pembaca punya kebijakan tersendiri untuk menyikapi hal ini. Ingatlah selalu pada Firman Alloh: “Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta maka janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).” (Adh Dhuhaa 9-11).

Bab 17: Padam

Tentang sepasang suami istri yang rukun  dan tenteram sepanjang menjalani hidup bersama. Hingga pada akhirnya ketentaram itu terganggu oleh seorang lelaki yang dijumpai istrinya di dunia cyber. Barangkali semacam facebook, twitter dan sejenisnya. Kedekatan sang istri dengan lelaki itu semakin hari semakin dekat hingga melampaui batas kewajaran dan melanggar norma-norma yang berlaku. Mengetahui kenyataan itu, sang suami bernama Izwan mengambil alih akun istrinya, lalu mengajak lelaki penggoda istrinya untuk bertemu di restaurant E-Sastra, seperti biasa Izwan duduk di meja nomor 17. 

Singkat cerita, datanglah lelaki penggoda istrinya itu lantas duduk di meja yang tak jauh dari meja nomor 17. Izwan tak henti memperhatikannya. Ada rasa dendam dan benci sebab lelaki itu telah berani menggoda istrinya. Tetapi ia mencoba untuk tampak tenang dengan memesan sate dan menyantapnya dengan lahap. Diperhatian lagi, lelaki penggoda itu mulai resah setelah lama menunggu. Izwan tetap tenang sambil memadamkan/menghapus semua catatan resmi lelaki itu dari situs-situs resmi. Hal ini dilakukan agar tidak ada jejak yang dapat dilacak oleh siapapun, termasuk kepolisian. Sehingga, kalau pun lelaki itu mati, tidak akan ada yang tahu. Izwan sanggup melakukan hal tersebut karena ia seorang hacker professional.

Setelah dirasa aman dan memastikan semua data resmi lelaki itu telah dihapus, Izwan melanjutkan rencananya. Sebuah pistol kecil dikeluarkan lalu ditembakkan ke arah lelaki itu.

Kesan:

Ada kesan psikopat pada tokoh Izwan, karena kebencian dan dendam ia telah membunuh seorang lelaki yang menggoda istrinya. Tidak hanya itu, lelaki itu mati tanpa siapapun akan tahu karena semua data resmi telah lenyap. Sadis sekali. Sebab rasa cemburu semua dilakukan.

Pesan:

Awas! Dunia cyber jika tidak digunakan dengan baik akan membawa bencana pada kehidupan nyata Anda. Bahkan sampai pada urusan paling pribadi sekalipun! Begitulah pesan terang yang tersirat dari kisah pada bab penutup novel “Meja 17”.

Tentu sudah dapat Anda tangkap, mengapa novel ini dinamakan novel anti-plot, dari beberapa bab yang diurai di atas, terasa betul beberapa bagian tidak saling berkaitan satu sama lain, hanya selintas muncul pertanyaan, Amri yang bertemu dengan Irma itu apakah Amri yang merupakan sahabat dari Amni, yang masing-masing saling menipu untuk memuluskan keinginannya? Tidak ada jawaban pasti mengenai hal itu.

Jika diperhatikan dengan baik, ada setting utama yang sengaja dibuat oleh penulis sebagai tempat bertemunya segala macam cerita dengan berbagai macam tokoh lengkap dengan wataknya. Tanpa kejelian melihat setting atau latar sebuah cerita, niscahya pembaca akan gagal menemukan berbagai hal penting dalam cerita. Karena Dengan mengetahui setting dengan baik, kita bisa lebih mengerti bagaimana sebuah latar bisa menghidupkan cerita, baik itu cerita tertulis sebagai teks, maupun penimbulan kesan visual di mata pembaca.

Merunut dari pendapat Aminudin, “Latar dalam cerita rekaan tidak hanya berupa tempat, waktu, peristiwa, suasana, benda-benda dalam lingkungan tertentu, tetapi juga suasana yang berhubungan dengan sikap, jalan pikiran, prasangka maupun gaya hidup masyarakat” (Aminudin, 1987:68).

Dapat ditemukan settingnya yakni pada restaurant e-Sastera di “Meja 17” yang menjadi judul buku. Prilaku beberapa tokoh, ucapan-ucapan yang mampu menghadirkan gambaran psikolog si tokoh dan sebagainya membantu pembaca untuk mengetahui alur cerita. Dari sana, penulis seolah mendudukkan semua keadaan, lalu ia mengamati satu persatu kejadian yang berlaku. Ini masuk dalam teknik penggunaan sudut pandang—Poin of View (PoV)—sudut  pandang disebut juga pusat narasi, penentu gaya dan corak cerita. Watak dan kepribadian pencerita akan banyak menentukan cerita yang dituturkan kepada pembaca. Keputusan pengarang dalam menentukan siapa yang akan menceritakan kisah menentukan apa yang ada dalam cerita. Jika pencerita berbeda, detail-detail cerita yang dipilih juga berbeda (Heri Jauhari, 2013 : 54). Maka jelas, pertanyaan gamang tentang keberanian Dr. Irwan menamakan bukunya sebagai novel memiliki landasan kuat.

Selain itu, novel ini sungguh menarik dari segi tematik, karena bisa mengaduk realitas sosial-budaya terkini tidak hanya  realitas sosial budaya di Malaysia, melainkan terjadi hampir di seluruh dunia. Gaya penutur yang omnipresent (serba tahu) berhasil dikemas dan dimainkan tepat sasaran. Hal menarik lainnya terletak dari gaya bahasa yang digunakan. Tidak banyak pemanfaatan metafora untuk menimbulkan kesan estetik, bahkan cenderung lugas. Jadi mudah saja menangkap cerita. Tetapi bicara pesan tidak begitu mudah. Karena pesan dengan teks yang ada saling berlawanan. Teks bicara “barat” ternyata pesan yang ingin disampaikan bicara “timur”. Dengan kata lain, Prof. Dr. Wan Abu Bakar benar-benar sanggup menjadikan kesederhanaan sebagai pembawa pesan yang mendalam.

Share this: