image1 image2 image3

HELLO I'M Muhammad Rois Rinaldi|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I LOVE TO DO CREATIVE THINGS|

TELAAH SEDERHANA BAGI ABUSIA

TELAAH SEDERHANA BAGI ABUSIA
Oleh Muhammad Rois Rinaldi

   

Kumpulan puisi karya Muhammad Asqalani eNeSTe yang berjudul “Abusia menghadapi tantangan besar di ranah kesusastraan Indonesia. Sebagai penyair muda, jalannya masih panjang. Begitu banyak kesempatan untuk terus menggali kemungkinan-kemungkinan pencapaian puitik. Karena tidak sedikit puisi yang tampak gamang untuk menentukan warna. Tentu saja di antaranya ada beberapa karya yang cukup menarik untuk ditelisik lebih dalam.
Lompatan-lompatan imaji, ungkapan, dan pola tuang yang sedikit lain dari kebanyakan membuat terasa segar saat membacanya (pembaca ternyata tidak selesai begitu saja, ia masuk ke dalam ruang renungnya sendiri). Walau secara teknis tidaklah jauh dari kebanyakan puisi yang telah ada. Sebab itu, rasanya  tak berlebihan menuliskan beberapa puisinya dan menyajikan kembali di tengah pembaca:

dari Izka ke Izka

salam pada pepohonan
salam jawab daundaun

pagi yang tak berembun
bergelimbun minta ampun
___

musafirmusafir tanpa bekal
melintas Taiwan
melewati hewan-hewan liar
di taman yang telah ditinggalkan
berabadabad silam
jauh sebelum angan diciptakan
___

bibir siapa yang tak bertakbir
di padang pasir

oase bersuara kering dan parau
___

dari Izka ke Izka

berapa jauhkah?
tanya pelepah kurma

mari kita ta’aruf kata angin bunting
desau menggunting percakapan

kita orang alim sekaligus lalim

begitulah perjalanan dari Izka ke Izka
terjebak antara dosa dan pahala
___

bumi bergoyang, sekian kaki tumbang
siapa yang sebenarnya berjalan?

___

air berhenti mengalir
segala yang getir tumbuh
dari Izka ke Izka

Tasbih ke 34 di Taipe 03 Juli 2012  (Abusia,  halaman 9)

Mengapa puisi di atas menarik? Selain “Abusia” yang entah artinya, walau sempat ditemukan dalam bahasa  Lituavi, “Abusia” memiliki makna “penyalahgunaan”.  “Izka” pun tidak ditemukan definisi pastinya, yang dapat dipastikan adalah nama tempat, karena selain ditulis dengan huruf awal kapital  juga penggunaan kata “dari” dan “ke” yang menunjukkan perjalanan dimulai sebelum akhirnya sampai.

Persoalannya adalah, nama di belahan bumi bagian mana? Tidak ada jawaban dari KBBI atau dari dialek keseharian masyarakat. Meski demikian, tidak menghalangi pemaknaan puisi, karena Izka menjadi simbol yang dapat dikiaskan kepada tempat atau benda sebagaimana dipaparkan di paragraf pembuka—dengan ini, nyatalah betapa puisi ditafsirkan susuka hati pembaca, tentu saja tafsir yang berlandaskan tanggung jawab dan etika yang benar.

Bacalah bagaimana Asqalani menukikkan puisinya pada pertanyaan mengenai kehidupan dan penghidupan berikut ini: kita orang alim sekaligus lalim/begitulah perjalanan dari Izka ke Izka/terjebak antara dosa dan pahala___//bumi bergoyang, sekian kaki tumbang/siapa yang sebenarnya berjalan?

Pertanyaan tersebut akan menjadi pertanyaan bagi setiap pembaca. Bahwa di antara kita, begitu banyak yang merasa berada di jalan yang benar. Seakan segala yang dilakukan sang diri adalah proses yang lurus menuju hakikat kebenaran, sementara orang di luar diri merupakan orang-orang atau kelompok salah jalan—menuju kegelapan. Puisi “dari Izka ke Izka” sebagai teks puisi memosisikan diri sebagai media refleksi pembaca, boleh dibilang cukup berhasil.

Selain soal pesan, kelebihan penyair ini terletak pada keberaniannya membuat lompatan imaji: “pohon”, “pagi”, “musafir”, “oase”, “bumi”, “manusia”, dan sebagainya, ia rangkum dalam satu perjalanan, “dari Izka ke Izka”. Meski ada napas perjalanan batin yang berkecendrungan pada ketuhanan. Hipotesa tersebut diambil setelah membaca buku setebal 102 halaman yang berisi 99 puisi (konon dikaitkan dengan Asma’ul Husna) terbitan Soega Publishing tahun 2013 tersebut.

Dalam endorsement, Arafat AHC yang mengatakan bahwa Asqalani sangat sufistik perlu digugat. Karena sudah terlampau banyak orang menandai penyair sebagai filsuf, hanya lantaran puisinya bernapaskan ketuhanan. Mengingat yang membikin endors juga terbilang penyair yang lagi demen-demennya bicara soal filsafat, jadi apa-apa yang beraroma ketuhanan, langsung dikata filsuf.  Mungkin, kalau ada ayam yang sedang mengeram telur akan dikata filsuf juga, lantaran kesabaran dan kecintaan ayam pada kodratnya.

Baik ayam maupun manusia, pada dasarnya memiliki sisi berketuhanan, itu fitrah. Itulah mengapa, kaum Nabi Musa membuat patung-patung dari binatang ketika ditinggalkan Sang Nabi. Tidak terkecuali dengan penyair Asqalani. Ia yang kadang suka cengengesan dan sembarangan merupakan penyair hebat, segala gerak tubuhnya selalu melahirkan aura positif: semangat hidup. Semangat hidup manusia akan selalu berkaitan dengan pencarian, termasuk pencarian akan hakikat dirinya, sebagaimana tergambar dalam puisi bertajuk “Tuhan Baru”: “aku sembahyang dalam rahim ibu”.

Puisi bertitimangsa1 Januari 2013 dan terletak pada halaman 28 tersebut, merupakan puisi terpendek yang ia suguhkan. Pendeknya teks puisi, tidak selalu linier dengan jangkauan maknanya. Dalam puisi sependek itu, Asqalani berhasil membawa bobot makna yang berarti.

Kira-kira rute yang saya pahami begini: selain Sang Khaliq adalah mahluq dan selain mahluq adalah Sang Khaliq—Sang Khaliq tidak berawal dan berakhir sedangkan mahluq berawal dan akan berakhir. Begitupun dengan manusia yang diciptakan dari tanah liat (Abah Adam)  bermula. Setelah menjalani sumpah setia di alam baiat/alam ruh, manusia akan memasuki sebuah tempat yang sakral, sebelum manusia diperkenalkan dengan dunia. Yakni rahim ibu, tempat transit manusia.

Apa atau siapakah yang dimaksud dengan “Tuhan Baru”? Apa korelasi antara “Tuhan Baru” dengan “Rahim Ibu”? lalu “sembahyang” sebagai bentuk keberserahan pada Tuhan yang mana? dalam pengertian Tuhan yang sejatinya Tuhan atau Tuhan Baru atau apa? Pertanyan-pertanyaan itulah yang semakin menegaskan, betapa puisi di atas memiliki tingkat Absurditas yang curam. Butuh pemahaman yang memadai untuk menafsirkan.

Jika ditelisik dengan seksama, “Tuhan Baru” merupakan sebuah kontradiksi dari kenyataan si aku lirik, seseorang yang terlahir takkan bisa masuk kembali ke rahim ibunya. Maka rahim ibu di sini bukan rahim sebagaimana adanya. Ia adalah ruang kesadaran kembali pada fitrah—fitrah manusia sebelum ia terlahir sampai ia lahir bayi, dan kecil adalah suci. Karena dosa mulai diperhitungkan setelah akil balig, perjalanan pun dimulai dari sana. Mengingat dalam perjalanan seorang manusia bisa saja menghadapi suatu keadaan batin yang penuh dengan gejolak, tidak terkecuali gejolak pencarian akan Tuhannya. Secara keseluruhan puisi tersebut menunjukkan kualitas Asqalani sebagai kreator yang tak sembarangan daya renungnya. Penyair yang sembahyang!

Terbilang banyak memang puisi-puisi pencarian dalam Abusia, di antaranya: “mengitari fasih lengang” halaman 31, “sabda asa” halaman 32, “di pertigaan” halaman 48, “PODO” halaman 49, “yang ketiga”  halaman 50, “gunting” halaman 58, dan “dalam pelarian” halaman 61. Selain puisi pencarian tidak sedikit nama yang menjadi sub judul dalam antologi puisi Abusia. Puisi dedikasi rupanya jadi rumah kreatif yang nyaman bagi Asqalani.  Tersebut “Lang Fang”, “Laura Rafti”, “Rizki Indah”, “Ferina”, “Jhody M. Adrowi”, “Makmur HM”, “Hanna Yohana”, “M. Yusuf Abdillah” dan beberapa nama lagi.
  
Baiknya tidak memuji berlebihan, keberhasilan itu hanya langkah awal, belum sampai pada titik yang benar-benar menggembirakan. Masih banyak waktu bagi Asqalani (jika Alloh memberi panjang usia) untuk terus belajar meningkatkan kualitas karya. Beberapa catatan barangkali, ada di penguasaan enjabemen yang berakibat pada pemenggalan-pemenggalan yang ganjil. Keganjilan tersebut dapat ditemukan pada puisi berikut:

ke tukang jam

pada tukang jam aku bertanya,
“mampukah kau menyelamatkanku dari siasia?”
dia menggeleng.
“aku menghancurkan banyak jam,
berselisih paham dengan tuhan,
prihal hakikat jam”
katanya, “demi masa”
“aku tak percaya dengan segala
sumpahNya, aku memperkosa jam

sepuasnya. Tapi malah aku yang ternoda.
Malah aku yang siasia”
“hahaha, berhentilah mencari mati” katanya lantang.
Matanya terpejam, aku menyaksikan maut telanjang

(Abusia, halaman 46)

Banyaknya tanda kutip seperti tak bergradasi, sehingga berpotensi membuat pembaca bingung bagian mana ucapan tukang jam, mana ucapan Tuhan dan mana ucapan sang aku lirik? Kesalahannya bukan pada pilihan kata, penggunaan kalimat langsung, dan kalimat tidak langsung. Kesalahan terletak pada jarak teks yang terlalu berdempetan, sesak sekali jadinya. Mestinya diatur agar ada jeda napas bagi pembaca menemukan siapa bicara apa dan apa yang dibicarakan siapa.

Mengenai muatan pesan, puisi “ke tukang jam” terbilang berbobot dan memiliki potensi menenggelamkan pembaca ke ruang renung yang dalam. Namun kudu hati-hati dengan penulisan kata ulang. Ada beberapa kata ulang pakai strip (-) ada yang tidak, ini bisa dianggap tidak konsisten (untuk tidak mengatakan belum paham tentang konsistensi) oleh pembaca.


Terakhir, alangkah indahnya jika karya indah diterbitkan dengan penataan letak yang menarik. Dalam “Abusia” tata letak masih acak, ada puisi yang bersambung ke halaman berikutnya, naasnya, saya mendapatkan kiriman buku ini dalam keadaan yang kurang sehat, saya membaca sambil tidur telentang, satu dua halaman saya langsung pusing tujuh keliling. Bukan karena puisinya, tetapi karena tata letaknya yang kacau! ***

Share this: