image1 image2 image3

HELLO I'M Muhammad Rois Rinaldi|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I LOVE TO DO CREATIVE THINGS|

SAJAK PENDEK TIDAK BERARTI BERNAFAS DAN BERIMAJI PENDEK





Oleh: Cunong Nunuk Suradja
(Diterbitkan di buku 2,7, Bengkel Puisi Publishing, 2014)

Terkait dengan sajak pendek yang pertama tersua adalah sajak Sitor Situmorang Malam Lebaran yang terkumpul dalam kumpulan puisi Sitor Situmorang Dalam Sajak (1955) kemudian juga pada sajak-sajak Sapardi Djoko Damono dan Joko Pinurbo ada beberapa. Dari buku Proses Kreatif[1]Jilid 1 yang disunting Pamusuk Nasution (Eneste) tercatat:

Tahun 1954, Jakarta. Beberapa hari sesudah Hari Raya Idulfitri umat Islam. Suatu sore, saya berniat pergi bertamu ke rumah Pramoedya Ananta Toer, untuk kunjungan halalbihalal. Apa lacur, rumah (gubuk)-nya di daerah Kober sepi orang dan hari sudah malam ketika saya sampai. Kecewa amat rasanya!

Pulang dari daerah perkampungan tempat tinggalnya, yang berrselokan-selokan mampet yang bau busuk, saya kesasar ke suatu temmpat yang penuh pohon-pohon tuan dann rimmbun,  serta dikelilingi tembok. Ada bulan. Karena kepingin tahu ada apa di balik tembok yang seperti loji di Jawa itu, saya mendekatinya. Berdiri berjingkat, di atas seonggok batu di kaki tembok, saya berhasil melongok mencari tahu ada apa di balik tembok itu: ternyata pekuburan berisi berbagai ragam bentuk kuburan berwarna putih, tertimpa sinar bulan di sela-sela bayangan dedaunan pepohonan! Pekuburan tua orang Eropa penuh tanda salib!

Saya terpesona, sejenak saya, mungkin hanya beberapa detik, mengammati tamasya itu! Bahkan terpukau seperti tersihir. Saya lalu berpaling, turun dari onggokan batu. Rasa kecewa kini diharu biru oleh kesan. (halaman 28)

Pesona kesan alam dan keterasingan menciptakan pemicu lahirnya sajak, juga interaksi hubungan sepihak maupun timbal balik. Maka tak heran dunia maya sangat merangsang kreativitas saat bersentuhan dalam gaduh tapi terasing: dunia Facebook dunia grup puisi dukotu (Puisi 2,7). Sebenarnya jenis puisi Indonesia yang terpendek disebut Gurindam[2] dan Karmina[3]. Tetapi kedua puisi tua Indonesia tersebut tidak terbatasi kosa kata atau diksi yang digunakan dalam penciptaanya. Puisi 2,7 terikat dengan tujuh kata yang tersusun dalam dua baris. Sehingga Puisi pola tuang 2koma7 layak menyatakan beda dengan Gurindam maupun Karmina. Boleh jadi dua baris-nya sama, pesan yang bermakna petuah ataupun penggunaan sampiran dan isi tetapi pembatasan tujuh kata atau diksi ini yang membedakan dengan sangat.

Apakah nantinya ada juga proses kreatifnya tercetak seperti peristiwa Malam Lebaran Sitor Situmorang? Tinggal sejarah yang akan menjawabnya. Buku pertama sudah tercetak tahun lalu dan berlanjut sekarang dengan pola nirlaba terencana secara terstruktur, sistematis dan masif dalam tiga jilid buku sekaligus. Jumlah anggota grup yang lebih dari 8000 tentu cukup terwakili kalau saja sastrawan Indonesia atau Nusantara yang ada ikut terlibat aktif dalam grup tadi (Katakan dari 250 juta penduduk Indonesia yang dewasa ada seperempatnya: 60 juta. Dari 60 juta penduduk dewasa satu permil saja ada sekitar 60.000. tentu akan tercetak lebih dari 30 buku puisi setiap tahun)

Seperti pada buku pertama dengan pola ‘asah-asih-asuh’ berkolaborasi baik gagasan maupun pembiayaan penerbitan dalam berbagai tema maka warna tiga buku ini jadi makin berpelangi walau terbatasi dengan tujuh diksi. Dengan kerja yang sistematis terstruktur jajaran admin (pengelola grup) mengumpulkan sekitar seratus tujuh puluhan puisi pola tuang 2,7. Dengan tekun para admin menilai dan menghasilkan urutan sepuluh besar yakni:

Sepuluh puisi terbaik dari data penilaian admin.

1. CAHAYA KATA, DOA karya Dimas Arika Mihardja

2. SAJAK KECIL BUAT DI karya Imron Tohari

3. BUKU YANG TERTUTUP, 3 karya Djuhardi Basri

4. Fragmen Manusia Pada Satu Dasawarsa karya Muhammad Rois Rinaldi

5. TAPAL BATAS karya Setiadi D Saputra

6. KENANGAN III karya Asoka Jingga

7. DALAM NAFASMU: DIANI, AKU KEMBALI BERHEMBUS, MENEMBUS WAKTU, MELEMBAH LERAI DUKOTU, MEREDAM BARA DI PUCUK SALJU, DAN KAU DI SANA TERSENYUMLAH DENGAN TENANG PUN BANGGA karya Andri Pitun Cianjur

8. KECIPAK SAMPAN MALAM karya Bung Jupri

9. Tarian Maut karya Muhammad Rois Rinaldi

10.TELAH SAMPAI DI TAPAL BATAS 2 karya Hayat Abi Cikal

Terwakili sepuluh karya terbaik ini tentu menggembirakan sebagai perangsang kreativitas walau tanpa imbalan atau iming-iming hadiah spektakuler. Sajak yang setema segagasan seide memang memberikan kecenderungan sejajar. Pilihan kata yang dari itu ke itu. Karena ini sajak tentang seseorang yang meninggal berpulang ke rahmatullah yang di akhir hayatnya menunjukkan prilaku yang manis dan mengesankan tentu saja kenangan demi kenangan bak bunga beraneka warna. Tak ada warna kelabu memahami rahasia kematian yang memang sudah diperkirakan akan datang. Mari simak pesan itu kepada teman kerabat sahabat handai taulan di grup 2koma7:

Diani Noor Cahya 

July 18 2014
……
2 jam ke depan, atau mungkin lewat 7 menit saya akan berada dalam medan perang ''bharatayuda'' saya yang sesungguhnya dan mendaraskan syair yang belum pernah saya nyanyikan seperti sebelumnya di sana
……

Begitulah awal mula tiga buku ini dihantar ke permukaan sebagai ungkapan ‘kehilangan’ dan ‘sayang’. Mari perlahan ditelusuri jejak ke sepuluh sajak tersebut. Bermula dari dua sajak yang seimbang kekuatan karena keduanya adalah bidan pembantu persalinan anak bajang puisi pola tuang 2koma7. Dua kampiun di laga ‘baratayudha’ yang kadang seirama kadang berbenturan sesuai dinamika percakapan dan nuansa aroma gagasan. Dua mata pedang yang saling asah - asih - asuh dan ‘manjing ajur ajer’ layaknya keris masuk ke ‘warangka’.[4]Dua nama itu adalah Sudaryono[5] dan Imron Tohari[6]. Pasangan ini memang pasangan yang dapat menerapkan semboyan ‘asah-asih-asuh’ dengan pas.


CAHAYA KATA, DOA


AyatAyat Puisi, melangit
Mengalir di perigi sunyi

2 Agustus 2014

Sudaryono Unja


SAJAK KECIL BUAT DI
: Diani Noor Cahya


dalam puisi kaulukis sepi
Di--- namamu abadi

(lifespirit, 3 Agustus 2014

Imron Tohari

Dua puisi peringgkat atas yang merujuk pada tokoh sentral (dari tiga buku nantinya) almarhumah Diani Noor Cahya. dan seperti yang terungkap - dunia Facebook yang gaduh tapi sunyi - dengan nyata tanpa metafora atau majas yang lainnya langsung menukik tajam pada kata sunyi dan sepi. Padahal kematian itu bukan kesunyian dan kesepian karena bertemu Khaliknya. ‘Kematian adalah tidur panjang’ lantun Ebiet G. Ade untuk Camellia 4[7].
Muhammad Rois Rinaldi[8] anggota grup ini yang sudah berani mengepakkan sayap kupu-kupunya berwarna-warni Nusantara mampu menyodorkan dua puisinya yang menggungguli kedua suhu puisi 2koma7 di atas. Simak puisi Rois berikut!

Fragmen Manusia Pada Satu Dasawarsa
: Diani Noor Cahya

Pagi bagimu, akhirnya menghela
Tabuh bedug ketiga.

Muhammad Rois Rinaldi, Cilegon, 2014-08-03

Tarian Maut
:  Diani Noor Cahya

Dan tertakluklah setiap cinta
pada hentak kematian.

Muhammad Rois Rinaldi, Cilegon, 2014-08-03


Rois ternyata tidak menyigi kematian adalah kesunyian dan kesepian. Rois lebih berani bermain dengan diksi yang mestinya musykil dalam kematian sebagai pagi tetapi lebih pada diksi senja. Juga kematian sebagai bukti cinta Sang Khaliknya. Luar biasa loncatan imaji yang semena-mena sudah dicapainya pada ufuk Chairil Anwar seperti catatan atas dirinya pada suatu laman menurut Prof. DR. Sudaryono, M.Pd (http://www.wattpad.com/8734326-tentang-muhammad-rois-rinaldi) dan Puja Sutrisna[9] menjuluki Rendra Kecil. Nama Rois memang terpatri pada antologi puisi Lentera Sastra dan grup Facebook “Puisikan Bait Kata Suara” (https://www.facebook.com/groups/puisikanbaitkatasuara/)

Puisi Fragmen Manusia Pada Satu Dasawarsa mempunyai nilai lebih tidak “sekedar” rajutan sunyi senyap sepi mati tapi justru kegaduhan pagi dengan aroma Tabuh bedug ketiga. Isyarat panggilan atau tanda waktu untuk menghampiri rumahNya. Dorongan kesadaran seperti makna ''bharatayuda'' sebagai pamit mati para ksatria ke medan Kurusetra yang diunggah oleh almarhumah tertangkap dengan genderang kreatif yang massif arti. Pemilihan diksi yang ‘jleb!’ Juga paradox pada menghela di sisi lain (Tarian Mauthentak dan tertakluklah setiap cinta. Tak ada lagi puisi tersisa yang mampu melampaui tendangan lambung imaji penyair Banten Selatan ini.

Menyusuri sisa-sisa puisi tak akan sia-sia walau seperti menonton film atau drama panggung yang titik klimak ejakulasi telah terpuasi dengan puisi Rois yang tak perlu puasa kuasa. Mari disapa dengan lenguh elahan klimak pada dua puisi yang menerakan batas kehidupan atau mati sebagai tapal batas. Metafora titik akhir perjalanan dari kota ke kota lain atau negara ke negara lain, begitulah kehidupan manusia yang dianalogikan sebagai kafilah di muka bumi. Petualang yang selalu mengejar waktu senja seperti cerita Seno Gumira Ajidarma dengan novel Negeri Senja.[10]

TAPAL BATAS

berlayaran perahu belasungkawa
kuplet-kuplet sunyi merangkum samodra

Magelang, 2014

Setiadi D. Saputra

TELAH SAMPAI DI TAPAL BATAS
: Diani Noor Cahya

kita hanya pejalan, sayang
jarak telah ditentukan

Pandeglang, MH 050814

Hayat Abi Cikal


Hayat Abi Cikal yang sewilayah dengan Muhammad Rois Rinaldi menyapa pembaca seakrab-akrabnya juga almarhumah dengan mengkita: Diksi yang rancu dengan mengkami jika diterjemahkan dalam Bahasa Inggris. Persis seperti Seno Gumira Ajidarma yang menyebut sebagai pengembara, kafilah, pejalan ataupun pelancong. Setiadi D. Saputra lebih memilih pelayaran bukan lewat darat maupun udara. Tetapi Setiadi D. Saputra belum melentingkan imajinya yang sudah pas dengan perahu dan seperti kerbau dan bangau kembali ke kubangan rawa-rawa lumpur sunyi. Sedang Hayat Abi Cikal memang belum sepadan dengan Muhammad ‘Chairil-Rendra’ Rois Rinaldi dalam mengolah diksi jadi tak basi-basi karena sudah menyerah pada apologia takdir jarak telah ditentukan.

Pertanyaan pasti dihunjukkan pada empat penyair dengan puisi terpilih dalam jenjang sepuluh besar. Simak keempat puisi berikut

KECIPAK SAMPAN MALAM
: Kepada Diani Noor Cahya

merumbai sauh, melambai teduh
pulau putih terlabuh

BJ-RBG-06082014

Bung Jupri

BUKU YANG TERTUTUP, 3


segundukan makam dirimbuni puisi
takhabis-habis, engkau membacanya.

Kotabumi, 02082014

Djuhardi Basri




KENANGAN III
: Diani Noor Cahya


percakapan itu masih ada
kau dan puisi

bdg,040814

Asoka Jingga

DALAM NAFASMU: DIANI, AKU KEMBALI BERHEMBUS, MENEMBUS WAKTU, MELEMBAH LERAI DUKOTU, MEREDAM BARA DI PUCUK SALJU, DAN KAU DI SANA TERSENYUMLAH DENGAN TENANG PUN BANGGA

daun cemburu pada nafasmu
hembusan berguguran kenang

Jember, APiC. 03-08-2014.

Andri Pituin Cianjur

Dari keempat puisi ini Andri Pituin Cianjur[11] yang mengasongkan sajak berjudul gerbong kereta. Dalam tajuknya terbaca wawancara sikap penyair yang menyusur ke jejak-jejak persahabatan yang tiba-tiba terpotong kematian yang seakan ‘mendadak’ padahal sesungguhnya ada pesan yang samar tapi tegas seperti yang dikutip di atas surat Diani Noor Cahya dengan titi mangsa 18 Juli 2014 kepada rekan-sahabat-karib-kerabat admin-pengelola grup.

Judul panjang segerbong ini sebuah upaya-usaha menyiasati imaji yang tertekan terbatasi tujuh diksi. Dengan judul panjang yang mungkin dapat setengah halaman, penyair mencoba memaparkan jejak tujuh diksi bak kurcaci yang melindungi Snow White di tengah hutan belantara dari gangguan sihir ibu tiri yang selalu dicitrakan jahat. Ada hal yang merupakan tabu dalam puisi 2koma7 yakni pada pemborosan kata yang sudah terunggah kecuali beralasan dan menukikkan kebermaknaan.  Diksi ‘hembus’ dua kali muncul dalam kadar tetap sebagai maknanya bukan metafora. Juga diksi ‘nafasmu’ yang akan mengundang bayang atas angin, hembus, aliran udara. Dua diksi yang terasa jadi tersia-sia dan menghancurkan imaji yang terbangun dalam judul sepanjang gerbong kereta api barang. Terasa benar egosan yang ceroboh kalau tersanding dengan sajak ‘Rois Chairil-Rendra Kecil’ yang dengan pasti dan jitu menukik pada gagasan yang terkemas dalam dua baris tujuh kata tanpa terasa kedodoran.

Sajak Bung Jupri yang bermusik uh uh uh ternyata masih ngeri ngeri sedap untuk disejajarkan dengan ke sepuluh peringkat teratas penilaian juri admin-pengelola grup dukotu. Bung Jupri (BJ) masih berasyik-masyuk dengan permainan rima yang tanpa merengkuh tumpangan gagasan lebih menyeluruh sehingga ruh puisinya menari cantik tanpa meninggalkan pesan yang dalam. Dan judulnya terkesan ringan dilidah untuk didecakkan:KECIPAK SAMPAN MALAM. Seandainya tema kematian itu tak tersampirkan tentu puisi ini lebih mengizikan pembaca dengan lanskap alam yang sesuai jejak camar Pantura – Pantai Utara.

Dua sajak penutup ini cukup terang jelas terbaca di judulnya. Buku dimetaforakan dengan kehidupan yang diakhirkan dengan usai mencatat dan menutup sebagai kehidupan terlanjut dalam misteri yang hingga kini belum ada reportase perjalanan maut kecuali tanda-tanda yang ditawarkan dalam kitab-kitab suci berbagai agama yang ada di bumi ini. Djuhardi Basri[12]tak henti-henti ‘membacanya’. Sedangkan Asoka Jingga[13] dengan lugas mencatat: percakapan itu masih ada/kau dan puisi. Kenangan yang bak bunga kenanga selalu terkenang-kenang bahkan suka membuat kerutan kening.

Seperti catatan[14]Esti Ismawati[15] benarlah adanya kerabat yang lebih dari 8000 ini ditengarai menuliskan puisi 2,7 hinggap ditahap memenuhi syarat dua baris dengan tujuh kata tanpa mempunyai cucuk gagasan yang memucuk ke pucak perenungan atau meditasi. Inilah tantangan teman-teman semua untuk membuktikan di buku terbitan selanjutnya sebagai jawaban atas catatan cukup pedas tersebut.

Semoga!
Bogor, 20 Agustus 2014
cunong n. suraja
pengajar Intercultural Communication
FKIP – Universitas Ibn Khaldun Bogor










Note:

[1] Pamusuk Enneste. 1984. Prrose Kreatif, Jilid 1, Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang. Jakarta: Penerbit PT Gramedia/PT Grammediia Pustaka Utama (KPG-Kepustakaan Populer Gramedia)

[2]Gurindam (Jawi: ڬوريندام) is a type of irregular verse forms of traditional Malay poetry.[1] It is a combination of two clauses where the relative clause forms a line and is thus linked to the second line, or the main clause. Each pair of lines (stanza) provides complete ideas within the pair and has the same rhyme in its end. There is no limit on the number words per line and neither the rhythm per line is fixed.[2] (taken from http://en.wikipedia.org/wiki/Gurindam)

Gurindam adalah bentuk puisi lama yang terdiri dari dua bait, tiap bait terdiri dari 2 baris kalimat dengan rima yang sama, yang merupakan satu kesatuan yang utuh. Gurindam ini dibawa oleh orang Hindu atau pengaruh sastra Hindu. Gurindam berasal dari bahasa Tamil (India) yaitu kirindamyang berarti mula-mula amsal, perumpamaan. Baris pertama berisikan semacam soal, masalah atau perjanjian dan baris kedua berisikan jawaban nya atau akibat dari masalah atau perjanjian pada baris pertama tadi. (dari http://id.wikipedia.org/wiki/Gurindam)

[3]Karmina atau dikenal dengan nama pantun kilat adalah pantun yang terdiri dari dua baris. Baris pertama merupakan sampiran dan baris kedua adalah isi. Memiliki pola sajak lurus (a-a). Biasanya digunakan untuk menyampaikan sindiran ataupun ungkapan secara langsung. (dari http://id.wikipedia.org/wiki/Sastra_Melayu#Karmina)


[4]Warangka atau sarung keris (bahasa Banjar : kumpang), adalah komponen keris yang mempunyai fungsi tertentu, khususnya dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa, paling tidak karena bagian inilah yang terlihat secara langsung. Warangka yang mula-mula dibuat dari kayu (yang umum adalah jati, cendana, timoho, dan kemuning). Sejalan dengan perkembangan zaman terjadi penambahan fungsi warangka sebagai pencerminan status sosial bagi penggunanya. Bagian atasnya atau ladrang-gayaman sering diganti dengan gading.

[5] Sudaryono (Dimas Arika Mihardja): lahir di Kulon Progo, Jogjakarta 3 Juli 1959 dengan nama resmi Sudaryono. Saya diangkat menjadi PNS sebagai dosen FKIP Universitas Jambi sejak 1986. Disertasi yang mengantarkannya meraih Program Doktor di Universitas Negeri Malang (2002) berjudul Pasemon dalam Wacana Puisi Indonesia telah dibukukan dengan judul Fenomena Pasemon dalam Teks Puisi (Kelompok Studi Penulisan, 2003). Kini Ia tinggal bersama seorang istri (Rita Indrawati) dan 3 putrinya (Marenda Atika Mh., Riyandari Asrita Mh., dan Dyah Ayu Sukmawati). Sudaryono menghuni rumah di Jln. Pattimura RT 34 No. 42, Kenali Besar, Kotabaru, Kota Jambi. Hand Phone: 08127378325, e-mail: dimasarikmihardja@yahoo.id Karya kreatif yang dihasilkan berupa cerpen, novel, puisi, esai, kritik sastra, dan kajian sastra.

[6] Imron Tohari: data penyair dan penggagas puisi pola ttuang 2koma7 inni hanya menunjukkan berdomisili di Pulau Lombok. selain 2koma7 dia juga menawarkan pola 4444 (https://www.facebook.com/notes/imron-tohari/mengenalkan-puisi-pola-tuang-4444-lifespirit/10150873720928174). Puisi dengan pola tuang 4444 ini saya ciptakan atas dasar ketertarikan saya pada karya sastra sajak, syair, pantun, gurindam, yang berbasis akar budaya tanah leluhur yang kita cintai. Berawal dari sana saya tergelitik untuk membuat puisi rima dengan aturan yang boleh dikata tak lazim, karena pola ini terdiri dari serangkaian tautan kalimat yang per kalimatnya hanya terdapat 4 huruf pada kata/kalimat (kata dasar); 4 huruf dalam satu kata/kalimat, namun dalam satu kesatuan utuh tubuh karya, dan harus tetap memenuhi unsur sajak baik secara estetika bahasa pun secara estetika makna.


(http://lirik.kapanlagi.com/artis/ebiet_g._ade/camelia_4)

[8] Muhammad Rois Rinaldi:(lahir di Serang, Banten, 8 Mei 1988) sastrawan Indonesia yang mengawali karirnya di usia muda. Sejak duduk di SD Rois sudah menulis puisi, cerpen, dan esai.

Berbagai penghargaan telah diraihnya, dari tingkat lokal, nasional, hingga tingkat Asia Tenggara. Rois aktif sebagai pengurus Dewan Kesenian Cilegon dan Pemred Tabloid Ruang Rekonstruksi. Ia juga editor beberapa buku sastra.

Rois dijuluki penyair muda "Prolifik" di negara tetangga, di antaranya Malaysia dan Singapura, Di kalangan sesama penyair seangkatannya, Rois sering disebut sebagai "Macan Panggung", karena gaya panggungnya yang ekspresif dan aktraktif.

Selama tiga tahun berturut-turut, Rois mendapatkan penghargaan sastra antarnegara serumpun dari tiga organisasi sastra yang berbeda, yakni Numera Malaysia, eSastera Malaysia, dan Lentera International. Pencapaiannya saat ini melampaui prestasi penyair-penyair seusianya.

Rois terbilang pelit mengeluarkan karyanya di media. Dapat dihitung dengan jari kemunculan karyanya di media. Sepertinya jalur penerbitan buku yang lebih ia minati Dari beberapa catatan, Rois telah menerbitkan buku puisi bersama baik di Indonesia, Malaysia, maupun di Singapore lebih dari 30 buku sepanjang tahun 2011-2014.(http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Rois_Rinaldi) Atau dapat diklik http://www.wattpad.com/8734326-tentang-muhammad-rois-rinaldi.

[9] Puja Sutrisna dikenal sebagai penyair dan kritikus dari Boyolali, Jateng.

[10]Negeri Senja Seno Gumira Ajidarma: bercerita tentang catatan seorang pengembara/musafir lata yang sedang melakukan perjalanan di sebuah negeri yang tidak terdapat di dalam peta, negeri ini ada tapi tiada, negeri yang miskin di mana waktu seolah-olah tidak bergerak, karna selalu berada dalam keadaan senja, matahari tertahan terus di cakrawala, tidak ada pagi, tidak ada siang, tidak ada malam yang ada hanya senja. Negeri ini disebut Negeri Senja. (http://gebyarbahasa.blogspot.com/2012/04/sinopsis-roman-negeri-senja-karya-seno.html)

[11] Andri Pituin Cianjur: Guru at SMK Negeri 5 Jember and Trader at Clariass sp. Hatchery

[12]
Djuhardi Basri lahir di Kotabumi, 27 November 1960. Ia adalah ulun (orang) Lampung asli. Putra dari pasangan H. Basri K.A. dan Hj. Nurhayati menghabiskan masa kecilnya di kota kelahirannya.
Masa sekolah Djuhardi dari tingkat SD hingga SMA ia selesaikan di Lampung, setelah itu ia melanjutkan pendidikannya di Fakultas Sastra dan Filsafat, Universitas Negeri Sebelas Maret. Ia sempat juga kuliah di Fakultas Sosial Politik Universitas Slamet Riyadi, Solo. Namun, tidak diselesaikannya. (http://arahlautlepas.blogspot.com/2008/11/djuhardi-basri.html)

[13]Asoka Jingga Lives in Bandung

[14]August 18 at 11:02pm
dari beberapa puisi 2,7 yg diposting tampak bahwa puisi2 tsb belum melalui proses perenungan yg mendalam... ide apa yg ingin disampaikan belum jelas... perlu banyak kontemplasi... ayo  

[15]Esti Ismawati Works at Universitas Widya Dharma Klaten and Lives in Klaten, Jawa Tengah, Indonesia

Share this: