image1 image2 image3

HELLO I'M Muhammad Rois Rinaldi|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I LOVE TO DO CREATIVE THINGS|

PENGANTAR INTUISI

PENGANTAR INTUISI
Oleh Muhammad Rois Rinaldi


Puisi-puisi Suheli Karyadi tidak asing lagi bagi saya. Terhitung setahun terakhir ini, saya kerap menemukan puisi-puisinya di beberapa koran Banten, pernah juga saya muat di Tabloid Ruang Rekonstruksi. Mengikuti perjalanan kekaryaannya saya rasa cukup menggairahkan.  Tampak sekali ia benar-benar bersikeras menekuni proses penciptaan puisi: proses yang panjang, melelahkan dan melelehkan. Kenampakan tersebut dilantari kualitas puisi-puisinya yang kian hari kian membaik dan memberikan harapan yang juga baik. Meski di lain sisi, belum ia temukan kedalaman puisi yang memuisi. Paling tidak, keuletan yang dimiliki olehnya sudah menjadi kabar gembira tersendiri. Apalagi, ia adalah seorang guru di satu sekolah yang berada di Kota Cilegon. Diharapkan dapat menularkan kreativitas penulisan puisi kepada murid-muridnya.

Ia mengabarkan kepada saya, akan menerbitkan antologi tunggal bertajuk “Intuisi”,  kabar tersebut saya tanggapi dengan suka cita. Sebagaimana yang kerap saya sampaikan, bahwa kesusastraan Indonesia satu dekade terakhir ini mengalami perkembangan progresif dari segi kuantitas. Ditandai dengan maraknya penerbitan buku sastra, baik dilakukan bersama atau perorangan, baik diterbitkan oleh penerbit mayor atau diterbitkan oleh penerbit indie. Terlepas dari perdebatan ketidaklinieran antara kuantitas dan kualitas, banyaknya penerbitan buku sastra sangatlah layak disyukuri oleh penggiat dunia sastra itu sendiri. Betapa tidak, gairah kesusastraan Indonesia telah memasuki babak baru, yakni demokratisasi kesusastraan dan meruntuhkan hegemoni kanon sastra yang selama ini seperti lemari es yang membekukan. Meski bukan berarti praktik pengangkangan wacana publik turut tergeser.

Kembali menyoal tanggapan, tidak ada pertanyaan dan pernyataan dari saya kecuali ucapan selamat atas niat baiknya tersebut—antologi tunggal, konon dianggap sebagai tanda sah kepenyairan—dengan begitu, ia telah mengabadikan jejak karyanya melalui media yang tepat, yakni buku. Pada gilirannya, dapat dijadikan pembanding bagi kelahiran karya-karya berikutnya. Selain itu, dengan dibukukan, puisi-puisi tersebut dapat menjadi warisan bagi anak cucunya kelak. Tentu ini harapan paling sederhana yang siapa saja boleh memilikinya. Lebih luas lagi, buku ini semoga memberi warna bagi kesusastraan Indonesia.

Bagaimana dengan kualitas “Intuisi”? sudahkah layak diterbitkan atau semestinya ia disimpan saja sebagai koleksi pribadi? Pertanyaan tersebut akhirnya saya jawab ringan saja, jawaban yang serupa pertanyaan: adakah yang tidak layak di muka bumi ini, jika ia sungguh lahir dari kejujuran? Kualitas yang semacam apa yang sedang dibicarakan dan dari segi mana menilainya? Pendekatan karya tidak melulu pendekatan tekstual melainkan harus juga disentuh konteksnya agar tidak melahirkan pandangan yang terlampu seram terhadap dunia sastra. Begitu pun dengan “Intuisi” ia telah lahir. Biarlah pembaca memberikan responnya masing-masing. Mengingat puisi-puisi mantera karya Sutardji Calzoum Bachri pernah dianggap tidak layak oleh NH Dini, puisi-puisi Chairil Anwar dikata puisi rujak oleh  Sutan Takdir Alisjahbana, dan banyak lagi kejadian serupa di sepanjang sejarah kesusastraan Indonesia yang kemudian jadi menarik bagi perkembangan sastra Indonesia.

Tema-tema dalam buku ini lebih didominasi dengan kritik sosial-budaya, di antaranya “NEGERI BENCANA”, “Palestina”,  “Lakon Politik”, “Berjaya di Atas Derita”,  “Topeng Kehidupan”,  “Malam Pergantian Tahun”,  “Air Mata Garuda”, “Kami Masih Lebih Baik”, dan masih banyak lagi puisi-puisi bernada satir. Puisi-puisi tersebut menunjukkan, Suheli tidak melepaskan diri dari realitas kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Ia hadir sebagai saksi dari berbagai ketimpangan sosial dan/atau penyimpangan prilaku politik. Ini sejalan dengan pemikiran saya yang berulang-ulang saya sampaikan dalam berbagai kesempatan, bahwa karya sastra tidak melulu menyoal imaji, kesendirian, kesepian, ketertekanan, depresi dan hal-hal mempribadi lainnya—saya tidak mengharamkan penyair dengan karya-karya mempribadi—karya sastra pada suatu ketika dapat benar-benar mengambil posisi di tengah kegentingan dan huru-hara.

Selain puisi-puisi kritik yang cukup beraroma satire, ada juga beberapa puisi cinta di antaranya, Menunggu Cintamu”, “Menghilang dari Hatiku”, “Perjalanan Cinta”, “Mencintaimu”, “Permohonan”, dan Cinta Tulus”. Pada puisi-puisi cinta tersebut, tidak tampak pembawaan makna yang transendental. Ianya masih pada ranah cinta yang profan. Dengan pengertian lain, puisi-puisi cinta yang diusung masih berkutat pada cinta dalam pengertian sempit, antara seorang lelaki dan seorang perempuan. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan pembaca yang lain dapat menemukan cinta dalam pengertian yang berbeda. Terlebih lagi jika puisi yang ditujukan kepada istrinya dikaitkan dengan Ijab-Qabul yang merupakan janji sakral sepasang hamba kepada Tuhannya. Lebih jauh, puisi-puisinya untuk Ibu tentu tidak serta merta dapat dimaknai sebagai puisi cinta yang profan.

Memang secara teknis, Suheli mesti lagi belajar secara intensif untuk menemukan gaya puitik yang asyik dan sudut pandang yang menarik. Bagaimana menemukan titik tikam yang benar-benar mampu membuat pembaca turut berdarah-darah dalam puisi-puisinya. Bagaimana dapat menghindari 6 hal yang menjadi musuh besar bagi seorang penyair: (1) sudut pandang yang terlalu umum, keumuman bukan berarti membuat yang tidak lazim, cukup yang berbeda;  (2) logika puitik yang kacau atau kaku, ini berkaitan dengan kecakapan berbahasa; (3) jangkauan tema yang sempit, tema penyair jangan dari itu ke itu saja, membosankan;  (4)  penggunaan perangkat bahasa yang kecentilan, penyair yang kecentilan cenderung mengejar keindahan dari luar,  membiarkan makna keropos;  (5) merumit-rumitkan puisi tanpa dasar yang subtansial; dan (6) taklid tata bahasa atau tidak paham tata bahasa.

Selain 6 tersebut di atas, harus juga hati-hati dengan 5 penyakit yang kerap menjangkit jiwa seorang penyair. Kerena terlalu banyak memuji diri sendiri dan menganggap karyanya paling memukau, bikin silau matajiwanya sendiri. Penyakit-penyakit jiwa itu melingkupi: (1) anti-kritik, haus pujian; (2). mengejar popularitas, lupa kualitas; (3) tidak punya pendirian, angin-anginan, cenderung mengikuti pasar; (4) takut karya-karyanya tidak disukai orang lain; dan (5) tidak menghargai karya orang lain, lantaran terlalu sibuk dengan karya sendiri.

Masih banyak waktu, proses itu indah dan menggairahkan serta menggugah. Tidak ada yang selesai bagi seorang penyair. Hari ini, esok, dan seterusnya adalah ritus belajar. Baik belajar sebagai penyair atau dalam pengertian yang jauh lebih penting, yakni belajar sebagai manusia. Karena manusia pasti penyair (meski tidak menulis puisi), sedang penyair belum tentu benar-benar manusia.

Secara umum, antologi puisi “Intusi” sama dengan kebanyakan antologi puisi lainnya, jumlah puisi tidak banyak karena telah melalui proses seleksi sesuai kemampuan. Adapaun perbedaan antologi ini dengan kebanyakan beredar di pasaran, terletak pada bagian penutup. Suheli Karyadi dengan sengaja mencantumkan kata-kata mutiara. Kata-kata mutiara tersebut bukan hasil penyalinan melainkan yang ia buat sendiri.

Apakah diperbolehkan mencampur puisi dengan kata mutiara dalam satu buku? Kenapa tidak! Itu hanya perkara selera masing-masing penulis. Bahkan belakangan ini mulai banyak puisi yang diselipkan kutipan dan sejenisnya. Apalagi, Suheli menjadikan kata mutiaranya hanya sebagai lampiran. Tidak mengganggu isi puisi atau mencoba membuat terobosan yang bisa bikin masalah seperti yang belakangan ini terjadi, di antaranya puisi yang esai atau esai yang puisi—yang lebih enak saya sebut cerita bebas dibentuk seolah-olah puisi—itu.

Hal-hal yang (barangkali) perlu saya sampaikan, antologi puisi ini merupakan jejak pertama, akan banyak tantangan yang harus ditaklukkan. Semoga Suheli Karyadi tetap mengebor jiwa sastranya agar tidak menjadikan “Intuisi” sebagai buku puisi terakhirnya.

Di hari depan, diharapkan ia lebih berani mengeksplorasi tema, mengeksplorasi keberaniannya pemilihan kata, dan memperdalam makna serta bobot pesan dari puisi-puisinya. Apalagi hidup ini memang ritus belajar yang tidak berkesudahan, sebagaimana saya dan semua penyair yang masih hidup, semoga tidak lelah belajar menulis puisi.



Share this: