image1 image2 image3

HELLO I'M Muhammad Rois Rinaldi|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I LOVE TO DO CREATIVE THINGS|

MENYELAMI KARYA DUA REMAJA, MEMAHAMI DUNIANYA

Oleh Muhammad Rois Rinaldi *(

Remaja di hadapan kepentingan global, tidak semata menghadapi sebuah arus deras yang akan mengarahkan mereka pada suatu keadaan, dimana perlawanan atau pemberontakan akan menjadi sia-sia. Karena kemungkinan sedemikian lazim adanya, mengingat begitu banyak yang menyerah dan berserah atas nama keadaan. Lebih jauh dari itu, remaja dihadapkan pada dirinya sendiri yang harus memijakkan kaki sekuat-kuatnya di tanah kesadarannya, sementara di lain sisi terus digoda oleh produk-produk global yang merangsek dan mendesak: tentang pencapaian-pencapaian dan sikap-sikap komunal yang kadung diseragamkan pada persoalan baku yang kaku, seolah melenceng dari apa yang dibakukan adalah tindakan amoral, tindakan yang harus segera ditangani oleh psikiater sebelum tersesat jauh dan gila sendiri. Karena memilih berpikir lain di tengah masyarakat yang konon demokratis ini, ternyata sangat berisiko, penandaan dan penamaan kerap begitu mudah dijatuhkan sebagai bentuk penghakiman membabi-buta. Kesadaran tentang kemerdekaan berpikir dan bertindak baru sekadar wacana, karena masing-masing masih begitu kukuh memertahankan pendapat, bahwa segala harus pada arus yang sama. Saya tidak menyebut hal ini sebagai pemikiran ‘kolot’ ini adalah pemikiran masa kini yang absurd. Karena pemikiran-pemikiran ‘kolot’ atau sebut saja pemikiran yang menjadi latar sebelum arus global membanjiri seluruh lini kehidupan modern, jauh lebih arif lagi bijaksana.

Persoalan-persoalan remaja di masa kini, takpelak lebih runyam dibandingkan remaja tahun 80 hingga 90-an atau tahun-tahun sebelumnya. Karena bukan bagaimana menjadi remaja yang memberi arti pada kehidupan yang menjadi tantangan, melainkan meyakinkan orang-orang bahwa remaja punya jalan sendiri yang diyakini. Lawan utamanya adalah lingkungan yang boleh dikatakan sebagai lingkungan zombi. Dikatakan lingkungan zombi, karena lingkungan masyarakat berikut dengan nilai-nilai yang dipahaminya telah mematikan fungsi kebatinan dan lebih bicara pada soal-soal yang kasat mata. Di zaman globalisasi dan mungkin zaman-zaman selanjutnya, dikungkung oleh harapan-harapan tentang kemajuan yang tidak lain tidak bukan lebih dititikberatkan pada angka-angka yang dapat diolah dalam data statistik. Misalnya seorang siswa Sekolah Menengah Kejuruan yang bisa merakit mobil, bisa membuat handphone, sepeda motor dan sejenisnya dan senejisnya. Arus utama dari semua pencapaian itu adalah kekuatan ekonomi yang tidak henti menjadi pendorong sekaligus pendesak utama massif demi seuatu yang dinamai ‘penerimaan dan pengakuan global’.

Tetapi, apapun soal yang diajukan oleh keadaan pada suatu zaman, remaja—yang juga bisa disebut pemuda—adalah pendaringan bagi pemikiran-pemikiran serta tindakan yang idealis. Terlepas pada pergulatan eksistensialnya yang menghadapi berbagai penentangan bahkan pengekangan. Sebagaimana dikatakan Tan Malaka, “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.” Berkaitan dengan ‘idelaisme’ sebenarnya ini hanya atau sekadar istilah untuk menamai suatu ide yang berkaitan dengan kunci hakikat dari realitas—menolak soal-soal yang hanya dipandang dari segi materi atau fisik. Bukan hal baru atau sesuatu yang sama sekali tidak ada sebelum istilah tersebut dilahirkan oleh Leibniz pada awal abad 18. Nabi Ibrahim salah satu contoh pemegang Idealisme, dengan menolak kewujudan patung-patung sebagai Tuhan dan mengesakan hakikat ketuhanan yang tidak sebatas kasat mata, tidak sebatas batu-batu yang disembuh oleh bapaknya dan kaumnya. Idealisme kemudian mengantar seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak lazim bagi sebagian besar orang pada zamannya. Itu pula yang saya tangkap dari sebuah puisi yang dikirimkan oleh  Deby Rosselinni, remaja putri kelahiran 6 desember 1997 ini membuat saya tersenyum sendiri, membayangkan bagaimana kalau gurunya membaca puisi yang ia tulis ini:

     Sekolah

     Setelah libur panjang ternyata
     lebih mengerikan dari apapun.

     Aku lebih menyukai
     belajar dengan alam semesta.

     Ruangan sumpek yang penuh
     40 manusia
     mengajarkanku bersiteru
     memperlombakan angka-angka.

     Taktik pendidik yang cantik
     penyiksaan yang begitu panjang,
     hidup seolah hanya
     nilai-nilai yang diagung-agungkan

     irrasional!

     Mereka
     lebih percaya pada angka

     Kota Baja, 16-Mei-2014

Ada suara protes yang lantang diperdengarkan puisi tersebut. Sebuah ritus yang dianggap lapuk dan layak dipertentangkan bahkan diubah oleh ‘aku lirik’. Kengerian yang digambarkan bahkan abstrak, tanpa pengandaian pada bentuk: “Setelah libur panjang ternyata/lebih mengerikan dari apapun.” Lebih mengerikan dari cerita Nenek Lampir dari Gunung Merapi, lebih menyeramkan dari kisah Kala Gondang yang suka merayu gadis-gadis cantik, lebih dari apapun?

Penggambaran abstrak ini sebagai bentuk ketidakpahamannya ‘aku lirik’ terhadap apa yang ia alami. Persoalan-persoalan pelik yang tidak bisa disepadankan dengan pengandaian, tidak sebagaimana Sapardi Djoko Damono yang mengamsalkan kesederhanaan cinta dengan kata yang tidak dapat oleh kayu kepada api yang membakarnya dan menjadikannya habis dan jadi abu. Deby tidak menulis pengandaian sebagaimana Rendra yang dalam Kangen yang mangamsalkan kesepian sebagai orang yang ketakutan dalam keadaan lumpuh. Yang mengamsalkan kekangenan dan kesepiannya pada tungku tanpa nyala api. Kesengajaan Deby menulis tanpa objek pengamsalan dan menjadikannya menjadi sangat umum boleh dibilang sebagai jalan lain untuk menggambarkan betapa rasa ‘aku lirik’ sudah melebihi ‘kengerian’ itu sendiri.

Pemahaman bahwa ruang belajar bukan hanya kelas, melainkan alam semesta juga diketengahkan oleh Deby pada bait kedua: “Aku lebih menyukai/belajar dengan alam semesta.” sebagai pilihan yang diajukan di tengah desakan kurikulum pendidikan yang kerap bingung memahami tubuhnya sendiri. kurikulum yang kerap membikin murid dan guru sama-sama dalam kebingungan. “belajar dengan alam semesta” juga dapat dimaknai sebagai sinyal bahwa ada keinginan untuk mengembalikan nilai-nilai pendidikan pada kearifan dan kebijaksanaannya. Tidak seperti yang ia gambarkan dalam bait ketiga: “Ruangan sumpek yang penuh/40 manusia /mengajarkanku bersiteru/memperlombakan angka-angka.”

Fenomena nilai raport memang cukup menyita perhatian, pasalnya nilai-nilai raport tersebut masih dianggap sebagai tolok ukur utama untuk mengetahui tingkat kesuksesan proses belajar dan mengajar. Padahal, guru-guru dalam hal pengisian nilai raport sesungguhnya juga menghadapi dilema besar, dimana di satu sisi seorang guru harus mengedepankan kejujuran, sedangkan di lain sisi ia juga dikejar nilai batas minimum, 65-70 misalnya. Maka murid-murid yang tidak sampai pada nilai 65-70 akan dikatrol, akan dibantu, akan dimanipulasi agar sesuai dengan standar yang ditentukan. Ini sudah menjadi rahasia umum. Dengan demikian, ada pembohongan terstruktur dan terencana. Lebih jauh lagi, baik guru ataupun murid sama-sama dihadapkan pada satu kesadaran: melakukan kebohongan demi memenuhi standar nilai yang diberlakukan.

Keadaan yang sedemikian, ternyata tidak membuat para penggiat dunia pendidikan mengambil tindakan antisipatif, minimal tindakan yang menunjukkan kesadaran atas keterkepungan. Melainkan tindakan-tindakan yang semakin menjauhkan proses belajar mengajar dari esensi dunia pendidikan, sebagaimana digambarkan dalam bait keempat: “Taktik pendidik yang cantik/penyiksaan yang begitu panjang,/hidup seolah hanya/nilai-nilai yang diagung-agungkan.” Tendangan telak yang dihantamkan Deby melalui puisi ini pun semakin keras pada larik tunggal bait kelima dan keenam: “Irrasional!//Mereka/lebih percaya pada angka.”

Fakta yang saling berbenturan dalam dunia pendidikan memang sangat sulit dilogikakan secara benar. Sulit menemukan rasionalitas di dalam gerakannya. Karena semua telah diarahhkan pada angka-angka semata. Bahwa pelajar yang baik dan cerdas akan bisa menembus angka-angka tertinggi dalam deretan nilai raportnya. Sebaliknya, pelajar yang tidak sanggup mendapatkan nilai tinggi di raport akan digolongkan sebagai produk gagal. Siswa malas tanpa potensi, tanpa harapan, tanpa masa depan yang cerah.

Siswi MAN Cilegon kls XI yang telah melahirkan novel The Mistery Checkered Floor and Gods (2012) dan Simfoni Cinta Khanza (2013) ini telah begitu berani menyampaikan pikiran-pikirannya, hasil perenungannya tentang dunia pendidikan yang begitu jauh melenceng dari hakikan mendidik. Tanggapan terhadap kerya tersebut akan bermacam-macam. Guru yang tidak sanggup memahami makna puisi lebih dalam, mungkin akan kesal dan marah. Menganggap Deby sebagai pemberontak. Lain hal bagi guru yang paham esensi dari puisi tersebut, akan tersenyum dan segera mengoreksi dirinya sendiri.

Jika Deby Rosselinni berbicara tentang dunia pendidikan dan ide-idenya tentang pendidikan yang idealis, Faris Naufal Ramadhan menulis puisi yang menyiratkan keinginan untuk melakukan lompatan, perubahan dalam setiap gerak kehidupannya. Perubahan yang dimaksdukan siswa SMAN I Cilegon kela XII ini lebih menukik pada kegelisahan eksistensialnya sebagai manusia yang harus menjadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini. Dalam hal tersebut, Faris memahami bahwa waktu tidak pernah menunggu, waktu terus berjalan dan ia harus bergegas melakukan apa yang layak dilakukan sebagaimana ia tuturkan dalam puisi ini:

     BERGEGAS


     kaki ini harus melangkah, jauh
     selaras dengan hati
     meski entah kemana
     yang penting jauh, kataku

     jiwa ini harus melompat
     menuju perpustakaan baru
     pembatasku segera berpindah halaman
     diadopsi lembaran-lembaran asing
     waktuku sudah lewat di kota ini
     harus cari kota lagi

     bagiku dimana saja sama
     asal kota lain

     kalaupun alirku tersendat
     aku akan lari dari air
     lewat jalur darat

     pokoknya harus melompat, seruku

     CILEGON, MEI 2014

Memahami remaja adalah memahami dimensi masa transisi. Dimana ia berusaha menemukan dirinya di tengah segala sesuatu yang tampak eksis. Sebagaimana dalam disiplin ilmu kimia dalam tabel unsur kimia dikenal juga istilah logam transisi. Dimana terjadi transfer muatan kompleks. Sebuah elektron dapat melompat dari orbit ligan ke orbit logam, membentuk ligant to metal charge transfer. Hal ini dapat dilihat dengan mudah jika logam sedang pada bilangan oksidasi yang tinggi. Begitu pula kiranya memandang daya seorang remaja. Kegelisahan menemu di antara segala yang tampak begitu eksis memungkinkan remaja melakukan lompatan-lompatan tidak terduga. Menyikapi remaja seperti menyikapi merpati: tidak boleh terlalu kuat digenggam atau disangkarkan, karena akan menimbulkan reaksi pemberontakan yang tidak akan dapat diredam. Tidak juga bijak jika dilepas begitu saja, karena akan kehilangan arah pulang. Begitu pula saya saat membaca puisi Faris yang sederhana tapi sarat makna itu. Antara kehendak untuk mengarakan sendiri jalan kehidupannya dan ketidaktahuannya akan arah yang ia tuju sebagaimana ia tuliskan dalam bait pertama: “kaki ini harus melangkah, jauh/selaras dengan hati/meski entah kemana/yang penting jauh, kataku”.

Ada sebuah keputusan yang boleh dibilang tanpa pertimbangan yang matang, baik dan buruknya. Bahkan tempat yang akan dikunjungi dan di mana tempat tetirahnya juga tidak dipikirkan, ‘yang penting jauh’. Begitulah sisi paling menarik dari seorang remaja atau pemuda. Keberanian menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang belum diperhitungkan olehnya. Bagi para orang tua, apa yang dipilih oleh ‘aku lirik’ dalam puisi yang ditulis Faris merupakan tindakan bodoh. Tindakan tanpa pemikiran matang tidak lain tidak bukan sebagai usaha bunuh diri yang menyedihkan. Akan tetapi, lain hal jika dilihat dari sudut pandang seorang remaja. Ianya merupakan pilihan yang harus dipilih, karena hidup dalam ketakutan dan terlalu rumit berpikir hanya akan membikin lelah tanpa pergerakan. Harus ada yang dilakukan sesegera mungkin, atau tidak sama sekali.

Ketegasan tersebut kian tampak pada bait larik pertama dan kedua dalam bait kedua: “jiwa ini harus melompat/menuju perpustakaan baru/”. Sebelum menyelami pemaknaan dua larik tersebut, saya ingin mengajak pada ‘jiwa’ yang dikonotasikan sebagai sebuah ruang penyimpanan bagi segala hal yang ada di alam semesta dan ‘alam semesta’ dikonotasikan sebagai perpustkaan. Sungguh imajinasi yang sangat matang. Remaja kelahiran 1997 telah menukikkan pembaca pada pemahaman yang teramat luas, tentang dirinya di tengah kehidupan. pencarian yang dimaksud dua larik tersebut lebih pada pencarian batiniah. Konsekuensi yang mungkin akan dihadapinya pun telah begitu intim diterima dalam larik ketiga dan keempat: “pembatasku segera berpindah halaman/diadopsi lembaran-lembaran asing”. Kemudian dua larik terakhir bait kedua lebih menekankan pada pencarian dan perpindahan tempat: “waktuku sudah lewat di kota ini/harus cari kota lagi”.

Lengkaplah sudah, pencarian yang dipahami Faris melalui puisi tersebut adalah pencarian lahir dan batin. Karena untuk menemukan sesuatu harus total. Tanpa totalitas, seorang manusia dalam hal apapun tidak lebih dari sekadar figuran di tengah para pemeran utama. Memang menjadi total tidaklah mudah, hambatan-hambatan akan menghadang dengan angkuhnya. Akan tetapi, bagi orang-orang yang telah bulat tekadnya, apapun akan dihadapi dengan tegar. Isyarat ini disampaikan dalam bait keempat: “kalaupun alirku tersendat/aku akan lari dari air/lewat jalur darat”. Betapa telah siapnya ‘aku lirik’ menghadapi segala kemungkinan, bahkan kemungkinan terberat sekalipun. Keteguhan itu semakin memuncak dan meyakinkan dalam bait kelima, larik tunggal yang menjadi penutup puisinya: “pokoknya harus melompat, seruku”.

Baik Deby maupun Faris, saya mengenali mereka sebagai remaja yang berpendirian. Sekalipun saya kerap menemukan anggapan-anggapan tentang keduanya, bahwa terlalu ‘menyebalkan’ dan sebagainya. Tentu saja menyebalkan bagi para orang tua atau orang yang lebih tua dari mereka yang tidak sanggup memahami betapa kuat keyakinan mereka dalam memertahankan pandangan hidup. Bahkan pernah, suatu malam Faris menghadapi sekitar 5 orang laki-laki yang jauh lebih tua darinya, para mahasiswa. Malam itu mereka memperdebatkan tentang sesuatu hal, Faris yang selalu kalem ternyata membuat lima mahasiswa itu naik pitam, mereka bahkan meminta saya untuk membuat Faris diam atau mengalah. Tentu saya hanya tertawa, Faris memang memiliki pandangan yang lain dari kebanyakan orang. Tidak berbeda jauh dengan Deby, ia juga kerap menyampaikan pendapat-pendapat yang berseberangan dengan kebanyakan pendapat orang. Memahami mereka seperti memahami sesuatu yang jauh melintasi zamannya.

Saya secara pribadi banyak belajar dari mereka, baik belajar bersikap, belajar berkarya maupun belajar dalam memandang kehidupan. ***

*( Muhammad Rois Rinaldi, penikmat sastra, tinggal di Kramatwatu, Banten.

Share this: