image1 image2 image3

HELLO I'M Muhammad Rois Rinaldi|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I LOVE TO DO CREATIVE THINGS|

MENGAKRABI PUISI-PUISI MUBAQI ABDULLAH

Mubaqi abdullah adalah nama pena dari abdullah mubaqi. Anak dari seorang guru sd dan ibu rumah tangga ini, dilahirkan di tegal, pada tanggal 09 juli 1991. Kini masih tercatat sebagai mahasiswa aktif di ikip pgri semarang. Adalah penyair muda yang patut diharapkan untuk masa depan kesusastraan indonesia. Selain ketangkasannya membuat puisi dengan diksi yang cermat dan kedalaman pesan. Ia juga pandai menjaga kualitas kekaryaan. Mengingat di era digital ini, para penyair kemudian terjangkit virus puisi spontan dan instan sehingga secara alamiah mulai meninggalkan kebiasaan perenungan dan pengedapan untuk mencapai kedalaman puisi.

Jadi teringat pada perkataan chairil anwar yang pernah saya baca : “yang bukan penyair, tidak ambil bagian.” Kalimat tersebut dinyatakan dalam sebuah wawancara di radio belanda. Dalam pernyataan itu, ada kesan membagi antara “penyair” dan “bukan penyair”. Dikarenakan sebuah konsepsi seni secara umum yang menyatakan bahwa puisi adalah sesuatu yang luhur, mulia, dan memiliki nilai lebih di atas tulisan lainnya. Walau bermacam-macam pentafsirannya, saya lebih senang menafsirkan begini: “bahwa segala sesuatu adalah pilihan, menjadi penyair pun pilihan. Dibutuhkan pengorbanan—totalitas dan keberanian utuk bertahan di tengah gejolak kesusastraan. Ada tanggung jawab besar saat berkarya, yakni melahirkan karya yang benar-benar karya bukan karya-karyaan apa lagi rekakarya”

Ya, kira-kira begitulah puisi dan penyairnya tak tekecuali pada abdullah mubaqi. Pada tiga puisi yang saya ambil yang kesemuanya dibuat pada awal tahun 2012. Bagi saya 3 (tiga) puisi dalam satu bulan masih tehitung cukup aman. Jadi tidak perlu melahirkan 30 puisi dalam satu bulan demi mempertahankan eksistensi, karena akan menjadi boomerang yang seketika berbalik menghancurkan jika dengan kuantitas yang memukau ternyata kualitasnya low! Betulkah tiga puisi abdullah mubaqi patut diharapkan untuk masa depan kesusastraan indonesia? Mari saya ajak mengakrabi satu persatu puisinya:

Siluet

di kamar ini, kau begitu sibuk
Keluar masuk
Tanpa membuka dan menutup pintu
Dan siluetsiluetmu
Bergerak tanpa jeda dikepalaku
Aku ingin, kamar ini ramai
Seperti sebelum aku lahir

Semarang, 2013

 (1)

“di kamar ini, kau begitu sibuk/keluar masuk/tanpa membuka dan menutup pintu/dan siluetsiluetmu/bergerak tanpa jeda di kepalaku”

Penggalan puisi di atas, memberikan gambaran pada pembaca bahwa aku lirik sedang menyaksikan seseorang atau sesuatu. Ditafsirkan dari kata “kau” yang bisa ditujukan kepada orang lain atau sesuatu yang entah wujudnya. “begitu sibuk/keluar masuk” seketika pembaca akan menyaksikan gerak bolak-balik dari larik yang saya kutip. Kemudian dilanjutkan dengan: “tanpa membuka dan menutup pintu” menambah ketergangguan aku lirik terhadap apa yang disaksikannya. “dan siluetsiluetmu” dimulai dengan konjungsi “dan” dalam bagian ini mengisyaratkan rentetan kejadian yang nyaris sejalan saling berkaitan dan terjadi pada saat yang bersamaan.

“bergerak tanpa jeda di kepalaku” setelah berjalan ke larik berikutnya: tajam yang sunyi. Menyaksikan kekacauan dari gerak yang terus berulang-ulang dari dan ke tempat yang itu itu saja, yakni kepala. Di sinilah kecerdikan penyair ini, membuka dengan larik-larik ringan dengan menggambarka prilaku keseharian yang semua orang (mungkin) pernah merasakan hal yang sama atau menyaksikan orang berprilaku seperti itu sebagaimana yang disaksikan aku lirik, kemudian ditikamhujamkan pada gambaran keadaan yang tidak menyamankan: yakni berhadapan dengan kenangan, kenangan di sini, dapat diurai dari symbol siluet yang berarti gambar bentuk menyeluruh, biasanya berwarna gelap, sebagaiamana pengetahuan umum bahwasanya kenangan selalu satu arah dengan kerinduan. Bicara kerinduan apa lagi menyangkut puisi tentu kita sudah sangat bosan dengan puisi-puisi berjudul “rindu” atau kata dalam tubuh puisi yang terlalu banyak bertabur kata “rindu” akan tetapi di tangan abdullah mubaqi tanpa menulis kata rindu dalam judul maupun tubuh puisi telah berhasil menghadirkan lanskap kerinduan dengan cara yang manis.

 “aku ingin, kamar ini ramai/seperti sebelum aku lahir” jika pembaca terhenti di larik sebelumnya, maka hipotesanya adalah kerinduan pada seorang kekasih, seorang sahabat, atau kerinduan pada keceriaan masa kekanak. Akan tetapi pembaca dihadapkan pada symbol: “seperti sebelum aku lahir” menjadi sangat misteri, karena ternyata kerinduan itu datang dari sesuatu yang mustahil. Merindukan kamar kembali ramai seperti sebelum si aku lirik terlahir ke muka bumi ini? Di sinilah puisi ini menyublim.

Hal yang dapat dirasakan dalam larik tersebut: pembaca diajak melihat aku lirik atau melihat dirinya sendiri mulai mengheningkan cipta di dalam dan di luar dirinya yang sepi: aku lirik adalah seorang  anak yang pernah dilahirkan dari rahim seorang perempuan di antara keluarga yang diperuntukkan dirinya. Aku lirik, saya pandang dari segi psikolog seorang anak atau salah satu anggota keluarga yang mulai merindukan keadaan-keadaan sebelum ia terlahir. Tapi bagaimana caranya bisa tahu suatu keadaan sedangkan aku lirik tak ada di sana? Muncul kembali pertanyaan yang sama karena kemustahilannya. Untuk memudahkan pembaca saya melogikakan bahwa si aku lirik pernah atau sering dikisahkan oleh orang lain tentang keadaan kamarnya (lebih luas lagi rumahnya) yang penuh canda tawa dan keriangan. Yang jadi pertanyaan tanpa perlu saya jabarkan adalah: “setelah aku lirik terlahir mengapa keadaan menjadi berbalik 180 derajat?”

Barang kali maksud kamar di sini bukan kamar secara denotatif melainkan kamar yang tak tersentuh oleh nalar, yakni kamar ruh si aku lirik? Karena ruh sebelum ditiupkan ke jasad tidak pernah merasa kesepian bersama tuhannya sebelum akhirnya dibaiat untuk diturunkan ke muka bumi sebagai khalifah. Atau lebih ke pertengahan, yakni kamar rahim? Yang konon menurut cerita masyakat seorang bayi dalam rahim selalu ditemani para malaikat bahkan beberapa tahun setelah lahir. Walau saya tidak tahu adakah pembenarannya dari hukum agama menyoal kamar rahim ini. Lantas siluet siapakah yang bergerak-gerak dalam benak aku lirik jika “kamar” dalam puisi jika diinterprestasikan sebagai kamar ruh atau rahim? Maka jawabanya adalah, tuhan. Jika diinterprestasikan demikian akan kental aroma kesufiannya.  Bisa jadi!

Di sini uniknya puisi, pembaca selalu dibiarkan mengembara dalam maksud penyair bahkan penyair membebaskan interprestasi pembaca serimba-rimbanya. Merimba di kedalaman dadanya masing-masing.

Kesederhaan diksi dalam puisi “siluet” ini,  tentu bukan tanpa kesengajaan, atau karena tak punya bendahara kata yang memadai, akan tetapi inilah yang disebut pilihan dan menjelma menjadi sebentuk keyakinan. Sebagaimana saat saya  hadir dengan puisi bernada qasidah dan konfrontasi dengan diksi yang terkadang melabirin. Abdullah mubaqi telah mengambil pilihannya.  Jika boleh mengibaratkan, puisi ini semacam pembunuh berdarah dingin. Ia sanggup menikam pembaca dengan senyuman dan ucapan permisi serta maaf. Sangat lembut tapi mematikan.

Istimewanya apa dari puisi ini? Adalah kesanggupan penyair ini menulis dengan diksi sederhana ‘lugu’ karena bagi saya ‘keluguan’ menjadi satu kekangenan bagi setiap manusia. Karena ternyata keluguan itu sangat dekat kaitannya dengan kejujuran dan kejujuran dalam kepungan realitas yang sebegini menghimpit sudah sangat sulit ditemukan, bahkan dalam puisi, bukankah keluguan adalah symbol kejujuran dan puisi yang baik adalah puisi yang datang dari kejujuran?
***
Seorang penyair memang tidaklah bijak jika hanya bermain di kamar.   Karena begitu banyak kejadian yang harus disaksikan sebagai bagian dari realitas kehidupan yang tidak melulu bicara soal kasmaran, kerinduan dan sejenisnya. Sebab itu, saya selalu berpendapat bahwasanya puisi adalah bagian dari saksi sekaligus bukti kejadian demi kejadian pada zamannya. Dikarenakan itu pula dalam sebuah puisi penting sekali dibubuhi titimangsa untuk mempermudah penelisikan puisi bagi pembaca di generasi setelahnya.    

Sepertinya hal itu disadari oleh abdullah mubaqi, beberapa waktu lalu banjir melanda beberapa daerah di indonesia, salah satunya yang menyedot perhatian adalah banjir di ibu kota indonesia, yakni jakarta.  Banjir yang sudah menjadi langganan ibu kota setiap kali musim hujan rupanya menggelitik penyair untuk membuat puisi dengan judulnya yang terkesan nyeleneh:  “amboi bukan?” Seperti sebuah rasa empati yang di sisi lain diikuti dengan kenyataan bahwa ini bukan hal baru bahkan terus-menerus berulang. Maka jika dibahasakan melalui judul tersebut dapat diartikan hendak berkata begini: “nikmati sajalah bajir itu, lagipula kalian sudah begitu menikmatinya” kira-kira demikian. Berikut puisi yang berjudul “amboi bukan?” Secara keseluruhan:

Amboi bukan?
: jakarta

Aku tidak mengerti, mengapa kau
Tidak memilih berkawan dengan hujan
Menyajikan gelas dari lahan kosong
Dengan ramuan gula dan kopi pilihan
Kelak, bila musim itu bertamu
Kau tinggal menyeduhnya dengan menaiki perahu
Amboi bukan?

Atau kau robohkan saja tanaman-tanaman beton
Yang tumbuh sesemak belukar itu
Demi setiakawanmu dengan hujan
Bila banjir datang, tidak ada nafas yang hilang
Dan kau bisa menikmati pagi
Dengan menyeduh kopi
Seraya menonton televisi
Atau menumpangi perahu
Di atas banjir dari temanmu, hujan.
Amboi bukan?

Semarang, januari 2013

Setelah membaca puisi di atas, tentu tidak semata berbicara bagaimana menghadapi hujan dengan menyediakan kopi dan gula pilihan atau menyiapkan perahu agar dapat bersenang-senang jika banjir datang. Puisi ini dibangun dengan ramuan satire yang halus atau sindiran halus mewacanakan tawaran-tawaran yang sebetulnya bukan itu yang benar-benar ditawarkan. Maksud puisi seakan sengaja dibuat kontradiktif satu sama lain. Hal ini tentu pilihan yang tepat. Lantaran pembaca akan sangat bosan jika membaca puisi begini : “aku tidak mengerti mengapa kau tak juga paham. Membuang sampah sembarangan, ke got--ke sungai-sungai. Hingga musim penghujan datang dan karamlah kau!” 

Saya memperhatikan, bahwasanya penyair ini pun menemukan kebuntuan dalam melihat fenomena banjir dengan carut marut permasalahan yang ada. Setiap waktu para petinggi berbicara tentang penanganan banjir dan sejalan dengan itu, masyarakat seakan menuntut adanya solusi agar banjir tidak sampai terulang kembali. Akan tetapi semuanya yang diwacanakan oleh masyarakat sama halnya denga puisi ini, yakni kontradiktif. Bagaimana tidak? Jika semua hanya diwacanakan tanpa ada perealisasian yang dapat merubah keadaan. Tidak ada jalan lain. Nikmati saja! Sebagaimana diungkapkan pada bait pertama: “aku tidak mengerti, mengapa kau/tidak memilih berkawan dengan hujan/menyajikan gelas dari lahan kosong/dengan ramuan gula dan kopi pilihan/kelak, bila musim itu bertamu/kau tinggal menyeduhnya dengan menaiki perahu/amboi bukan?”

Symbol yang patut diperhatikan adalah yang tertera pada larik pertama “aku tidak mengerti” ini dapat dipahami sebagai bentuk protes atas ketidakpahaman terhadap suatu keadaan. (baca; banjir di jakarta) setelahnya penyair mengajak pembaca ke dalam kesaksiannya (orang biasanya menyebut masuk ke dalam imaji penyair) menyaksikan hujan datang, orang-orang kalang kabut mencari tempat aman, menyelamatkan barang-barang serta suart-surat penting, lantas mengungsi ke tempat saudara atau bahkan bagi yang tidak memiliki akses untuk mengungsi, terpaksa berdiam diri di atas genting dengan harapan banjir akan segera surut. Kekacauan inilah yang kemudian tergambar oleh pembaca saat membaca larik “mengapa kau/tidak memilih berkawan dengan hujan” seperti seruan berdamai dengan hujan sebagaimana orang-orang selalu berdamai dengan segala hal yang bisa menyebabkan banjir. Diperkuat dengan larik yang sangaja dibuat sedemikian satir namun begitu halus: “gelas dari lahan kosong/dengan ramuan gula dan kopi pilihan/” penawaran demi penawaran diajukan oleh penyair kepada pembaca dalam menyikapi banjir disusun sedemikian apik dan memesona.

Sepintas baca, puisi ini hanya semacam ledekan terhadap banjir, yang seakan menjadi agenda kerja tahunan bagi semua lapisan masyarakat jakarta dan menjadi aroma duka bersama seluruh masyarakat indonesia.  Tetapi ketika menelisik lebih mendalam dari aspek bangunan diksi serta muatan pesan dalam bait pertama, terbaca dengan sangat jelas bahwasanya penyair ini turut berduka, turut berempati dengan permasalahan banjir yang tak pernah selesai di negara kita yang tercinta. Ini jelas sebuah ungkapan perasaan  penulisnya yang dikemas secara ironis. Pada bait kedua yang merupakan penutup puisi. Kian kentara keironisan yang dirasakan oleh penyair melihat realita yang ada. Inilah kesaksian penyair:

“atau kau robohkan saja tanaman-tanaman beton/yang tumbuh sesemak belukar itu/demi setiakawanmu dengan hujan/bila banjir datang, tidak ada nafas yang hilang”

Pada bait tersebut saya seakan diminta untuk memperjelas tawaran yang diajukan oleh penyair yang menggunakan symbol “tanaman beton” yang dapat diartikan pabrik-pabrik yang menjulang tinggi, kantor-kantor atas nama asing dan banyak lagi bangunan yang telah menghabiskan lahan di jakarta. Jadilah jakarta sesak penduduk dan sesak bangunan sehingga wajar saja jika hujan datang manusia di jakarta sudah tidak dapat berdamai dengan hujan, atau lebih jelasnya selalu merasa saat musim hujan datang adalah sebentuk ancaman. Karena banjir kerap menelan korban, hal tersebut disimbolkan dengan “nafas yang hilang”.  Beginilah realitanya, paling tidak penyair telah bersaksi sehingga sampai seratus tahun mendatang jika puisi ini dibaca kembali, maka orang-orang akan tahu betul, bahwa ada kejadian yang terus menjadi drama airmata yang bernama banjir.

Saya sempat terhenti pada bagian ini:
“dan kau bisa menikmati pagi/dengan menyeduh kopi/seraya menonton televisi/atau menumpangi perahu/di atas banjir dari temanmu, hujan./amboi bukan?” Sebagai kelangsungan dari bait pertama menyoal kopi dan gula pilihan, kemudian ditawarkan kembali pada bait kedua sebagai penutup.

Ada konjungsi “dan” yang mengisyaratkan jika saran penyair di atas, seperti membongkar gedung-gedung, dan menyingkirkan berbagai bangunan yang sesaki kota jakarta maka akan? Kira-kira begitu, akan tetapi ternyata masih pada kerisauan soal banjir itu sendiri. Atau mungkin lantaran kemustahilan melakukan saran tersebut? Bisa jadi.

Pada puisi ini, hanya satu yang mengganggu pemikiran saya, yakni titimangsanya. Kenapa? Jika puisi banjir ditujukan kepada jakarta sedangkan dari sumber yang sangat dapat dipercaya, yakni titimangsa, bahwa puisi  ini dibuat di semarang, dari manakah info kebanjiran tersebut? Tidak lain tidak bukan adalah media. Bisa televisi, koran, facebook atau twitter. Di era informasi memang tidak ada salahnya berlaku demikian. Sebagaimana pernah kawan-kawan penyair membuat puisi untuk sebuah antologi yang ditemakan pada satu kota yang sejatinya sang penyair tidak mempunyai pengetahuan tentang kota tersebut, jalan keluarnya adalah membaca di media yang tersedia.

Saya hanya berharap, kelak. Penyair ini lebih dapat memilah ranah yang jauh lebih dekat dengan dirinya, agar masing-masing sanggup mewakili daerahnya sebagai bentuk transformasi gagasan. Tidak hanya mengasumsikan berita yang tersebar di media. Alangkah indahnya jika penyair berkenan untuk menyatu dengan alamnya hingga sampai  ‘grass root’.


Pada kesempatan yang lain, abdullah mubaqi membuat puisi yang senada dengan puisi “amboi bukan?”.

Musim yang datang dari hujan

Dan kita saling berkirim kabar
Lewat indera yang mulai hambar. Di taman
Tempat kau meniupkan angin segar
Aku bertanya pada luasan
Langit yang menitipkan surat
Lewat hujan

“ apakah ini musim air mata?

Semarang, januari 2013

Judul musim yang datang dari hujan, di sini diartikan sebagai musim airmata. Musim kesedihan. Kecerdikan penyair adalah, menghilangkan hujan sebagai sesuatu yang datang dari musimnya dan menghadirkan airmata sebagai musim yang dikirim hujan.

Demikianlah, semoga kenikmatan yang saya rasakan dirasakan pula oleh anda sekalian. Dan sebelum diakhiri, bahwasanya dalam puisi abdullah mubaqi ini saya menemukan sesuatu yang lain, yakni kembalinya diksi-diksi yang apik dalam ranah sastra indonesia. Kita atau katakanlah saya pribadi telah cukup mual dengan diksi-diksi yang cenderung vulgar dan kevulgaran tersebut dibela mati-matian oleh orang-orang berkepentingan, naasnya cukup mempunyai nama di ranah kesusastraan indonesia. Dengan alasan bahwasanya semua kata ada dalam kbbi. Sedangkan yang membuat itu terkesan vulgar atau porno adalah pembaca yang masih saja merasa tabu dengan soal-soal yang jelas di depan mata. Bahkan pernyataan yang paling ekstrim adalah, bahwasanya penyair tidak ada sangkut pautnya dengan moral.

Tentu bukan soal tabu dan tidak tabu tapi ini soal penyamarataan warna. Jika di seluruh belahan dunia ini telah memilih satu warna, lantas untuk apa lagi kita memiliki wilayah negara yang beradat dan bertradisi? Bukankah penyair dan kepenyairan dari zaman ke zaman dilahirkan dari tradisi yang dimiliki bukan lantaran pembentukan apa lagi cetakan? Di sinilah ketidakpahaman para penyair vulgarisme dan pornoisme itu terhadap makna nilai akar budaya.  Laju  perubahan tata nilai sudah semakin cepat, dalam segala yang serba cepat ini penyair harus mulai memetakan dirinya pada kediriannya yang sejati: jujur, membaca iklim dan cuaca, memahami nilai-nilai luhur, dan sanggup memanusiakan manusia. Tanpa itu semua, penyair tidak beda dengan lonte. ***

Share this: