image1 image2 image3

HELLO I'M Muhammad Rois Rinaldi|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I LOVE TO DO CREATIVE THINGS|

KILASAN JEJAK SANG CAMAR

KILASAN JEJAK SANG CAMAR
Oleh Muhammad Rois Rinaldi

Khomsin telah siap memasuki gelanggang yang lebih ramai dan penuh dengan suara-suara sumbang, dengan memberanikan diri menerbitkan antologi puisi tunggalnya yang bertajuk “Kilasan Jejak Sang Camar”. Penerbitan antologi puisi tunggal dewasa ini, boleh saja dianggap kurang meyakinkan jika dilihat dari segi kualitas, tersebab menjamurnya penerbitan indie, tetapi itu sama sekali tidak penting bagi saya, karena sudah menjadi bahan lapuk yang sengaja selalu diwacanakan bahkan terkesan sangat cerewet dan membosankan.

Saya lebih memilih “gembira” menyambut kelahiran antologi puisi tunggal pemuda kelahiran Cirebon ini. Berdasarkan kegembiraan juga saya mengajak pembaca untuk turut menikmati bangunan kata yang menyimpan magma makna yang cukup berletupan di dalamnya.

Enam puluh puisi yang dimuat secara diam-diam mengajak pembaca merimba di berbagai belantara, di antaranya dengan mengusung puisi-puisi perenungan: mengembalikan diri ke diri menuju Illahi. Seperti dalam puisi yang berjudul “Kenali Diri”:

Kembali ke sungai dangkal
Tak berarus tempat ia lahir
Sucikan diri dari segala debu
Segala angkuh
Usai melompat tinggi

Khomsin dengan cerdas memaknai hidup, bahwa untuk keselamatan setiap manusia harus mengenali dirinya sendiri, batas-batas kemampuan dan ketidakmampuannya. Jika tidak, semakin susah dan payah saja menghadapi kehidupan. Sedang setiap yang berketuhanan selalu menyakini kemana mesti berpasrah bahkan di mana alamat akhir dari suatu tujuan, sebagaimana dilukiskan dalam puisi berjudul ”Kilasan Jejak”:

Dunia meninggalkan sisa, dan sisa itulah aku
Mengarungi samudra dengan sampan dan perahu
Bercerita tentang bangkai-bangkai kapal
Serta tulang-belulang nahkodanya
Terapung terbawa gelombang menuju pusara.  

Perenungan seorang pemuda belia ini sudah sampai pada tatanan kedirian yang dihadapkan pada Illahi. Sungguh pencapaian yang patut diapresiasi karena sudah keluar dari lingkaran pemikiran kebanyakan orang seusianya.

Suguhan lain yang tak kalah menarik adalah penyuguhan puisi yang sangat tegas menyikapi gejolak negeri, Indonesia yang tengah dilanda kecurangan dan penindasan direkam dan dengan cara yang bijak sebagaimana dalam puisi berjudul “Sumpah Pemuda”:  

Teruslah
Semua adalah kepunyaanmu
Tanah air ini, bangsa dan bahasa
Indonesia. . .!

Jika taufik Ismail malu menjadi bangsa Indonesia, dan saya sendiri kerap menulis puisi gugatan, Khomsin punya cara sendiri. Dengan mengingatkan pada sejarah sumpah pemuda yang digagas Boedi Oetomo pada hari Minggu, 20 Mei 1908 silam. Kembali Khomsin mengajak berpikir untuk mencari jalan terbaik menyelamatkan Bangsa.

Meski tema cinta tidak begitu mendominasi tetapi cukup menarik untuk ditelisik serta menambah lengkapnya antologi puisi “Kilasan Jejak Sang Camar” ini. Khomsin menuliskan puisi-puisi cinta yang menurut kacamata baca saya dilukiskan dengan cara yang cukup dewasa, sebagaimana dalam puisi berjudul “Puisi Cinta: Untuk dik” 

Pada suatu kali pertemuan bila ada aku,
sekali lelah dan terus menyerah
Ku tahu kau kan  pergi, tapi
Dunia telah menghantarkan kita
Pada sebuah tawa, pada sebuah tanya
Yang belum terjawab, entah
Dan kini, di atas suatu kali
Aku, jatuh dan sangsi

Kata yang dijadikan simbol dalam puisi di atas ternyata tidak semata bicara soal cinta, akan  tetapi sudah memasuki ranah realitas kehidupan seperti tergambar dalam larik “Dunia telah menghantarkan kita/Pada sebuah tawa, pada sebuah tanya/Yang belum terjawab, entah”. Terasa betul kegelisahan manusia yang berdiri di antara sesama manusia dan garis takdir yang mengharuskan setiap kita melayani kehidupan seperti apapun bentuk-rupanya.

Berbagai ranah dan wilayah dibedah dan didedah sebelum akhirnya memasuki sebuah wadah yang disebut dengan puisi. Khomsin menawarkan lanskap kehidupan, percintaan, kemanusiaan, kecemasan dan harapan buah dari pandangan, pemikiran, pemahaman dan perenungan yang mendalam. Tetapi, meski sebegitu liarnya pengembaraan sang penyair, puisi-puisi Khomsin tetap dapat berkomunikasi dengan pembaca. Sebagaimana dilukiskan dalam salah satu puisinya yang berjudul “Kilasan Jejak“: Mengembara jauh di rimba/mencari kehidupan yang disisakan

Khomsin telah memilih jalan keberanian menunjukkan bakat dan kemampuannya dalam proses kreatif penulisan puisi. Tentu saja tidak ada karya yang sempurna, karena kesempurnaan karya hanya milik Sang Maha Pengkarya. Perjalanan masih begitu panjang: Khomsin harus terus menapaki jejak sajak di antara riak-riak yang mewajahi dunia kesusastraan Indonesia. ***


Share this: