image1 image2 image3

HELLO I'M Muhammad Rois Rinaldi|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I LOVE TO DO CREATIVE THINGS|

MEMBORONG PENGHARGAAN SASTRA LINTAS NEGARA

6 Desember dan malam minggu yang mendebarkan. Begitulah kesan pertama, ketika saya memasuki aula Dinasty Hotel di Kuala Lumpur, Malaysia. Ruangan yang sudah penuh itu mengesankan keakraban yang hangat. Saya memperhatikan satu persatu, para sastrawan yang sebagian besar saya kenali. Mereka abang, kakak, dan para guru saya. Pakaian yang dikanakan meriah dan warna-warni. Banyak yang bling-bling, karena tema pakaian yang diusung oleh panitia memang bling-bling.

Acara tersebut diisi pembacaan dan musikalisasi puisi yang menghangatkan jiwa seluruh sastrawan yang hadir.  GLP dan Anakbari menyenandungkan puisi dengan suaranya yang khidmat dan nikmat. Para pembaca puisi menyuguhkan gaya yang beragam: S. Iqram dengan teriakannya yang lantang, Puzi Hadi dengan gaya teatrikal, Nimoiz T.Y yang kalem, Dahna,  perwakilan dari Kopstarfm, dan Yajuk yang lembut  tapi menghunjam, serta Ahkarim yang kejenakaannya subtansial. Saya yang terlupa membawa puisi, akhirnya membaca puisi Sutardji yang bertajuk Tanah Airmata.

Sebelumnya acara dibuka oleh Ucapan Presiden E-SASTERA oleh Prof. Dr. Ir. Wan Abu Bakar yang dilanjutkan dengan pelancaran buku "Batu Pun Berteriak" karya S. Iqram, "Suara Antagonis"  karya Ahkarim, "MH 2757: Sajak-Sajak Digilis Tayar"  karya MataHati, dan "Menyulam Merdeka"  karya Yajuk.  Selain acara resmi, ada juga pembagian doorprize atau  Cabutan Bertuah, dimana hampir semua tamu mendapatkan bingkisan menarik sebagai oleh-oleh atau buah tangan.

Tibalah di acara puncak, pengumuman penerima penghargaan atau anugerah HesCom eSastera Malaysia 2014.  Semua sastrawan yang hadir tampak begitu serius untuk mendengarkan, nama-nama penerima anugerah: Sasterawan Siber Kuala Lumpur diraih CITRANALIS (Malaysia), Ulasan Karya Alam Siber diraih AZIZ ZABIDI (Malaysia), Kritikan Sastera Alam Siber diraih AHKARIM (Malaysia), Haiku Melayu Alam Siber diraih TABIR ALAM (Malaysia), Tanka Melayu Alam Siber diraih IBNU DIN ASSINGKIRI (Malaysia) juga Soneta Melayu Alam Siber diraih IBNU DIN ASSINGKIRI.

Berlanjut pada Anugerah Pantun Alam Siber yang diraih AZMI RAHMAN (Malaysia), Anugerah Lagu Puisi diraih oleh ANBAKRI (Malaysia), Musikalisasi Puisi Indonesia diraih oleh FILESKI (Indonesia), Anugerah Prestasi Dampak Tinggi: (a) Saujana Penerbitan diraih PUZI HADI (Malaysia); (b) Performans Tekal diraih GLP (Malaysia); (c) Bakti Setia diraih TERATAI (Malaysia);  (d) Bakti Mesra diraih NIMOIZ T.Y (Malaysia);  (e) Media Mesra KOPSTAR FM (Malaysia); dan  (f) Semarak Karya diraih MANSOR A. HAMID (Malaysia).  

Anugerah Penulis Harapan kemudian diraih S. IQRAM (Malaysia) dan  MUDIN (Malaysia), sedangkan Anugerah Penulis Siber Harapan dipercayakan kepada SCHWARZENMAN (Malaysia).

Belum ada nama saya dalam sekian puluh penerima anugerah dan saya memang tidak menyiapkan diri untuk menerima anugerah. Saya secara pribadi datang bukan karena ingin mendapatkan anugerah. Akan tetapi, untuk menghadiri HesCom dan memberi selamat secara langsung kepada para penerimanya. Memberi apresiasi tinggi kepada eSastera yang istiqomah menjalankan program-programnya.

Tinggal 2 Anugerah,  Anugerah Cerpenis Alam Siber dan Anugerah Penyair Alam Siber. Pada dua anugerah terakhir ini pun, saya tidak banyak berharap. Meski saya siap-siap mendengar sekaligus memberikan selamat kepada penerimanya. Terutama penerima Anugerah Penyair Alam Siber yang merupakan anugerah utama dan berhak membawa Piala Bergilir atau dalam bahasa Malaysia, Piala Pusingan.

CITRANALIS (Malaysia) dengan cerpen bertajuk "Pelabuhan Senja" mendapatkan posisi pertama dalam Anugerah Cerpenis Alam Siber. Disusul oleh IBNU DIN ASSINGKIRI  dengan cerpennya yang bertajuk "Puisi Merdeka". Cerpen saya yang bertajuk  "Al-Haq" mendapatkan posisi ketiga.

Tidak dipungkiri, saya sangat gembira. Menerima posisi ketiga dalam menulis cerpen bagi saya luar biasa. Mengingat, masyarakat umum mengenali saya sebagai penulis puisi atau yang biasa disebut dengan 'penyair'. Sesekali menulis esai sebagai tanggapan atau apresiasi saya terhadap karya sastra dan kehidupan sosial-politik--sosial-budaya manusia.

Tinggal-lah satu pengumuman yang paling ditunggu-tunggu, Anugerah Penyair Alam Siber. Mata saya berlompatan dari satu wajah ke wajah yang lain. Memperkirakan, siapa gerangan yang akan mendapatkan anugerah paling bergengsi dalam HesCom dan membawa pulang piala bergilir juga uang tunai Ringgit Malaysia yang cukup besar. Saya dalam keadaan tersebut, tentu tidak berharap besar menjadi penerimanya, karena para sastrawan yang menjadi nominator adalah abang, kakak, dan guru-guru saya.

Pembawa acara secara perlahan-lahan membuka amplop berisi nama penerima anugerah. Perlahan-lahan sekali membaca "Anugerah Penyair Alam Siber". Mata saya masih berputar di antara wajah-wajah bersahaja, di antara wajah-wajah itu, saya yakin satu di antaranya adalah penerima anugerah utama itu. Dan... betapa terkejutnya saya, ketika pembawa acara menyampaikan, "Penerima Anugerah Penyair Alam Siber dalam HesCom eSastera tahun 2014 adalah Muhammad Rois Rinaldi!"

Sempat tertegun beberapa detik, nyaris tidak percaya saya mendapatkan anugerah utama. Prof. Dr. Irwan Abu Bakar telah menunggu di atas panggung. Dengan sedikit gemetar dan rasa haru, saya naik ke panggung. Sebagai orang Indonesia pertama yang Menerima Piala Bergilir HesCom. "SubhanAlloh wal hamdulillah!" seruku dalam hati.

Terima kasih untuk eSastera atas apresiasi dan anugerah yang luar biasa ini. Saya gembira dan berusaha menanggapi dengan profesional.

Siapa yang berhak mengambil piala bergilir pada HesCom 2015?

Mari berkarya!

Share this: