image1 image2 image3

HELLO I'M Muhammad Rois Rinaldi|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I LOVE TO DO CREATIVE THINGS|

ISYARAT KEABADIAN DALAM PUISI-PUISI DIANI

ISYARAT KEABADIAN DALAM PUISI-PUISI DIANI
Oleh Muhammad Rois Rinaldi

Firasat yang menjadi isyarat sesungguhnya bukan hal yang transenden di dalam diri seorang manusiaapa lagi bagi seorang penyair, yang memiliki keteguhan berpikir, merenung, dan memahami segala hal yang dihadapi dan dirasakankarena  sejatinya setiap manusia memiliki dasar-dasar kebatinan untuk membaca alam semesta: simpul-simpul kehidupan, uraian-uraian waktu, serta rahasia-rahasia yang tertutup dan terbuka.  Tidak terkecuali membaca apa saja yang ada di dalam diri manusia yang mempribadi. Maka, tidaklah terlalu mengherankan jika kemudian banyak puisi peninggalan penyair yang seolah-olah sebagai ramalan masa depan, sebut saja Chairil Anwar. Ia yang pernah menulis puisi  YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS: //Kelam dan angin lalu mempesiang diriku, / menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin, / malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu / Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin...//, sebelum ia menghembuskan napas terakhir pada  28 April 1949, setelah sempat dirawat selama lima hari di CBZ (sekarang RSCM) karena penyakit TBC yang menahun diderita.

Serupa Chairil, seorang penyair perempuan yang aktif di Komunitas puisi 2,7 juga meninggalkan puisi-puisi sarat firasat yang mengisyaratkan kepada pembaca bahwa akan ada sesuatu yang terjadi pada diri sang penyair di kehidupannya. Tidak hanya itu, isyarat tersebut kemudian menjadi isyarat pewanti-wanti umum yang menjadi kepastian bagi setiap tubuh, bagi setiap ruh. Diani Noor Cahya, penyair yang menghadap Tuhan pada tanggal 2 Agustus 2014 ini, berhasil mengalirkan isyarat kehidupan dan kematian memalui beberapa puisi yang ia publikasikan di grup 2,7 ke dalam diri pembaca. Sehingga melahirkan kesinambungan kesadaran akan hakikat dunia dengan kefanaannya serta hakikat alam akhirat dengan kekekalannya. Kemudianmeski puisi bukan kitab sucipembaca (semoga) tercerahkan, untuk tidak melulu bergelut dengan keduniaan melainkan harus ada keseimbangan antara dunia dan akhirat, karena langkah manusia sungguh hanya tinggal menghabisi sisa sebelum akhirnya menghadap Sang Pemilik kehidupan:

LANGKAH TERSISA
      : jalan berliku menuju-Mu [3]

kulintasi garis-garis waktu
kepada fitrah, aku menuju

Diani Noor Cahya, Rahim_Imaji, 300614

Puisi Langkah Tersisa merupakan satu hasil dari perenungan mendalam mendiang Diani Noor Cahya (kemudian disingkat: DNC) dalam memosisikan diri saat berhadapan dengan diri yang kapan saja bisa menjadi mesin perusak paling ganas, di hadapan alam semesta, dan di hadapan segala kehendak Tuhan. Bahwa kehidupan sejatinya sebuah perjalanan, dalam perjalanan segala kemungkinan bisa saja terjadi. Dari pilihan-pilihan sulit, tidak sedikit manusia yang mengambil langkah yang bertentangan dengan fitrahnya. Kemudian, melalui puisi di atas, DNC menyampaikan warta, betapa ia telah memahami esensi langkah: menuju dan tujuan terbaik adalah ke pelukan Tuhan. Pemahaman tersebut tentu saja tidak tiba-tiba muncul. Ia meritusi betul jalanan yang senantiasa berliku, segala permaian dunia yang melingkar-lingkar kadang menjerat matahati manusia menuju jurang-jurang kegelapan, dan segala jebakannya. Hal tersebut tersirat pada anak judul yang ia sematkan: jalan berliku menuju-Mu.

Selain pemahaman yang dapat ditangkap, ranah keyakinan juga sangat kuat menjadi pendorong utama baginya menulis Langkah Tersisa. Ketenangan dan nuansa tenteram yang ditiupkan ke dalam ruh puisi tersebut menandakan bahwa  DNC percaya, Tuhan akan menyambutnya dengan cara paling indah. Keyakinan ini sejalan dengan hadist Rasulullah Shalallhualaihi Wasallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radiallahu anhu: ... Apabila ia mendekati-Ku sejengkal Aku mendekatinya satu depa. Apabila ia mendekati-Ku satu depa Aku mendekatinya satu langkah. Dan apabila ia mendatangi-Ku dengan berjalan Aku akan mendekatinya dengan lari kecil. Jika sudah demikian, apalagi yang perlu ditakuti? Kira-kira begitu yang diyakini oleh DNC.


Penyambutan kematian yang diungkapkan DNC ini termasuk tidak lazim, mengingat kematian masih dianggap sesuatu yang mengerikan dan mengharukan. Karena kematian akan sanggup memutuskan eksistensi manusia di antara manusia hingga keberadaannya menjadi tiada, jika dilihat dari aspek pandangan mata telanjang. Ketakutan kebanyakan manusia pada kematian boleh dibilang didasari oleh ketidaktahuan mengenai nilai-nilai kematian, dilihat dari kacamata agama. Semua agama mengabarkan kematian sebagai satu proses pasti yang indah. Gerbang menuju keabadian di sisi Tuhan. Keindahan kematian yang menjadi gerbang pertemuan manusia dengan Tuhan selaras dengan sifat dasar manusia yang sememangnya difitrahkan berketuhanan. Paham ini akan lain tentunya, jika melirik paham atheis yang menganggap kematian sebagai peristiwa alam yang tanpa ada keberlangsungan setelahnya. Ketidaklaziman tersebut juga merupakan kelebihan DNC, karena memang puisi tidak boleh terjebak dalam kelaziman. 

Pada larik pertama:kulintasi garis-garis waktu, DNC, menerapkan kata-kata yang cermat dan tepat. Waktu yang dikaitkan dengan perjalanan manusia merupakan pasangan serasi yang saling memberi peringatan agar manusia tidak menjalani kesia-siaan. Urgensi waktu pula diisyaratkan oleh Tuhan yang bersumpah atas nama makhluk-Nya, atas nama waktu. Karena waktu perdetiknya tidak akan kembali, ia adalah anak panah yang terlepas dan menghitung maju hingga langkah manusia sampai pada suatu ketika yang telah diketahui dan yakini bersama. Barangsiapa sanggup memanfaatkan waktu, maka waktu akan menjadi sahabat yang setia dengan manfaatnya. Sebaliknya, waktu adalah musuh paling mengerikan bagi manusia yang tidak sanggup memanfaatkanya dengan baik. Tidak ada yang ditampik atau menampik. Kita yang bermula dari tiada akan kembali dalam ketiadaan.

Meski pada anak judul DNC sudah membuka sinyal bagi pembaca tentang akan kemana jalan yang digambarkan melalui larik pertama itu diarahkan. Ia menulis kembali kata menuju pada larik terakhirsemua penyair tahu, larik terakhir merupakan pamungkas bagi setiap puisi dengan gaya dan pola apapun— “kepada fitrah, aku menuju. Sekilas seperti kemubajiran, lantaran baik anak judul maupun larik kedua sama-sama menulis simbol utama, menuju. Kemudian, setelah ditelaah lebih dalam, pilihan DNC untuk kembali menuliskan menujutepat juga. Sebagai penekanan bahwa ia benar-benar sedang menuju. Dari awal hingga akhir tidak lain tidak bukan hanya menuju. Pun, pola penulisan menuju pada anak judul berbeda dengan menuju pada larik terakhir. Pada anak judul penyematan objek Musecara terang benderang mengarahkan pada Tuhan. Sedang pada larik kedua objeknya bukan pada Mu, ianya ditujukan kepada fitrah, siapa atau apa yang dimaksud oleh DNC dengan fitrah?

Ibn al-Qayyim dan Ibnu Katsir, mengutarakan fitir artinya menciptakan, maka fitrah berarti keadaan yang dihasilkan dari penciptaan itu. Menurut hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, fitrah adalah awal mula penciptaan manusia. Sebab lafadz fitrah yang dikemukakan oleh al-Quran konteksnya selalu berkaitan dengan manusia. Dari pemaparan di atas, ditemukanlah korelasi antara anak judul dan larik keduaselain  sebagai bukti tidak adanya pemborosan, melainkan inilah estetika makna yang  berhasil diciptakan oleh DNCbahwa manusia harus kembali sebagaimana awal penciptaannya, yakni kembali suci dan kembali pada Pencipta.

Sebelum DNC menulis puisi Langkah Tersisa ia telah menulis puisi yang menunjukkan persiapan yang begitu matang, baik lahir maupun batin. Kematangan persiapan tersebut kembali menekankan kepada pembaca, bahwa penyair yang bersangkutan sungguh-sungguh telah menangkap isyarat akhir kehidupannya: simpul-simpul, uraian-uraian waktu, serta rahasia-rahasia yang tertutup dan terbuka disampaikan dari hati melalui lisan sebelum ia menjadi:

DUA BARIS TUJUH KATA UNTUKMU
      : jalan berliku menuju-Mu [2]

hati dan lisan bersyahadat
menjingkati tujuh langitMu

Diani Noor Cahya, Rahim_Imaji, 280614
Di kehidupan kita, apa lagi pada zaman yang konon terjebak dalam ritus meterialism ini. Antara hati dan lisan kerap tidak sejalan. Lisan menyampaikan B hati menyampaikan Z. Bahkan tidak jarang saling bertentangan dan saling mengingkari. Itulah sebab, tidak banyak manusia yang berhasil menyelaraskan lisan dan hatinya. DNC di larik pertama pada puisi DUA BARIS TUJUH KATA UNTUKMU menulis: hati dan lisan bersyahadat. Kembali pembaca disuguhkan pada pemahaman yang tepat dan akurat. Syahadat berasal dari bahasa arab, secara etimologi (bahasa) mengandung makna Persaksian; perjanjian. Dilihat dari pengertian terminologi (istilah): Persaksian atau perjanjian seorang hamba kepada Allah dan Rasul-Nya.

Merunut arah pandang dan ruang renung seorang DNC,  ia rupanya memasuki pemahaman tentang sesuatu yang berawal dari kesaksian berakhir dengan kesaksian. Kesaksian yang dimaksud tidak semata lisan melainkan harus datang dari hati, karena syarat mutlak dari kesaksian (syahadat) adalah mengikutkan hati dan lisan kemudian diaplikasikan dalam perbuatan. Berkaitan dengan syahadat, manusia sebelum kehidupan di dunia berada di alam arwah. Di alam tersebut, ada pertemuan paling romantis antara Tuhan dan ruh manusia. Alam dimana tidak ada siapa-siapa di antara seorang hamba dengan Tuhannya. Tanpa perantara, kesaksian seorang hamba berlangsung dengan indah di hadapan Tuhan. Inilah yang disebut seorang hamba memurnikan kembali ruhnya sebagaimana sebelum ditiupkan ke badan yang sebatas rangka.

Berlanjut ke larik kedua:menjingkati tujuh langitMu, DNC menggunakan imbuhan me-i dalam kata jingkat merupakan pilihan yang tepat. Tidak menggunakan imbuhan me-kan atau ber-an, misalnya. Karena dengan menggunakan imbuhan me-i DNC ingin mengatakan bahwa ada proses yang ia lalui untuk mensyahadatkan jiwanya secara utuh menyeluruh. Karena imbuhan me-i  berfungsi membentuk kata kerja aktif intransitif menjadi kata kerja transitif yang menyatakan beberapa hal, pada larik tersebut, me-i berfungsi untuk menyatakan pekerjaan yang berulang-ulang. Dengan demikian jingkat yang memiliki arti berjalan jinjit atau berjalan dengan kaki yang tidak seimbang dapat dimaknai sebagai proses perjalanan yang membutuhkan perjuangan, ia lakukan berulang-ulang untuk sampai langit. Dengan berjingkat sekali pun, langit Tuhan akhirnya dituju jua oleh DNC.

Sebelum sampai pada pemahaman tentang syahadat dan jalan menuju Tuhan, DNC sebelumnya menulis tentang arah. Sebagai manusia biasa, penyair ini menimbang, memilah, dan memilih jalan yang akan ia lalui:

KE ARAH SINGGASANA-MU
     : jalan berliku menuju-Mu [1]

rotasi tasbih seisi bumi
melisan do'a-do'a, melangit

Diani Noor Cahya, Rahim_Imaji, 280614

Membaca puisi di atas seperti melihat seorang manusia yang memutuskan untuk bertapa dan meninggalkan huru-hara di tengah hiruk-pikuk manusia di kehidupan fana. Bahwa segalanya kemudian akan berpusat dan berpusar pada satu titik: rotasi tasbih seisi bumi.

Yang dimaksud oleh larik pertama adalah segala yang ada di bumi akan bertasbih. Sesuai dengan pernyataan Allah dalam QS.59 Al-Hasyr: Bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Lantaran puisi tidak mungkin menghambur-hamburkan kata, dengan kata lain cukup satu  simbol untuk merangkum semua hal yang mesti masuk, maka tasbih di sini bisa disandingkan dengan tahmid, tahlil, dan takbir yang kesemuanya hak milik Allah.

Kemudian pada larik kedua DNC menulis: melisan do'a-do'a, melangit, tartil sekali. Setelah bertasbih, bertahmid, bertahlil, dan bertakbir, ianya sebagai manusia yang mengakui segala kemahaan Allah memanjatkan doa-doa. Kata melangit bukan semata dimaknai sebagaimana langit yang dipahami kebanyakan orang. Melangit adalah meninggikan doa, dengan pengertian lebih lembut, yakni mengangungkan doa. Mengapa harus doa? Mengapa tidak melangitkan yang lain, keluh kesah misalnya?

Doa merupakan iktikad baik manusia yang meyadari posisinya yang lemah lagi tidak berdaya. Ketidakberdayaan tersebut tidaklah layak dijadikan alasan berkeluh kesah, karena lemahnya manusia sesungguhnya sangat kuat. Kekuatan tersebut datang dari Sang Maha Kuat. Maka tidak ada jalan selain berdoa kepada yang Maha Kuat. Bahkan saat hendak menghadapi kematian, sungguh manusia membutuhkan kekuatan dari Allah, agar selamat dari kemungkinan kematian yang buruk.

Peranan puisi KE ARAH SINGGASANA-MU sangat penting dan paradigmatik. Puisi tersebut tidak semata lahir sebagai puisi yang selesai ditulis melainkan menjadi cikal bakal beberapa puisi yang ia tulis menjelang akhir kehidupannya. Logika ditempatkan sebagai ruang bagi DNC untuk mengkaji lika-liku jalan kehidupan. Dari hal-hal renik hingga kemahaan yang Maha. Kemudian kebatinan ia gunakan sebagai penguat keyakinannya pada satu pilihan terakhir yang pasti. Inilah yang kerap saya kelompokkan dalam filsafat alami. Filsafat yang tidak lagi ewuh pekiwuh dalam teori-teori ke-filsafat-an, melainkan sudah menjadi ruh dalam kedirian seseorang. Kemeleburan paham filsafat itu tampak jelas dari berbegai pilihan yang diambil DNA yang ia gambarkan dari tiga puisi di atas. Pernyataan tersbut tidak dengan tujuan menahbiskan DNC sebagai seorang filsuf. Ia tetap perempuan, seorang hamba biasa yang mencintai Tuhan dengan cara dan kesanggupannya sendiri.

Konsistensi Diani

Lazimnya, tidak mudah menelisik puisi-puisi dari penyair tanpa data pribadi yang memadai. Karena bicara puisi dan penelisikannya, itu berarti bicara penyair secara personal. Ini dikenal dalam dunia pendidikan dengan unsur ekstrinsik. Unsur yang menjadi latar belakang eksternal sebagai cikal bakal semua karya seorang penyair. Sebut saja puisi Widji Tukhul, akan mudah menelisiknya dengan mengetahui siapa Widji Tukul dan bagaimana keadaan sosio-politik-kebudayaan semasa puisi itu ditulis. Persoalan tersebut ternyata tidak terlampau berlaku ketika menelisik karya-karya DNC.

Kesinambungan pikiran serta hasil renungannya begitu runut, seperti jalan yang saling menyambung untuk sampai pada kedalaman puisi-puisinya. Ia sengaja menciptakan puisi berjenjang dari kesadaran yang juga berjenjang. Di atas dinyatakan bahwa puisi KE ARAH SINGGASANA-MU diciptakan lebih dahulu dibandingkan dengan puisi LANGKAH TERSISA dan puisi DUA BARIS TUJUH KATA UNTUKMU diciptakan paling terakhir. Pernyataan tersebut bukan tebak-tebakan ala menebak manggis atau ramal meramal, melainkan DNC telah memberikan informasi tersebut dengan sangat gamblang, perhatikan sub-judul yang ia terakan secara berturut-turut di dalam tiga puisi tersebut:  jalan berliku menuju-Mu [1],  jalan berliku menuju-Mu [2], dan jalan berliku menuju-Mu [3]. Tanda kurung yang disematkan menadakan puisi satu tema, satu pemikiran, dan berkesinambungan telah diciptakan oleh DNA. Angka 1 adalah puisi yang lebih awal dibuat dan seterusnya hingga angka 3. Waktu pembuatan juga memberi informasi yang cukup untuk menemukan kesinambungan DNA dalam menulis puisi-puisi yang bertema sama dengan pemahaman yang berjenjang: 280614, 280614, 300614.

Dikatakan berjenjang, karena jika ditelisik dari puisi pertama hingga puisi ketiga seperti ada peningkatan nilai keimanan yang kian membuat. Pada puisi pertama, DNC baru menerka-nerka akan kemanakah ia melangkah dan sampai di manakah nanti akhirnya. Kemudian puisi kedua DNC telah yakin untuk memilih, bahwa segala harus dipulangkan ke alamat yang benar. Terakhir, puisi ketiga adalah DNC yang siap untuk pulang dengan sebenar-benarnya pulang.

Luasnya pemahaman DNC yang dipadatkan sedemikian rupa dalam puisi yang menggunakan pola super irit (2,7) juga layak diapresiasi sebagaimana mestinya. Karena ia sebagai penyair telah berhasil mengaplikasikan kekuatan puisi melalui ekspresi yang esensial: padat pada kata dan akurat pada makna. Hal tersebut dilantari oleh kemampuan DNC mempertahankan subject-matter (tema) yang menggambarkan betapa ikhlasnya DNC dalam menyikapi kemungkinan terbaik yang akan ia hadapi. Bahwa ia yang menderita sakit dan sempat dirawat di Rumah Sakit harus menerima kematian sebagai akhir dan awal baginya. Perasaan yang kuat dan pekat dengan konsisten dituangkan melalui kata-kata sederhana. Selain itu, ketiga puisi tersebut dapat juga dijadikan ukuran bahwa DNC menulis berdasarkan keyakinannya sebagai muslimah yang kaffah (dalam pengertian tertentu). Perhatikan istilah-istilah Islam yang ditebalkan: kepada fitrah, aku menuju (LANGKAH TERSISA, hati dan lisan bersyahadat (DUA BARIS TUJUH KATA UNTUKMU), dan rotasi tasbih seisi bumi (KE ARAH SINGGASANA-MU).


Konsistensi DNC dalam menggunakan istilah sebagaimana keyakinannya, layak disambut bahagia. Mengingat tidak sedikit penyair kekinian yang tidak jelas apa keyakinannya jika dilihat dari karya-karya yang diciptakan, karena campur aduknya istilah yang berkecenderungan dengan agama. meski mengenai puisi bukan bicara agama, akan tetapi budaya, agama, dan keadaan sosial merupakan unsur pembangun dari kedirian seorang penyair. Semakin tidak jelas istilah keagamaan yang dipakai maka semakin tidak diketahui arah keyakinannya, sekali pun Chairil dengan penggunaan Ahasveros atau beberapa puisi Indonesia semi filsuf semi hinduismenya. Meski juga harus dihati-hati (untuk tidak menimbulkan debat kusir yang antiproduktif), bahwa puisi tidak begitu saja dimutlakkan sebagai satu-satunya indikator mengukur keyakinan seorang penyair. Karena salah satu yang terbaik dari manusia adalah berpikir dan jalan pikiran yang terus berproses akan menemukan hal-hal baru yang tidak begitu saja dapat disimpulkan. Paling tidak, berpikir menjadikan manusia eksis: manusia berpikir, mencari, bertanya, menjawab, berpikir, bertanya, menjawab, dan kembali berpikir. Jadi tidak ada yang benar-benar salah, selain yang tidak mau berpikir dan mencari.

Dimuat di buku Jalan Berliku Menuju-Mu, Bengkel Publisher, Oktober 2014 

Share this: