image1 image2 image3

HELLO I'M Muhammad Rois Rinaldi|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I LOVE TO DO CREATIVE THINGS|

ELEGI KEBEBASAN PUISI

ELEGI KEBEBASAN PUISI
Oleh Muhammad Rois Rinaldi


Kebebasan adalah cita-cita setiap manusia. Sebagaimana Bangsa ini pernah bercita-cita menjadi bangsa yang bebas di masa kolonial hingga kemudian kebebasan itu diraih melalui proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, terlepas hari ini kemerdekaan itu masih dipertanyakan kebermaknaannya, lantaran  konon Bangsa Indonesia masih dijerat berbagai kepentingan dunia.

Kebebasan pula menjadi cita-cita bagi setiap penyair—bebas dari bayang-bayang penyair sebelumnya, bebas dari kepungan karya di masa lalu dan sebagainya dan sebagainya. Dari cita-cita tersebut, lahir berbagai karya dengan teknik dan gayanya masing-masing, yang terus berkejaran mencari kebaruan-kebaruan yang diyakini tidak sama sekali berpijak dari unsur kekaryaan yang telah ada sebelumnya.  Tentu saja hal tersebut dimaknai sebagai usaha dan usaha selalu dihadapkan pada dua kemungkinan, yakni berhasil dan gagal atau belum berhasil dan belum terlihat mutlak kegagalannya.

Di abad sekarang ini, perkembangan puisi boleh dikatakan berhasil keluar dari pola olah penyair Angkatan Pujangga Lama dominasi oleh syair, pantun, gurindam dan hikayat. Di Nusantara, budaya Melayu klasik dengan pengaruh Islam yang kuat meliputi sebagian besar negara pantai Sumatera dan Semenanjung Malaya. Di Sumatera bagian utara muncul karya-karya penting berbahasa Melayu, terutama karya-karya keagamaan. Angkatan Sastra Melayu Lama, Angkatan Balai Pustaka, Angkatan Pujangga Baru, atau Angkatan 1945 yang digawangi oleh Chairil Anwar.

Sungguh tidaklah salah, perubahan demi perubahan terjadi dari generasi ke generasi. Hal tersebut menandakan manusia terus berpikir dan bertindak secara agresif—biasanya  akan mengikuti ritme zamannya. Lantas seperti apa perkembangan puisi hari ini dan apa yang menjadikannya lain dengan puisi-puisi generasi sebelumnya?

Tanpa diperhatikan dengan serius sekalipun, sudah dapat ditangkap betapa puisi-puisi yang hari ini disuguhkan para penyair didominasi oleh puisi prosais dan cukup tidak mudah menemukan puisi yang memiliki larik dengan rima dan metrum terjaga yang juga menjaga intensitas bunyi dalam puisi. Sudah lewat masa (sepertinya) gaya syair, pantun, gurindam dan sejenisnya. Tetapi meski demikian, dicurigai ada ketidaksanggupan penyair hari ini untuk benar-benar melepaskan diri dari gaya masa lalu. Minimal cara mengkiaskan atau cara mengalihkan suatu objek ke objek lainnya untuk sampai pada satu pesan atau makna.

Kemudian persoalan semakin takkaruan junstrungannya, tidak sedikit yang kebingungan (untuk tidak mengatakan sama sekali tidak paham) mengenai puisi yang dibaca. Antara puisi dan prosa, di mana benang merahnya? Pertanyaan ini semakin aneh rasanya untuk diajukan saat menoleh karya Denny JA yang mengusung Puisi-Esai yang kemudian diklaim sebagai puisi dengan gaya terbaru. Kebaruan tersebut rupanya diamini oleh sebagian besar penyair ternama negeri ini, sebut saja Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, Jamal D Rahman, Acep Zamzam Noor, dan sebagainya. Protes datang dari depan, belakang, kanan, dan kiri—protes tersebut tidak lain tidak bukan mengenai Puisi-Esai yang tidak relevan dikelompokkan dalam golongan puisi. Ada yang mengatakan bahwa Puisi-Esai bukan puisi tetapi esai yang dibuat seolah-olah puisi.

Pergolakan tersebut sebenarnya tidak serta merta datang dari Denny JA atau datang di tahun 2013-2014 semata. Melainkan datang semenjak munjamurnya puisi prosa—puisi yang memiliki keendrungan prosa dilihat dari sintaksinya. Adapun kecerobohan Denny JA merupakan satu contoh dari akumulasi ketidaksadaran masyarakat terhadap puisi yang lagi-lagi dikembalikan pada gaya yang dipilih kebanyakan penyair. Tentu harus dimaklumi, lantaran Denny JA bukan penyair melainkan praktisi politik.

Hal lain yang dapat direkam adalah kemunculan penyair-penyai muda yang masih demen menulis puisi prosa. Hal ini ditandai sebagai satu kemandegan, lantaran jika benar setiap manusia memiliki cita-cita kebebasan, mestinya penyair muda yang merupakan generasi penerus dari generasi sebelumnya berani membuat karya yang berbeda. Entah kelak disebut Puisi-Rapat-padat lantaran puisi-puisi yang diciptakan sangat selekti kata dan tidak mau menggunakan konjungsi dan pungtuasi di dalamnya. Bisa juga lahir puisi Lebar x Panjang, lantaran puisi yang diciptakan melebihi panjang cerpen atau novel? Pernyataan tersebut sepintas memang tampak konyol, akan tetapi apa yang tidak mungkin terjadi di bumi tempat manusia melakukan banyak hal ini?

Sebelum terlampau jauh, sebaiknya kembali diajukan pertanyaan klasik yang sepertinya penting dan genting untuk ditemukan jawabannya. “Apakah puisi itu?”

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjawab sebagai berikut: 1) Ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait; 2)gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus; 3) sajak.  

Definisi tersebut meski dari KBBI mesti ditelaah kembali (konon KBBI masih terus diperdebatkan terutama lantaran jarangnya meng-update tatabahasa).

1.     Definisi pertama, ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Definisi ini cukup membantu memberikan batasan antara puisi dan prosa. Lantaran istilah prosa didefinisikan sebagai karangan bebas (tidak terikat oleh kaidah yang terdapat dalam puisi).

2.     Definis kedua, gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus. Definisi kedua ini siatnya sangat umum dan membingungkan. Semua karya sastra bahkan yang bukan karya sastra semisal berita harian juga menyangkut penataan bahasa yang cermat dan tidak boleh meleset dari kebutuhan. Katakanlah 5W+H mesti ada dalam sebuah berita yang jelas-jelas dijadikan dasar penulisannya.

3.     Definis ketiga, sajak. Kemudian definis sajak dalam KBBI lengkapnya begini: 1) gubahan sastra yang berbentuk puisi; 2) bentuk karya sastra yang penyajiannya dilakukan dalam baris-baris yang teratur dan terikat; 3) gubahan karya sastra yang sangat mementingkan keselarasan bunyi bahasa, baik kesepadanan bunyi, kekontrasan, maupun kesamaan; 4 patut; kena; cocok. Dalam sajak diklasifikasikan berdasarkan pola kalimat dan rimanya, seperti 1) awamatra, tidak terikat pola rima atau pola normatif lain;  2) awarima sajak yang tidak berima; 4) delapan seuntai, sajak yang terdiri atas delapan larik dalam satu bait; oktaf, dan masih banyak lagi kelasnya. Dengan demikian, kelas-kelas dalam sajak tersebut masuk golongan puisi lantaran definis puisi adalah definis sajak. Pertanyaannya, apakah definisi sajak adalah definisi puisi? Sepertinya iya, jika tidak, tentu harus dikoreksi agar tidak membingungkan. 

Jika dilihat dari semua definisi yang ada, di manakah definisi yang dapat menyelamatkan puisi prosa agar tidak digugat keberadaannya sebagai kelompok puisi dan tidak dimasukkan dalam kelompok prosa?

Begini definisinya: puisi bebas adalah puisi yang tidak terikat oleh beberapa aturan khusus, yaitu jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata tiap baris, sajak, irama, ritma dan pilihan kata. Dalam menulis puisi bebas yang penting perasaan penulis dapat terekspresi dalam bentuk kata-kata yang tepat sehingga menghasilkan makna yang tajam dan mendalam.

Definisi tersebut tidak ditemukan dalam KBBI, melainkan ditemukan dalam berbagai obrolan, paper, bahkan di berbagai blog. Ketidakjelasan definisi tersebut rupanya menjadi latar belakang mengapa tidak sedikit penyair yang terjebak pada puisi prosa. Pun meski demikian, hal ini disampaikan tidak dalam rangka menggugat penyair-penyair puisi prosa atau mengatakan bahwa puisi prosa bukan puisi. Hanya sedikit mempertanyakan apa gerangan yang menjadi sebab musabab kerancuan pemahaman masyrakat terhadap puisi—kalau penyair tentu tidak bingung menyoal ini, karena semua sudah menjadi pilihan yang mendasar. Walau para penyair juga sulit menampik, seperti tengah menghadapi jalan buntu untuk menemukan puisi yang benar-benar baru di hari ini—paling tidak menunjukkan krativitas yang berani dan mumpuni.

MEMBACA PUISI-PUISI DI RUANG REKONSTRUKSI

Sederhana saja, wacana mengenai puisi dan prosa atau puisi prosais dirasa perlu dipaparkan saat membaca puisi-puisi yang masuk melalui email dan hampir keseluruhan (untuk tidak menyatakan semua) mengirimkan puisi prosais. Apakah hal tesebut salah? Sekali lagi, dalam kesempatan ini tidak sedang menyalahkan satu pihak dan menyalahkan pihak lain. Sekadar membaca dan mencari perbandingan.

Dimulai dari karya Muhammad Asqalani eNeste  yang berjudulperjalanan bunuh diri.”, betapa sulit menemukan titik terang di antara puisi atau prolog sebuah prosa. Begini cara Asqalani menulis karya yang disebutnya sebagai puisi:

menempuh perjalanan sejauh birahi. duhai lelah seluruh kelamin sunyi. gonta ganti desah di setiap mimpi. kembara babi babi. kembali kelinci suci bertapa ke luar gua diri. di jantung pisau yang sungsang. keputusasaan menyarang. Tuhan menyeberang ke lautan darah biru. darah nafsu yang piatu. Laa Haula..

Penyair muda asal Riau ini bukan anak baru dalam kancah percaturan sastra Indonesia. Ia termasuk paling rajin mengisi rubrik puisi di media cetak baik lokal mau pun nasional. Lantaran itu, tiba-tiba terasa getir untuk menyatakan karya tersebut bukan puisi.

Disusul oleh seorang siswa kelahiran 1998 (berjarak 10 tahun dengan Asqalani yang lahir pada 1988) bernama Dzikri Rahmanda. Dalam puisi berjudul “GUNDAH DI SELA TELINGAMU”  ia menulis begini:

Riuh kesepian di heningnya malam akan selalu terlihat sama bagimu. Entah hujan yang menahan kabar bahagia atau memang kepedihan tak bisa terelakkan. Sampai pada saat sepasang telingamu merasa terusik dengan detik jarum jam yang keram, kau mendengar seribu suara berlomba, termasuk suara semacam gundah yang menuju sela telingamu.

Di paragraf sebelumnya, sempat disinggung mengenai jarak usia antara Asqalani dan Dzikri, 10 tahun tentu bukan jarak yang dekat. Akan tetapi puisi yang diciptakan keduanya sangat dekat dan memiliki pola yang sedikit mirip (untuk tidak menyatakan sama-sama puisi prosa). Artinya, ada hal yang tidak berkembang sebagaimana mestinya. Satu dekade mestinya memberikan perubahan yang berarti dalam hal apapun, tidak terkecuali dengan puisi. Adapun perbedaan mencolok di antara keduanya adalah penggunaan Licentia Poetica. Asqalani tampk lebih berani menggunakan Licentia Poetica dalam puisinya. Hal tersebut sangat kentara dengan tidak adanya huruf kapital dalam puisinya terkecuali untuk penyebutan ‘Tuhan’, sementara Dzikri berusaha menggunakan perangkat bahasa yang baik dan benar.

Lain hal dengan karya Susilawati, siswi SMP Al-Jauharotunnaqiyah Pegadingan ini lebih memilih tidak menulis puisi prosa. Puisi-puisi sederhananya tampak lebih ketat dalam menggunakan kata sebagai mediator pesan, ia menulis begini melalui puisi berjudul “NUANSA”

Seonggok jamur di helaian jerami
akar-akarnya terlepas dari seratnya
sedang bunga-bunganya menguncup
dengan dingin yang merangkul.

Sekumpulan bangau di atas kerbau
suaranya memanggil-manggil angin
tatapan matanya jatuh ke lumpur
dicuri belut dan dimakan ular kadut.

Perkaranya kemudian, bagaimana jika puisi di atas dibongkar—tidak lagi berbentuk larik dan baik seperti ini.

Seonggok jamur di helaian jerami akar-akarnya terlepas dari seratnya, sedang bunga-bunganya menguncup dengan dingin yang merangkul. Sekumpulan bangau di atas kerbau suaranya memanggil-manggil angin, tatapan matanya jatuh ke lumpur dicuri belut dan dimakan ular kadut

Apakah berlebihan jika muncul dugaan karya tersebut lebih dekat dengan prosa—prosa yang memiliki unsur puisi.  

Share this: